Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

3 Kali Diberi Kesempatan, Sriwijaya Air Jangan Ngeyel Lagi

7 Oktober 2019   18:12 Diperbarui: 7 Oktober 2019   18:21 0 3 1 Mohon Tunggu...
3 Kali Diberi Kesempatan, Sriwijaya Air Jangan Ngeyel Lagi
Pesawat Sriwijaya Air (Kompas.com)

Harus diakui, PT Sriwijaya Air termasuk salah satu perusahaan berhoki bagus yang belum tentu diperoleh perusahaan swasta lain. Betapa tidak. Saat nyaris bangkrut, penyelamat datang hingga berkali-kali. Enak betul!

Coba saja cek berita soal Sriwijaya Air di media massa. Setidaknya sudah tiga kali Sriwijaya Air diselamatkan setelah Garuda Grup menyatakan bersedia melanjutkan Kerja Sama Manajemen (KSM).

Bantuan Pertama: Berupa pinjaman dari beberapa perusahaan BUMN antara lain PT Pertamina (Rp942 miliar), PT BNI (Rp 585 miliar), PT GMF Rp 810 miliar, Angkasa Pura I (Rp 50 miliar), dan Angkasa Pura II (Rp 80 miliar).

Bantuan Kedua: Meski telah memperoleh pinjaman uang dari sejumlah BUMN, kondisi keuangan Sriwijaya ternyata tidak kunjung membaik. Sriwijaya kesulitan untuk membayar utang-utangnya. Karena itu, akhir Oktober 2018, dua pemilik Sriwijaya yakni Chandra Lie dan Hendry Lie datang menghadap Menteri BUMN meminta dicarikan solusi.  

Singkat cerita, akhirnya Garuda Grup melalui anak usahanya -- PT Citilink---menandatangani KSM dengan Sriwijaya Air. KSM dimaksudkan untuk mengatasi masalah Sriwijaya Air yang terlilit hutang. Sesuai perjanjian di KSM, penunjukan komisaris hingga direksi harus berdasarkan kesepakatan bersama dengan Citilink.

Tiga mantan pejabat Garuda kemudian ditempatkan sebagai direksi di Sriwijaya Air. Mereka adalah Joseph Andriaan Saul sebagai Direktur Utama, Harkandri M. Dahler sebagai Direktur SDM dan Layanan, serta Joseph K. Tendean sebagai Direktur Komersial. Ketiga mantan pejabat Garuda boleh dibilang bertangan dingin karena terbukti mengubah performa Sriwijaya ke arah yang lebih baik.

Indikatornya sederhana saja, perusahaan yang tadinya terlilit utang perlahan bisa mencicil utangnya. Tercatat, setidaknya Sriwijaya telah membayar Rp 436 miliar kepada para krediturnya. Paling penting lagi, kesejahteraan pekerja semakin meningkat selama Sriwijaya dikelola manajemen di bawah KSM.

Ironis memang. Sudah dibantu diselamatkan dari lilitan utang ditambah meningkatnya kesejahteraan pekerja, pemegang saham Sriwijaya Air malah berulah. Menjelang setahun menikmati duit BUMN yang tak lain duit rakyat juga, pada 9 September 2019, pemegang saham Sriwijaya dengan sepihak mendepak tiga direksi Sriwijaya. Tanpa alasan yang jelas, ketiga mantan pejabat Garuda itu disingkirkan dari jajaran direksi Sriwijaya.  

Keputusan ini terasa aneh mengingat KSM Garuda-Sriwijaya masih berjalan. Mestinya, sesuai perjanjian KSM, perombakan jajaran direksi harus didiskusikan terlebih dahulu kepada Dirut Citilink sebagai pihak yang ditugasi Garuda Grup membantu Sriwijaya. Bahkan penggantian direksi secara mendadak ini mendapat protes keras dari pekerja Sriwijaya Air.

Buntutnya, Citilink melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (25/9) lalu atas dugaan waprestasi. Kalangan politisi pun mendukung langkah Citilink. Sementara publik juga  berharap sidang segera digelar guna menguak permasalahan yang sebenarnya terjadi antara Garuda Grup dengan Sriwijaya.  

Bantuan Ketiga: Menteri BUMN kemudian turun tangan. Garuda Grup diminta tetap membantu Sriwijaya. Perjanjian KSM tetap dilanjutkan, termasuk langkah Garuda Grup merawat pesawat milik Sriwijaya. Namun belum ada penjelasan, apakah setelah kerja sama dilanjutkan, Sriwijaya patuh terhadap perjanjian yang disepakati dan ditandatangani sebelumnya? Kalau Sriwijaya tidak bersedia, untuk apa kerja sama dilanjutkan?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2