Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Motor Listrik, Ramah Lingkungan tapi Mahal

29 September 2019   13:55 Diperbarui: 30 September 2019   15:55 137 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Motor Listrik, Ramah Lingkungan tapi Mahal
Motor Listrik (Dok Dewan Energi Nasional)

Ada yang berbeda di Kantor Dewan Energi Nasional (DEN) Jakarta, Minggu (29/9/2019) pagi. Puluhan motor baru berbaris rapi di halaman kantor yang terletak di Jalan Gatot Subroto itu. Motor itu masih terlihat mulus, gres, dan baru. Namun yang paling istimewa, kendaraan roda dua itu bukan sembarang motor. Pokoknya berbeda dari motor pada umumnya.

Ternyata, seluruh pegawai DEN sedang melakukan giat sosialisasi kendaraan motor listrik. Rute yang ditempuh adalah Kantor DEN menuju Monas dan berakhir di Kantor Kementerian ESDM di Jalan Merdeka Barat.

Dari segi desain, motor listrik bermerek VIAR ini memang mirip dengan motor lainnya. Bedanya, terletak pada sumber tenaganya saja, yang bersumber dari listrik. Bukan BBM seperti motor pada umumnya. Di sinilah letak keunggulan motor listrik lantaran tidak lagi menimbulkan polusi udara melalui asap. Karenanya, motor ini sangat cocok digunakan di perkotaan seperti Jakarta karena otomatis akan mengurangi polusi udara.

Diketahui, produksi massal listrik saat ini telah memiliki payung hukum berupa Peraturan Presiden Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai yang resmi diundangkan pada 12 Agustus 2019. Dengan demikian, produsen maupun konsumen motor listrik kini telah bisa menikmati kendaraan tanpa polusi secara legal.

Sementara itu, pemerintah menargetkan produksi 2 juta motor listrik hingga tahun 2025. Jumlah 2 juta tersebut berada di angka 20 persen dari total produksi roda dua di Indonesia yang diprediksi menyentuh 10 juta unit pada 2025 nanti.

Investasi Jangka Panjang

Dok: Dewan Energi Nasional
Dok: Dewan Energi Nasional

Motor listrik ini memang harus diakui ramah lingkungan. Dari informasi yang saya peroleh, motor produksi VIAR ini mampu menempuh jarak hingga 60 kilometer sekali isi baterai. Sementara waktu isi baterai membutuhkan 4-5 jam. Dengan kata lain, motor ini sudah bisa digunakan oleh mereka yang bekerja kantoran, yang hanya menggunakan motor menuju tempat kerja saja. Alias bukan orang lapangan yang rute perjalanannya tidak menentu.

Tetapi, harga yang dipatok per unitnya cukup mahal. Yakni Rp 18 juta per unit. Bila dibandingkan dengan motor konvensional, tentu harga ini kurang "masuk". Namun, harga "semahal" itu memang cukup masuk akal bila ditinjau dari aspek jangka panjangnya. Modal awalnya memang mahal, tetapi ke depan akan jauh lebih hemat. Kira-kira itu konsep ekonomi yang ditawarkan motor listrik.

Konsumen akan merasa berat saat pembelian pertama. Tetapi pada tahap selanjutnya akan merasa ringan karena tak lagi perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli BBM. Cukup dengan mencolok ke aliran listrik di rumah. Harga listrik tentu saja jauh lebih murah dibanding BBM. Di sinilah letak keunggulan motor listrik yang perlu dipahami konsumen.

Agar produk ini laris-manis di pasaran, barangkali pemerintah perlu memikirkan skema subsidi terlebih dahulu. Subsidi tersebut sangat penting dalam upaya merangsang minat pasar. Bayangkan kalau motor ini dijual hanya Rp 5 juta per unit, misalnya. Bisa dipastikan akan banyak konsumen yang tertarik. Nah, ketika minat konsumen sudah tinggi, subsidi tersebut bisa pelan-pelan dicabut.

Pertanyannya, mungkinkah pemerintah melakukan itu? Saya tidak tahu.

VIDEO PILIHAN