Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Editor - Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ikut Nasdem, Golkar Bikin Pusing Jokowi

4 November 2019   23:30 Diperbarui: 4 November 2019   23:40 1534
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Petinggi Golkar duduk satu meja (Kompas.com)

Rupanya, NasDem dan Golkar sangat senang mencari perhatian Presiden Jokowi. NasDem di bawah komando Surya Paloh sibuk bersafari politik ke partai non pemerintah. PKS, salah satunya. 

Paloh seakan belum puas dengan jatah menteri di Kabinet Indonesia Maju. Paloh kurang sreg lantaran posisi Jaksa Agung gagal diraih. Malah dipersembahkan ke PDIP. Padahal, posisi Jaksa Agung sangat penting bagi NasDem. Konon, sebagai jalan pintas mencari dukungan politik dari banyak kepala daerah.

Sekarang giliran Golkar. Politisi Golkar yang juga Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) kembali 'berulah'. Berhasrat kembali merebut kursi Ketua Umum Golkar yang saat ini masih dipegang Menko Perekonomian Airlangga Sutarto. 

Kabar ini cukup mengejutkan. Itu karena Bamsoet sebelumnya diyakini akan mundur teratur dari bursa calon Ketum Golkar usai diperjuangkan Airlangga merebut kursi Ketua MPR. Nyatanya tidak juga. Bamsoet tetap ingin menjadi Golkar-1 menggusur Airlangga.

Manuver politik NasDem dan gesekan politik di internal Golkar ini tak bisa dianggap sepele. Ancamannya serius. Bisa-bisa, koalisi yang sudah terbangun saat ini mendadak berantakan di tengah jalan. 

Peta politiknya terlihat jelas. Yakni apabila NasDem sukses menggalang kekuatan di luar koalisi semisal menggandeng PKS, Demokrat, dan PAN. Konsekuensinya, memang, NasDem harus tahu diri dengan menarik para menterinya dari jajaran kabinet Jokowi-Ma'ruf.

Golkar juga sama. Namun dengan syarat, jika Bamsoet pada akhirnya sukses menggulingkan Airlangga di Munas Golkar. Peluang itu pun terbuka lebar. Bamsoet sejauh ini memiliki jaringan kuat di dewan pimpinan daerah Golkar. Dengan menguasai Golkar, apabila terpilih sebagai Ketua Umum, posisi tawar Bamsoet di hadapan Jokowi dipastikan terdongkrak. Antara lain meminta tambahan kursi menteri. Ataupun posisi strategis lainnya.

Jokowi kian pusing jika NasDem dan Golkar (di bawah Bamsoet) bersatu. Maka bisa dipastikan partai koalisi yang dibangun PDIP dan Gerindra saat ini menjadi terancam. Golkar sebagai pemenang kedua dan NasDem sebagai pemenang keempat Pemilu akan berhadapan dengan PDIP sebagai juara pertama dan Gerindra sebagai pemenang ketiga. Dua poros kekuatan yang secara politik sangat berimbang.

NasDem, Golkar, PKS, PAN, dan Demokrat sangat mungkin bergabung membangun kekuatan baru yang berhadapan dengan koalisi PDIP, Gerindra, PKB, dan PPP. Kalau ini terjadi, tentu bukan kabar baik bagi pemerintahan Jokowi. Parlemen yang saat ini dikuasai pemerintah akan kembali dikuasai kubu oposisi. Cita-cita Jokowi yang ingin tampil tanpa 'beban' akhirnya sulit dieksekusi.

Lalu bagaimana agar Jokowi tetap nyaman menjalankan roda pemerintahan? Kembali lagi. Tak ada rumus lain kecuali menawarkan jabatan strategis lain kepada NasDem. Hanya itu obat penawarnya. Soal posisi apa yang diinginkan NasDem selain Jaksa Agung, itu tergantung 'deal-deal' antara Jokowi dan Paloh. Atau jangan-jangan, Paloh mematok syarat utama: menggusur Gerindra dari kabinet.

Sementara untuk Golkar, Jokowi harus sekuat tenaga menjamin agar Bamsoet gagal meraih kursi Ketua Umum. Meski bukan orang Golkar dan tidak berhak mengintervensi Golkar, Jokowi sebagai Presiden punya jalur untuk itu. Masih ingat kan, bagaimana Setya Novanto dulu akhirnya memenangi perebutan Ketua Umum. Saat itu, Luhut Panjaitan tampil sebagai 'pembawa pesan' bagi Golkar. Agar Setnov menduduki kursi empuk Golkar-1.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun