Ishak Pardosi
Ishak Pardosi profesional

Mantan Penjahit--@Spesialis nulis biografi, rilis pers, buku, dan media monitoring (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Pak Jokowi, Tak Perlu Ragu Naikkan Harga Premium

10 Oktober 2018   22:50 Diperbarui: 10 Oktober 2018   23:10 647 2 0
Pak Jokowi, Tak Perlu Ragu Naikkan Harga Premium
Foto: Warta Kota

Seperti sudah diduga sebelumnya, pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM. Diawali dengan kenaikan harga BBM jenis Pertamax dan Solar Dex pada Rabu (10/10/2018) siang. Sorenya, Menteri ESDM, mengumumkan bahwa harga BBM jenis Premium juga akan naik. Tetapi dalam sekejap saja, keputusan itu dianulir Jokowi dengan alasan menunggu kesiapan Pertamina.

Keputusan menaikkan harga BBM ini memang sangat dilematis bagi Jokowi. Ada pertarungan citranya sebagai capres petahana di Pilpres 2019. Jika dinaikkan, ia wajar khawatir bakal mempengaruhi popularitasnya di tengah masyarakat. Belum lagi gempuran kubu oposisi yang langsung memanfaatkan momentum tersebut. Jokowi akan dengan mudah dituduh sebagai pemimpin yang tidak pro rakyat.

Di sisi lain, jika harga BBM dipertahankan di tengah meningkatnya harga minyak mentah dunia, hal itu juga akan mempengaruhi cadangan devisa negara. Ujung-ujungnya, perekonomian nasional rawan ambruk yang pada akhirnya akan tetap menempuh opsi menaikkan harga BBM sebagai upaya penyelamatan.

Namun dengan harga premium yang batal mengalami kenaikan, kini amunisi kubu oposisi semakin bertambah untuk menyerang Jokowi. Sebagai orang nomor satu, Jokowi akan dicap ragu-ragu dan galau untuk menentukan sebuah keputusan. Sehingga jangan heran bila isu batalnya kenaikan premium akan terus digoreng pihak oposisi.

Seharusnya Jokowi tidak perlu menunda kenaikan premium yang sudah terlanjur diumumkan Menteri ESDM Jonan Ignasius. Toh, kenaikan premium itu tetap akan terjadi mengingat harga minyak dunia yang terus naik. Siapapun presidennya, harga BBM saat ini memang sudah selayaknya dinaikkan.

Terlepas bakal dimanfaatkan kubu lawan sebagai amunisi untuk menyerang, hal itu memang mustahil dihindari. Apa boleh buat, sudah menjadi risiko dalam setiap periode kepemimpinan. Bila menarik sedikit ke belakang, PDIP justru sangat garang ketika harga BBM dinaikkan pada era Presiden SBY. Sebaliknya, Demokrat waktu itu juga membela mati-matian keputusan SBY tersebut.

Sehingga apapun keputusan yang ditempuh Jokowi, tetap saja akan dipandang negatif oleh kubu lawan. Kalau sudah begitu situasinya, tidak ada bedanya menaikkan harga premium hari ini atau akan dilakukan beberapa waktu lagi. Tetap saja akan diserang lawan. Maka Jokowi tidak perlu ragu menaikkan harga premium.