Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Arswendo, Perokok Berat, dan Janji Traktir Makan Bakso

20 Juli 2019   02:34 Diperbarui: 20 Juli 2019   03:08 0 4 0 Mohon Tunggu...
Arswendo, Perokok Berat, dan Janji Traktir Makan Bakso
Bersama Arswendo Atmowiloto (Facebook/Fajar Roekminto)

Sastrawan Arswendo Atmowiloto tutup usia, Jumat, 19 Juli 2018. Merampungkan waktu selama 70 tahun di dunia, dengan segudang kisah dan liku kehidupan. Pernah dibui Soeharto hingga sempat menikmati era kebebasan reformasi. Ia seorang wartawan senior sekaligus sastrawan tersohor.

Tahun 2005 yang lalu...

Waktu itu belum ada google maps atau waze. Masih eranya Friendster dan mailinglist alias milis. Kami lalu nyasar, bertanya ke sana kemari mencari alamat. Untung bukan alamat palsu. Sebuah rumah yang disulap jadi kantor itu pun ketemu juga. Di pinggiran Jakarta Selatan, hampir masuk wilayah Tangerang, Banten. Sedikit lagi.

Perokok berat...

Seorang pria berkaos kecoklatan muncul menyapa. Tawanya khas dengan rambut sedikit memutih. Lumayan panjang juga rambutnya, terurai begitu saja. Wajahnya tampak sedikit lelah. Akibat begadang dan lalu kurang tidur. Pokoknya nyentrik, deh.

Sedikit basa-basi, cerita soal sulitnya mencari alamat yang tak palsu itu, kami dipersilakan masuk ke sebuah ruangan. Tak ber-AC dan tak punya kursi. Hanya beralaskan tikar dan papan tulis putih berukuran kecil. Kami lalu duduk melingkar, bersiap menampung saran dari tuan rumah: Arswendo Atmowiloto.

Ihwal kedatangan kami ke kantor Arswendo berkaitan dengan kegiatan di kampus. Kala itu, Cawang Community (2C) sedang menggelora; unit kegiatan mahasiswa yang digagas seorang dosen Fakultas Sastra UKI Jakarta. Pak Fajar Roekminto, dosen yang memimpin rombongan lalu memperkenalkan satu per satu mahasiswanya, juga soal maksud kedatangan kami.

Rombongan 2C ingin menimba ilmu ke Arswendo soal bagaimana menerbitkan dan mengelola sebuah media massa. Saat itu kami memang sedang menggarap sebuah tabloid yang rencananya bakal diedarkan di kampus dan warga sekitar Cawang. Dana tersedia dan punggawanya pun siap tempur.

Arswendo langsung paham, kemudian bercerita banyak tentang pengalamannya selama menjadi wartawan. Nostalgia itu tak lekang dari kepulan asap rokok, sambung-menyambung tak berbuntut. Arswendo adalah pria perokok berat.

Janji Traktir Makan Bakso...

Kalimat yang paling saya ingat dari seorang Arswendo saat itu adalah: "Kalau kalian bisa menerbitkan tabloid ini selama empat edisi berturut-turut, saya traktir kalian semua makan bakso."

Betul saja, Bro. Tabloid yang kami gagas itu pun "mati melahirkan" alias hanya satu kali terbit. Cuma edisi perdana, tok. Gagasan dan ide besar meski didukung dana rupanya tak jadi jaminan kelanggengan sebuah media massa. Ada hal yang lebih penting dari itu yakni passion para punggawanya. Paling tidak, itu pesan yang bisa kupahami.

Perihal kematian tabloid yang kami terbitkan itu rupanya tak membuat Arswendo alergi bertandang ke kampus. Beberapa kali ia tetap bersedia mengisi seminar, sebagai pembicara soal dunia tulis-menulis. Juga materi terkait kritik sastra yang memang dikuasainya.

Selamat Jalan...
Kini Arswendo Atmowiloto telah tiada. Meninggalkan dunia untuk selamanya. Semoga karyanya tetap abadi. ***

KONTEN MENARIK LAINNYA
x