Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Menengok Eks-Camp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

13 November 2019   00:48 Diperbarui: 13 November 2019   00:53 0 1 0 Mohon Tunggu...
Menengok Eks-Camp Pengungsi Vietnam di Pulau Galang
Pintu Masuk Eks Camp Vietnam (dokpri)

Mobil yang kami tumpangi melaju tanpa macet dari pusat Kota Batam menuju Pulau Galang. Kurang lebih satu jam dengan pemandangan bebatuan berwarna kemerahan di sebelah kiri dan kanan. Jalanannya beraspal mulus dan cukup lebar. 

Sesekali terlihat bibir pantai dan kapal-kapal kecil di kejauhan. Akhirnya saya merasa sudah sah berada di Kota Batam usai melintas dari Jembatan Barelang, salah satu ikon Batam yang juga kerap dikunjungi pelancong.

Barelang, ternyata sebuah akronim: Batam, Rempang, dan Galang. "Itu singkatan sebetulnya," ujar teman yang mengajak saya berkeliling Batam, Minggu (10/11/2019). 

Ketiganya adalah nama tiga pulau yang saling berdekatan. Nah, jembatan itulah yang dijadikan sebagai penghubung ketiga pulau tersebut. Dari Batam menyeberang ke Rempang, kemudian menyeberang lagi ke Galang. Kalau tak salah ingat, ada empat atau lima jembatan lagi yang harus dilewati setelah Jembatan Barelang.

Sembari menikmati semak belukar dan bebatuan di kiri-kanan jalan, kami akhirnya tiba di Pulau Galang. Mobil kemudian berbelok ke arah kiri, sedikit menurun. Tak jauh lagi, kami disambut sebuah gapura berukuran besar. 

Di sana tertulis: Kawasan Wisata P. Galang (Ex Camp Vietnam). Seperti biasa kawasan wisata, di pintu masuk itu petugas sudah berjaga. Menyerahkan dua buah tiket masuk yang ditebus dengan dua lembaran sepuluh ripu rupiah.

Dan, dimulailah petualangan itu. Mobil melaju pelan, melihat kiri-kanan dan depan. Pohon-pohon nan rindang menyambut kami. Monyet-monyet ikut menikmati asrinya pepohonan itu, bahkan ikut berbaur dengan para pelancong. Kawanan monyet berharap uluran tangan pengunjung, dari roti hingga aneka makanan ringan lainnya. Mobil kembali melaju.

Replika Perahu Pengungsi Vietnam (dokpri)
Replika Perahu Pengungsi Vietnam (dokpri)
Di sebelah kanan, terlihat dua buah perahu yang terbuat dari kayu. Itulah titik awal dimulainya sejarah kawasan wisata tersebut. Perahu (sekarang berupa replika) itulah yang digunakan warga Vietnam untuk melarikan diri dari negaranya, mengarungi ganasnya Laut Cina Selatan, tanpa tujuan. Sebagian dari mereka terdampar di Pulau Galang, meski banyak juga yang terpaksa meregang nyawa di lautan.

Mengutip literatur yang tersedia di mesin pencari, eksodus besar-besaran warga Vietnam tersebut terjadi dalam kurun waktu 1957 hingga 1975.

Saat itu, Vietnam diamuk perang saudara antara kubu Komunis-Demokratik (Vietnam Utara didukung AS dan sekutunya) dan kubu Liberal-Republik (Vietnam Selatan didukung Uni Soviet dan sekutunya). Perang saudara yang menelan korban jutaan jiwa tersebut kemudian berakhir pada 1976.

Areal Pekuburan Kristen Pengungsi Vietnam (dokpri)
Areal Pekuburan Kristen Pengungsi Vietnam (dokpri)
Di seberang replika perahu tersebut, terdapat pekuburan Kristen bercat putih dengan batu nisan menggunakan bahasa Vietnam. Pengaruh paham komunis masih terlihat jelas yang ditandai dengan aksesoris khas Nazi.

Selain pekuburan, sejumlah peninggalan masih ada hingga kini. Seperti gereja, kuil, rumah sakit, sel penjara, hingga peralatan rumah tangga yang pernah digunakan para pengungsi. Bukti-bukti jejak para pengungsi Vietnam itu bisa dipelajari di gedung Museum yang berisikan kliping foto dan koran.

Di sana, kita bisa merasakan bagaimana kehidupan para pengungsi dari sejak berada di tengah ganasnya lautan, berada di pengungsian, hingga prosesi pemulangan mereka ke Vietnam yang dimulai sejak tahun 1979 hingga 1983.

Sebagian Wajah Para Pengungsi (dokpri)
Sebagian Wajah Para Pengungsi (dokpri)
Namun sayangnya, hanya sedikit saja informasi yang tersedia di sana. Informasi tentang sejarah bagaimana kelamnya masa-masa pengungsian itu terasa sulit diperoleh.

Pihak pengelola yakni BP Batam sepertinya masih harus perlu menyediakan informasi sebanyak-banyaknya. Hal ini sangat penting agar pengunjung bisa merasakan suasana yang terjadi di masa lampau. Akibat kekurangan informasi, sesama pengunjung pun akhirnya saling bertanya, ihwal sebuah peristiwa kemanusiaan di masa lalu.

Selain minimnya informasi, mayoritas aset kawasan wisata yang seluasa 80 hektar tersebut tampak tidak terurus. Banyak bangunan yang hampir rubuh karena sama sekali tidak dirawat. Patung-patung yang berada di areal Gereja Kristen, terlihat lusuh. Dihimpit semak-belukar.

Semoga saja kawasan wisata ini lebih diperhatikan lagi oleh BP Batam. Bagaimanapun, eks camp pengungsi Vietnam telah menjadi bagian dari sejarah Indonesia khususnya di Pulau Galang.

Sel Penjara bagi Pengungsi Vietnam yang Melanggar Aturan (dokpri)
Sel Penjara bagi Pengungsi Vietnam yang Melanggar Aturan (dokpri)
Areal Museum (dokpri)
Areal Museum (dokpri)
Lukisan yang Menggambarkan Suasana Pengungsi di Tengah Lautan (dokpri)
Lukisan yang Menggambarkan Suasana Pengungsi di Tengah Lautan (dokpri)
Proses Pemulangan Pengungsi ke Vietnam (dokpri)
Proses Pemulangan Pengungsi ke Vietnam (dokpri)
Bangunan Tidak Terawat (dokpri)
Bangunan Tidak Terawat (dokpri)
Bangunan Tidak Terawat (dokpri)
Bangunan Tidak Terawat (dokpri)
Lokasi Tempat Ibadah Agama Budha (dokpri)
Lokasi Tempat Ibadah Agama Budha (dokpri)
Sebuah Patung Kurang Terawat di Areal Gereja (dokpri)
Sebuah Patung Kurang Terawat di Areal Gereja (dokpri)
Kendaraan Truk ala Rambo (dokpri)
Kendaraan Truk ala Rambo (dokpri)
Pengungsi Vietnam Meninggalkan Pulau Galang (dokpri)
Pengungsi Vietnam Meninggalkan Pulau Galang (dokpri)

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x