Mohon tunggu...
Ishak Pardosi
Ishak Pardosi Mohon Tunggu... Spesialis nulis biografi, buku, rilis pers, dan media monitoring

Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kasir Minimarket Cuma Sumbang Seribu Rupiah? Begini Seharusnya

12 Mei 2019   19:32 Diperbarui: 12 Mei 2019   19:56 0 1 3 Mohon Tunggu...
Kasir Minimarket Cuma Sumbang Seribu Rupiah? Begini Seharusnya
Ilustrasi Sumbangan (Tribunnews)

Sejumlah pria mengamuk di dalam sebuah minimarket. Mereka tidak terima lantaran kasir minimarket hanya bersedia memberikan donasi sebesar Rp 1.000. Uang dengan nominal kecil itu dianggap melecehkan oleh pencari donasi. Berdasarkan pemberitaan media massa, kejadian itu berlokasi di wilayah Aceh. Itulah peristiwa utama di balik video yang viral dua hari ini.

Lalu kenapa video itu mendapat respons negatif dari kalangan netizen? Bila mencermati banyak komentar di media sosial, tak lain karena penampilan pria mengamuk itu. Karena ia berpakaian agamis sehingga seharusnya tak perlu mengamuk, apalagi hanya karena tidak diberikan sumbangan "layak" oleh kasir minimarket.

Namun ada juga yang berkomentar miring terhadap kasir. Misalnya, kenapa sih cuma menyumbang seribu rupiah? . Lalu ada lagi yang berkomentar: daripada hanya menyumbang seribu rupiah, lebih baik tidak sama sekali. Pertanyaan ini kemudian banyak ditanggapi. Antara lain, kasir tidak berhak mengeluarkan uang sesuka hati. Bila mengambil uang dari kas, maka gaji mereka akan dipotong oleh sang pemilik minimarket.

Sebelumnya, mari kita simak ucapan demi ucapan dalam video itu. Salah satu penggalan kalimat pria yang mengamuk itu adalah: "tukang sayur di sana saja nyumbang seratus ribu, masa kalian yang begini cuma seribu? Pelecehan ini". Coba kita simak makna di balik pernyataan itu. Bahwa jika pun kasir itu menyumbang Rp 50 ribu atau bahkan Rp 100 ribu misalnya, tetap akan dianggap kurang banyak. Alasannya, karena tukang sayur saja sudah menyumbang Rp 100 ribu.

Di sinilah mungkin posisi dilematis sang kasir. Sebab menyumbang Rp 100 ribu misalnya, tetap akan dianggap kurang layak. Sementara bila harus menyumbang di atas Rp 100 ribu, anggarannya diambil dari mana? Nanti malah akan dipotong gaji oleh pemilik minimarket. Lalu muncullah angka seribu rupiah, ketimbang sama sekali tak berdonasi, walau tetap menimbulkan persoalan.

Lantas, bagaimana seharusnya sikap sang kasir? Menurut saya, uang seribu rupiah memang terlalu sedikit disumbangkan oleh sekelas minimarket. Namun bukan berarti harus sama lebih besar dari sumbangan tukang sayur tadi. Bagaimanapun, terlepas setiap sumbangan pada dasarnya bersifat seikhlasnya, uang seribu rupiah rasanya kurang pantas. Lalu berapa nominal pantasnya? Paling tidak di angka 10 ribu rupiah, menurut saya.

Di pihak lain, bagaimana seharusnya sikap pencari sumbangan? Mereka pun semestinya tidak perlu marah walau hanya disumbang seribu rupiah. Jika memang tidak berkenaan karena merasa dilecehkan, lebih baik uang sumbangan itu dikembalikan saja dengan cara baik-baik kepada sang kasir. Toh, rezeki masih banyak di tempat lain, semisal di tukang sayur tadi. Memaksakan kehendak apalagi dengan menyinggung etnis tertentu, sama sekali tak elok bahkan cenderung arogan.

Kabar baiknya, menurut pemberitaan di media massa, kasus di minimarket itu sudah selesai alias sudah berdamai. Semoga saja kasus tersebut menjadi pembelajaran bagi pencari dana maupun bagi calon donatur. Calon donatur khususnya kelompok bisnis agar jangan terlalu pelit, tetapi jangan pula sampai bangkrut hanya karena donasi. Di sisi lain, pencari dana agar tetap menjaga hak calon donatur, bahwa yang namanya sumbangan sama sekali tidak boleh dipaksakan, apapun ceritanya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x