Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pramugari Cantik dan Media yang Tak Mendidik

23 Oktober 2019   11:37 Diperbarui: 23 Oktober 2019   11:53 18 0 0 Mohon Tunggu...
Pramugari Cantik dan Media yang Tak Mendidik
Ilustrasi (okezone.com)

Asal comot peristiwa yang berserakan di media sosial, mengutipnya tanpa dipilah-pilah lebih dulu, kemudian langsung ditayangkan. Bumbu kata "viral" dilekatkan untuk memancing minat pembaca. Ramai klik, awak redaksi pun bangga.

Aksi asal comot seperti ini tampaknya sudah terlanjur menjalar di tubuh redaksi media massa. Media berlomba mengais informasi dari segala lini terutama dari media sosial. Celakanya, tindakan asal comot itu tak selamanya positif. Justru kerap bertentangan dengan fungsi media massa itu sendiri.

Salah satu peristiwa yang kemudian dijadikan berita oleh media kita adalah soal pramugari. Hanya bermodalkan sebuah video berdurasi hitungan detik, tanpa seragam yang jelas, media kemudian mengolahnya menjadi sebuah berita viral.

Media yang pertama kali menayangkan video itu adalah batamclick.com. Tak lama, media massa lain juga ikut mengutipnya, seperti keprinews.co.id. Termasuk jaringan berita Tribunnews ikut menayangkannya.

Padahal belum ada kejelasan siapa dan kapan video kurang elok itu direkam. Tetapi berdasarkan ciri-ciri seragamnya, media cenderung mengarahkan opini ke salah satu maskapai penerbangan swasta Indonesia. Hal ini jelas tak adil, karena bisa saja pemeran video itu direkam pramugari maskapai penerbangan lain di luar negeri.

Lagipula, apa sih untungnya menayangkan berita semacam itu? Apa hanya sekadar sensasi belaka dengan tujuan menarik banyak klik dari pembaca? Sebab bisa dipastikan, berita semacam itu sama sekali tak mendidik. Pembaca justru disuguhi informasi yang asal-usul peristiwanya tak jelas sama sekali.

Di era internet sekarang ini, media massa justru seharusnya tampil sebagai penyaring informasi, memastikan, lalu mengolahnya menjadi sebuah berita. Bukan malah ikut-ikutan menyebarluaskan informasi yang banyak tersebar di media sosial tanpa lebih dulu melakukan kroscek.

VIDEO PILIHAN