Mohon tunggu...
Parhorasan Situmorang
Parhorasan Situmorang Mohon Tunggu... Petualang waktu yang selalu memberi waktunya untuk menginspirasi generasi muda.

Petualang waktu yang selalu memberi waktunya untuk menginspirasi generasi muda.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Romo Mangunwijaya dan Ignatius Kardinal Suharyo

3 September 2019   02:32 Diperbarui: 3 September 2019   07:59 459 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Romo Mangunwijaya dan Ignatius Kardinal Suharyo
Ignatius Kardinal Suharyo, sumber foto: Kompas.com (dokumentasi Keuskupan Agung Jakarta)

Tahun 1997, beberapa bulan sebelum pelantikan Uskup Agung Semarang, Romo Suharyo bertamu ke rumah Romo Mangun di kawasan Mrican Yogyakarta, gang Batara Kuwera nomor 14. Mereka berbincang-bincang asyik dan akrab antara senior dengan junior di ruang tamu yang bercat natural.

Sesudah Romo Suharyo pamit, Romo Mangun menghampiri muridnya, Ado Bintoro, di ruang tengah. Bintoro tidak mengenal sang tamu tadi, lalu bertanya, "Romo, itu tadi siapa tamu yang datang?"

Romo Mangun berkata, "Tamu saya tadi itu adalah Romo Suharyo. Sepertinya beliau bakal menjadi Uskup Agung Semarang."

Bintoro sejenak terdiam. Lalu menyahut, "Iya Romo, sekilas pandangan saya tampaknya Romo Suharyo itu wangun menjadi Uskup Agung. Saat ini bertugas di mana?"

"Beliau saat ini mengajar, dosen di Seminari Tinggi Kentungan. Saya sepakat dengan penilaian kamu Bin, beliau itu pantas menjadi Uskup Agung. Punya karisma, rendah hati, cerdas, arif bijaksana, dan berwajah teduh. Tadi kami berdiskusi seputar tugas-tugas baru yang bakal diemban beliau."

*

Jauh sebelumnya, tahun 1986, Romo Mangun masih bertempat tinggal di tepian kali Code Yogyakarta. Dalam sebuah wawancara dengan wartawan majalah Mutiara dia menyampaikan,

"Kalau dizinkan, saya mau mati di sini, dan tidak mau dikubur. Saya akan menyumbangkan segala organ tubuh saya yang masih dapat dipakai orang. Entah mata, ginjal, dan lainnya. Kalau badan saya nanti diperlukan untuk pengembangan ilmu kedokteran, saya serahkan. Mungkin dengan menyerahkan badan ini bisa tertolong mahasiswa kedokteran untuk menjadi lulus. Daripada badan busuk dikubur tidak berguna, lebih baik saya sumbangkan kepada mereka. Dengan itu mungkin hasilnya bisa tertolong sekian pasien orang kecil yang membutuhkannya."

Tiga tahun sebelumnya, pada bulan Oktober 1983, sebenarnya Romo Mangun sudah menyebut perihal ini dalam suratnya kepada Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, Uskup Agung Semarang saat itu. Di dalam surat disampaikan bahwa apabila dia wafat, dengan tulus ikhlas menyumbangkan tubuhnya ke fakultas kedokteran terdekat untuk menjadi bahan pratek. Namun dia memberi catatan bahwa keputusan terakhir tetap di tangan Uskup Agung Semarang.

Tahun 1999 ketika Romo Mangun wafat, Monseigneur Suharyo yang baru dua tahun menjadi Uskup Agung Semarang, memimpin Misa Requiem dan melepaspergikan jenazah Romo Mangun di kompleks pemakaman Para Romo Projo Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sang Uskup tidak mengabulkan keinginan Romo Mangun menyumbangkan organ tubuhnya ke fakultas kedokteran. Alasannya sangat manusiawi, tidak tega tubuh Romo Mangun disayat-sayat oleh pisau bedah di ruang praktek mahasiswa kedokteran.

Sesudah Romo Mangun dimakamkan, sebelum kembali ke Semarang, Monseigneur Suharyo mampir ke Dinamika Edukasi Dasar, yayasan yang didirikan oleh Romo Mangun. Ditemani oleh almarhum Romo Yohannes Pujasumarta yang saat itu Vikaris Jenderal Keuskupan Agung dan merangkap sebagai ketua yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Mereka datang untuk berkeliling melihat-lihat situasi kondisi rumah artistik warisan Romo Mangun yang sekalian juga menjadi kantor yayasan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN