Mohon tunggu...
Parlin Pakpahan
Parlin Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Keluarga saya tidak besar. Saya dan isteri dengan 4 orang anak yi 3 perempuan dan 1 lelaki. Kami terpencar di 2 kota yi Malang, Jawa timur dan Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Silakan: Rapat atau Markombur atau Cangkruk

30 November 2021   13:57 Diperbarui: 30 November 2021   14:24 578
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rapat Paripurna sebuah Clan di Jakarta. Dok: Keluarga Besar Hutanamora Pakpahan Jabodetabek.

Jangan anggap enteng para penulis cepat, atau kalau bisa sih yang tahu stenografi atau bahasa kode anak zaman now. Mengapa? Lha rapat kan urusan bacot membacot yang terstruktur sesuai aturan main dalam rapat. 

Bayangkan lidah itu kan nggak bertulang. Meski sudah kita kasi handout, tapi bacot tetaplah bacot. Itu pasti banyak menghamburkan kata. Ini harus diatur dengan sebaik-baiknya oleh moderator professional dan pencatat rapat professional harus dapat menyaring mana omongan mabok dan mana omongan dari akal sehat.

Katakanlah waktu rapat dibatasi 4 jam dengan jeda 15-25 menit coffee break plus penganan ringan setelah 2  jam pertama, agar tu otak kreatif lagi nanti. Bagi para perokok nah ini kesempatannya, kepulkan asap Dji Sam Soe kalian setinggi-tingginya, apabila perlu dibulet-buletin dalam candaria komunitas rapat untuk menghilangkan stress.

Begitu gabung lagi. Pimpinan kembali mengarahkan rapat sesi terakhir dengan bahasa singkat padat informatif melegakan. Pastikan tak menggunakan bahasa langit. Bahasa sederhana tepat sasaran saja. Itulah pimpinan rapat yang match dengan masa kini yang pastinya berdarah efisiensi.

Profesional dan berbayar

Tak pelak lagi bahwa rapat adalah sebuah media penting dalam pengambilan keputusan dengan mengintegrasikan pikiran-pikiran terbaik dari dialektika sebuah rapat.

Nah, ini semua berpulang kepada komunitasnya, apakah itu paguyuban keluarga, kantor, ormas, bahkan DPR/MPR. Tak ada makan siang gratis bukan. 

Kalau gratisan kita kagak ketemu dengan moderator dan pencatat piawai. Kita tak punya ruang khusus untuk mengelola semua perkembangan kita dari waktu ke waktu dengan sistem Informatika yang diawaki oleh tenaga-tenaga informatika yang professional yang nggak bakal salah lagi salah lagi dalam mendokumentasikan event apapun, termasuk hasil-hasil rapat. 

Kalau rapat keluarga, mungkin masih gratis ya, bergantung ada nggak anggota keluarga yang bersedia mengelola sistem informatikanya. Tapi kalau keluarga sudah menggembung dalam sebuah clan misalnya. 

Ini nggak bisa lagi gratisan jadul-lah. Sebab rapat dan apapun kegiatan kita disitu bukan lagi sekadar cangkruk atau markombur, apalagi ngegosip. Oh no. Itu kultur jadul yang serba meneketehek, lalu menguap begitu saja.

Hal-hal teknis seperti Itu semua harus diawaki tenaga professional dan berbayar. Tanpa itu, monggo lanjutkan kultur cangkruk atau markombur. Mangan ora mangan yo kumpul ae. Urusan belakangan. itu kan makna rapat dari sononya. Hayyoo!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun