Mohon tunggu...
SRI PATMI
SRI PATMI Mohon Tunggu... Mahasiswa Magister Program Studi Strategi Pertahanan - Dari Bumi ke Langit

Membumikan Aksara Dari Bahasa Jiwa. Takkan disebut hidup, jika tak pernah menghidupi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dulu Namanya Jenglot, Sekarang Kok Spirit Doll ya?

17 Januari 2022   07:20 Diperbarui: 17 Januari 2022   07:24 1255
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Beda zaman, beda cerita. Dulu, heboh dengan adanya jenglot yang disinyalir sebagai jelmaan makhluk hidup berbentuk kecil. Menurut sejumlah sumber dan folklore yang berkembang di masyarakat, jenglot berasal dari Kerajaan di Lumajang. Seorang pemuda yang diperdaya oleh setan dan iblis, alih-alih bisa moksa untuk menghindari urusan duniawi. Begini ceritanya, dulu ada seorang punggawa istana yang memiliki istri cantik dan menarik. Suatu ketika, ia mendapat mandate tugas dari istana. Ia bermimpi istrinya sedang berlari-lari dan berbahagia dengan ayah kandung punggawa tersebut. 

Saat pulang dari mandat tugas, punggawa itu melihat istri dan ayah kandung suaminya sedang berada di halaman belakang. Si ayah berdalih, jika ia hanya menemani istrinya karena takut sendirian. Terpatahkan segala kecurigaan dan mimpinya yang tidak beralasan. Hingga Abdi Istana dan masyarakat heboh dengan desas desus Ayah dan Istri punggawa tersebut, ia penasaran dan pulang lebih awal. Setelah sampai rumah, betapa terkejutnya ketika melihat istri dan ayahnya sedang berhubungan intim. Naik pitam, suaminya mencabut pedang. Sayangnya... si Ayah justru kebal terhadap senjata dan tidak dapat mati. 

Suami dengan segala kesakitannya pergi dan berniat mengakhiri hidup. Berkali-kali ia mencoba untuk mengakhiri hidup tetapi ia selalu teringat dengan wejangan gurunya, jika hidup ini bermakna dan sudah sepatutnya mengambil pelajaran dari segala hikmah yang terjadi. Ia bertemu dengan gurunya untuk belajar moksa. Namun, moksa bukan perkara mudah untuk dilakukan dan bukan hal sembarangan. Setelah keinginannya untuk moksa ditolak, ia bertemu dengan kakek berambut panjang dan putih. Penawaran kakek tersebut hanya sederhana lakukan semedi selama 15 bulan purnama dan moksa akan terlaksana. Tak sampai disitu, sebelum moksa Sang Suami berharap dapat membalaskan dendamnya pada Ayah Kandungnya sendiri. Permintaan tersebut disanggupi dan semedi dijalankan. 

Setelah 15 purnama bersemedi, wujud sang suami menjadi kecil sebesar boneka. Sang suami menuntut mana moksa dan pembalasan dendamnya yang dijanjikan pada kakek tersebut. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, malangnya sang suami itu justru mendapatkan tipu daya setan. Ternyata kakek yang memberikan perintah untuk semedi itu adalah jelmaan setan yang menghasut sang suami ketika diliputi amarah dan dendam. Setan itu menjelaskan, ia hanya dapat mewujudkan impian moksa sang suami kedalam bentuk manusia usia 4 bulan sebelum ditiupkan ruh. Akhirnya, sang suami yang sudah ciut menjadi kecil karena tipu daya setan itu diperalat sebagai boneka dan perantara ilmu hitam untuk menjahati orang lain. Muncul pertanyaan, jika memang jasad sang suami sudah menjadi kecil, mengapa kuku, rambut dan giginya panjang? Berdasarkan hikayat yang ada, bagian tubuh tersebut tidak ditiupkan ruh sehingga ia masih tetap panjang seperti saat jasad masih hidup.

Versi dunia perdukunan, jenglot merupakan makhluk jadi-jadian yang ditugaskan untuk mengantarkan ilmu teluh, santet dan guna-guna. Lebih rinci lagi, jenglot memakan darah manusia bukan nasi selayaknya makhluk jika benar jenglot dikatakan sebagai makhluk. Jenglot digunakan untuk ritual-ritual negatif terhadap orang lain. Jenglot sengaja dipelihara untuk jimat dan upaya untuk melampiaskan dendam dengan cara yang tidak baik. Terlepas dari apapun hikayat cerita dan magisnya jenglot ini, ranah berpikir saat ini adalah bersikap realistis. Apa sih realistis itu? Seimbang antara kehidupan yang nyata dan astral.

Jenglot zaman now, justru bertransformasi dalam bentuk yang lebih menarik, cantik dan representatif selayaknya benda yang disakralkan dan seakan hidup ditengah kehidupan manusia. Spirit Doll namanya, atau bahasa lainnya adalah Boneka Arwah. Heboh saat ini dilakukan oleh publik figure yang mengadopsi spirit doll. Belakangan dikatakan jika spirit doll digunakan sebagai sarana untuk melakukan healing, penyembuhan dan melakukan ritual kebatinan. Fungsinya disamaratakan dengan patung pada altar gereja dan ritual keagamaan. Sebagian pakar mengatakan fenomena spirit doll ini tak lepas dari sikap nurturing atau sikap pengasuhan atau ingin memiliki anak atau garis keturunan.

Dari mana munculnya kebudayaan dan fenomena spirit doll ini? 

Dr Selly Riawanti, antropolog dari Universitas Padjajaran, Bandung mengatakan boneka dijadikan sebagai sarana hiburan, media curhat dan teman disaat kesepian. Dalam artian, boneka memberikan fungsi psikologis kepada pemiliknya. Kontroversi spirit doll ini menemui benturan hebat dari MUI, ulama dan masyarakat umum. Di Thailand, spirit doll mulai viral dari tahun 2015 sampai 2016, boneka Luk Thep dianggap membawa keberuntungan bagi pemiliknya dan dijadikan jimat setelah upacara Plook Sek. Luk Thep dalam Bahasa Thailand disebut sebagai anak malaikat. Jika boneka itu membawa keberuntungan, maka boneka Luk Thep akan dibawa pulang. Tetapi jika membawa keburukan, boneka tersebut akan ditinggal di Kuil Sawang Arom dan diberikan minuman bersoda. Khasiat Luk Thep hidup dari boneka Kuman Thong selama ratusan tahun lamanya.

Sementara di Barat tahun 1900-an, mereka mengatakan boneka yang serupa seperti itu dengan istilah Reborn Doll sebagai alat terapi bagi mereka yang kehilangan bayi. Boneka tersebut dibuat secara micro rooting dengan bahan vinyl yang dipasangi rambut dan kulit seperti bayi sungguhan.

Masyarakat Dulu dan Sekarang? 

Antropolog dari Universitas Indonesia, Iwan Meulia Pirous menyebutkan belum ada teori khusus tentang boneka arwah yang digunakan untuk meningkatkan mood dan healing melalui ritual keagamaan. Kembali lagi kepada keyakinan dan spirit dari pemiliknya, apakah menempatkan suatu objek sebagai metode terapi diri sebagai kaidah dalam berkehidupan? Dalam kondisi seperti ini sebenarnya masyarakat zaman sekarang pun dalam kondisi ketidakpastian meski teknologi sudah meningkat pesat. Masyarakat dulu lebih menyenangi klenik atau objek benda sebagai media ritual, sementara sekarang menekankan rasional atau wujud masyarakat dulu dikemas dalam bentuk yang berbeda?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun