Mohon tunggu...
YR Passandre
YR Passandre Mohon Tunggu... penikmat bacaan

Aku ingin punya negara yang pemimpinnya biasa saja tapi rakyatnya sejahtera.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Masih Kusimpan Ucapmu

18 Oktober 2020   19:04 Diperbarui: 18 Oktober 2020   19:12 82 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masih Kusimpan Ucapmu
Dokumen Pribadi

Ku cari senyum yang tak ku temukan pada paras pagi dan tingkah ombak, hingga maut melukisnya di wajahmu. Langit memutih, nafasmu berhenti pada jeda hujan. 

Saat Tuhan memanggilmu perlahan, aku berjuang melepasmu tanpa tangisan (pada pagi teduh di akhir November haru itu).

Aku tahu, jiwamu lekas tersulut amarah, namun kau pantang memelihara dendam. Sikapmu yang ramah bahkan tak memilih teman, dan kau sangat suka memuliakan tamu. 

Keberanian dan kegigihanmu berpadu seperti gerak kemudi dan layar. Aku tak melihat tekad yang surut di langkahmu.

Sadar akan risiko perjuangan, di perjalanan segala ikhtiarmu kau tetap enggan menyerah dan berusaha sabar menjalani cobaan. Bersyukur menerima setiap keadaan. Kurang harta, kurang ilmu, kau cukupkan dengan niat tulus.

Hampir tiga puluh tahun memimpin sebagai kepala desa hingga menutup hidupmu, kau tak pernah goyah. Kau genggam erat amar ajaran Tuhan, dan tak berhenti mengobar-ngobarkan semangat juang.

"Setiap jengkal usia akan dipertanggungjawabkan, hidup tak boleh disia-siakan." Katamu kala itu. 

Kau amat suka mengutip sabda Rasulullah SAW: sebaik-baik manusia adalah manusia penuh manfaat. 

"Dibenci, disukai, maupun dipuji, semuanya ujian yang tak boleh menghalangi berbuat adil," ujarmu seperti mengingatkan diri sendiri. "Meskipun ujian yang paling berat untuk berbuat adil adalah teman dan keluarga." 

Kau senang bergaul, membaur, kepedulianmu meneduhi orang-orang lemah. Dan kau selalu mengingatkan bahwa kekuasaan hanya untuk melayani dan melindungi.

Ayah, masih ku simpan ucapmu: "Segala kehidupan adalah penantian."

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x