Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Editor - Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Seruan Anies dan "Horor" Jakarta Kota Mati

22 Maret 2020   00:00 Diperbarui: 22 Maret 2020   06:08 1500
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kawasan Bundaran HI Jakarta di Malam Hari (Foto Dipetik Awal Maret 2020-Dokpri)

Jalanan Jakarta sepi dan lengang biasanya hanya hadir satu tahun sekali. Ketika Lebaran sudah tiba. Saat kaum urban Jakarta dan sekitarnya ramai-ramai mudik ke kampung halaman. Meninggalkan Ibu Kota yang sesak walau hanya sejenak. Mereka pulang membawa sukacita meski hanya sebentar saja. Lewat seminggu, mereka kembali ke Jakarta untuk melanjutkan perjuangan hidup. Mengais rezeki demi rezeki yang tak seberapa.

Semoga kalimat pengantarnya sudah cukup lebay, yah. Kalau belum cukup dramatis, silakan tambahkan di kolom komentar. Baiklah, mari kita langsung ke pokok masalah.

Virus corona betul-betul membuat merana. Tak hanya warga Jakarta, nasib serupa juga dialami warga di sekitarnya, Depok, Bogor, Bekasi, maupun Tangerang. Bahkan, sejujurnya sudah menyebar ke seluruh Indonesia.

Jangankan di Jakarta, di kampung saya nun jauh di pelosok Sumut saja sudah ada kebijakan meliburkan sekolah. Betapa dahsyat memang virus corona.

Jakarta tercatat sebagai kota paling banyak terinfeksi corona. Wajar, mengingat Jakarta merupakan kota yang paling padat penduduk dan sebagai pintu masuk paling ramai dari maupun ke luar negeri.

Kabar baiknya, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dengan peralatan canggih dan lengkap juga ada di Jakarta. Paling tidak, penderita corona akan jauh lebih baik penanganannya ketimbang rumah sakit di daerah.

Namun, ancaman corona rupanya sudah sangat serius. Sampai-sampai, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan harus melakukan berbagai macam upaya pencegahan. Termasuk mengambil kebijakan isolasi alias lockdown.

Seluruh kegiatan dikunci rapat. Walaupun kita tahu, opsi lockdown ini kemudian menimbulkan gesekan politik terutama bagi Presiden Jokowi.

Mendapat tekanan dari pusat, Gubernur Anies kemudian 'merevisi' opsi lockdown dengan menerbitkan Seruan Gubernur yang isinya meminta agar kegiatan perkantoran maupun hiburan di Jakarta untuk sementara ditekan seminimal mungkin. Namanya juga seruan, boleh dituruti dan boleh dilanggar kalau memang situasinya tidak memungkinkan.

Di saat bersamaan, Presiden sebisa mungkin menghindari keputusan lockdown seperti yang diwacanakan Anies. Presiden menilai keputusan lockdown di Jakarta sebagai ibukota negara hanya bisa dilakukan oleh seorang Presiden, bukan oleh Gubernur. Sulit dibayangkan betapa "horornya" Jakarta kalau pada akhirnya terpaksa kena lockdown.

Ini bukan soal horor yang berkaitan dengan hantu-hantu seperti di film. Ini adalah kenyataan yang sebenarnya, yang jauh lebih seram dari film horor berstatus fiksi. Bukan juga hanya soal jalanan Jakarta yang sepi dan lengang seperti saat Lebaran tiba. Bukan itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun