Ishak Pardosi
Ishak Pardosi profesional

The Mercy's Still Alive (Mobile: 0813 8637 6699)

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Biografi Madden Siagian, Musim Berbunga di Parsoburan

13 Juni 2018   21:05 Diperbarui: 13 Juni 2018   21:11 411 1 0
Biografi Madden Siagian, Musim Berbunga di Parsoburan
Tim Sepakbola SD di Parsoburan (Facebook/Porman Mrt Nainggolan)

Piala Dunia 1986 baru saja usai, setelah Diego "Tangan Tuhan" Maradona sukses membawa Argentina menjadi kampiun sejagad sepakbola. Di tahun itu pula, Madden kecil bersama keluarga memutuskan untuk pindah dari Pagar Batu ke Parsoburan. Sang ayah boleh saja hanya seorang guru SD, tetapi ia memiliki visi yang cukup revolusioner. Bukannya ia tak mencintai suasana keakraban warga di Pagar Batu, tetapi tuntutan zaman membulatkan tekad itu. Ternyata, keputusan hijrah itulah yang menjadi salah satu titik tolak perubahan kehidupan Madden kecil di masa berikutnya.

Kemenyan Dulu Keluarga Kemudian

Aroma khas kemenyan menyengat dari rumah berdinding setengah beton itu. Berkarung-karung kemenyan sudah lebih dulu menyesaki ruang tengah hingga kamar tidur. Tetapi, itu tak menjadi soal bagi Madden kecil dan keluarga saat memulai episode kehidupan yang baru di Parsoburan. "Rasanya senang-senang saja walau harus tidur di atas kemenyan," kenang Madden.

Rumah baru itu terletak tak jauh dari SD Inpres, sekitar 10 menit berjalan kaki. Meski belum dilengkapi jaringan listrik, tetapi rumah dengan pekarangan cukup luas itu memang telah disiapkan ayahanda Madden sebelum memboyong seluruh anggota keluarganya dari Pagar Batu. Namun rumah tinggal itu untuk sementara ikut digunakan sebagai gudang penyimpanan kemenyan. "Kemenyan itu lalu dijual ayah seharga Rp 8 juta".

Saat itu, uang Rp 8 juta sudah terbilang banyak. Bahkan lebih dari cukup untuk membeli sebidang tanah dan sepetak sawah pun di Parsoburan. "Kalau tak salah mengingat, hanya Rp 3 juta yang dipakai saat membeli tanah dan sawah, sisanya untuk kebutuhan sehari-hari," Madden berkisah.

Resmi sudah, keluarga besar Madden menetap di Parsoburan. Aset tanah dan rumah di Pagar Batu dipercayakan pengawasannya kepada kerabat yang masih tinggal di sana. Sementara ayahanda yang sebelumnya mengajar di SD Pagar Batu juga mengurus perpindahannya ke SD Inpres. Bermodal kemenyan, mereka pun memulai kehidupan yang baru di Parsoburan.

Laga Perdana di SD Inpres

Madden sebetulnya terbilang cukup beruntung sejak kecil. Setidaknya, bila dibandingkan dengan abang dan kakaknya yang terpaksa berjauhan dengan orangtua ketika menempuh pendidikan SMP. Saat itu, seluruh anak-anak Pagar Batu yang telah tamat SD mau tidak mau harus "merantau" ke Parsoburan atau daerah lain yang telah memiliki sarana pendidikan SMP.

Mereka kemudian menumpang alias indekos di rumah-rumah penduduk di sekitar Parsoburan. Sebagian dari mereka ada pula yang memilih "marjabu kosong" atau "tinggal di rumah kosong", sebutan bagi anak-anak sekolah yang tinggal di sebuah rumah tanpa induk semang. Mereka mandiri tanpa pengawasan dari wali orangtua atau pemilik rumah.

Praktis, akibat harus merantau, kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga hanya diperoleh di setiap ujung pekan. Pergi Sabtu lalu kembali lagi di hari Minggu, itu pun harus berjalan kaki lebih dari setengah hari lamanya.

Sedangkan di keluarga besarnya, hanya Madden bersama adik bungsu perempuannya saja yang tidak lagi mengalami masa-masa "perjuangan" layaknya anak-anak sekolah asal Pagar Batu. Madden langsung memulai debut perdana pendidikannya di SD Inpres, Parsoburan, pada 1987, setahun setelah pindah dari Pagar Batu.

Di SD Inpres pula, Madden memulai hobi kebanyakan anak-anak, yakni bermain sepakbola. Sebelum jam masuk sekolah maupun di sela istirahat, Madden bersama teman-temannya tak luput bermain bola. Tidak peduli walau seragam sekolah berubah lusuh dan kotor, yang penting kaki mereka kian lincah menggocek bola. Gol....

Kenangan lain yang selalu diingat Madden saat masih berseragam putih-merah adalah ketika masa pembagian rapor telah tiba. Karena punya nilai yang sama dengan siswa lain, pemeringkatan juara kelas pun akhirnya disamakan. "Saya pernah juara 1 , bersama dengan satu teman lain. Kami pun berbagi gelar juara 1," katanya tersenyum.



Bersambung