Cerpen

Cerpen | Duri yang Tumbuh di Dalam Daging

21 Maret 2017   09:27 Diperbarui: 21 Maret 2017   09:32 120 3 0

Kadang ia duduk di pekarangan belakang rumahnya, tidak tahu mengapa ia sering duduk di sana. Hal tersebut sering dia lakukuan setelah tiga bulan terakhir ini. Padahal tempat itu bukanlah tempat yang bagus, bahkan tidak ada pemandangan yang menarik di sana. Terakhir kali kulihat dia pernah membawa sebuah piala. Ternyata piala itu hasil dari kemenangannya mengikuti sebuah lomba dibidang sastra. Ia sudah lama nenyukai puisi, sejak duduk di bangku SMP bakat tersebut mulai terlihat. Pak Edi guru Bahasa Indonesia di sekolahnya memilihnya unuk mengikuti lomba. Semangat Sherya sangat besar untuk mengikuti lomba tersebut. Hingga dia berhasil menjadi pemenang. Hal itu kulihat ketika itu aku berpapasan dengan dia di sebuah jalan. Dia sedang berjalan menuju rumahnya. Wajahnya merona penuh dengan kemenangan.

Pagi ini dia berangkat ke sekolah dengan ayahnya menggunakan sepeda motor. Tidak ada satu pun titik senyuman kulihat dari raut wajahnya. Ia turun dari motor, dan langsung berjalan menuju kelas. Tanpa berpamitan dengan ayah.

....

Di tengah perjalanan ia tertatih – tatih kepanasan terkena terik matahari. Hari itu ayah tidak menjemputnya pulang sekolah.

Terdengar suara seseorang yang sedang menggeladah isi lemarinya. Sebenarnya ia tidak curiga, namun setelah ia melihat uang itu berada di tangan ayahnya, sontak Sherya terkejut. Ia berusaha keras, mengumpulkan semua tenaganya untuk merebut uangnya dari ayah. Ia  berlari hingga ke halaman belakang rumahnya.

 “ Yah jangan itu uang Sherya! Sherya sudah lama berlatih hingga Sherya !.....” belum selesai berbicara.

  “Kamu tidak tahu apa - apa sudah! Ayah perlu uang itu!” bentak ayah.

 Perkataan ayah tersebut sangat membuat hati Sherya perih. Ia melawan tidak ingin uang itu diambil oleh ayah. Karena ia khawatir kalau uang itu akan dibawa pergi oleh ayah.

 “Ayah tidak ! Ayaaaah! “ tiba - tiba terdengar serine ambulance yang mengerikan di sekitar rumah mereka.

….

Aku heran hobi yang sangat ia geluti itu sudah menghilang dari dirinya. Dulu tidak ada satu siswa pun yang tidak mengenal puisi - puisinya. Karena dengan rutin Sherya selalu menampilkan puisinya di mading. Namun akhir - akhir ini tidak ada lagi yang pernah membaca puisinya. Aku adalah seseorang yang cukup menyukai karya – karyanya. Kala itu ada sebuah puisinya yang berjudul “ Duri yang Tumbuh di Dalam Daging,” sebenarnya aku tidak paham apa maksud Sherya. Sudah lama kusimpan pertanyaan itu. Suatu ketika Sherya mendapat nomor lima pada sebuah kertas dan ternyata kertasku juga bertuliskan nomor lima.” Berarti sekarang kami adalah teman kelompok,” itu pikirku . Ajakan Sheryai kuterima untuk mengerjakan tugas kelompok di rumahnya. Tanpa mengganti seragam, aku segera berangkat menuju rumahnya.

Sebenarnya aku membenci orang yang sering berprasangka buruk, namun aku sadar hal itu sering aku lakukan. Termasuk menilai cara hidup orang lain. Keluraga mereka memang tidak pernah bergaul akrab dengan warga sekitar. Sehingga tidak ada satu orang pun tahu apa yang terjadi dengan mereka. Rumah mereka memang terlihat berbeda. Rumah itu tampak kusam, tapi bukan dari warna temboknya atau bentuk bangunannya. Dari tadi aku tidak pernah melihat Sherya berbicara dengan orang lain di rumahnya. Sepertinya tidak ada siapa – siapa di dalam sana. Melainkan adiknya yang tidak ada hentinya bermain sendirian memainkan bonekanya di halaman depan. Aku merasa kasihan melihatnya.

“Sher, siapa nama adikmu?”

 “Teri.”

Disela – sela soal yang kami kerjakan, sudah banyak hal yang kami bicarakan, karena menghibur diri dari soal yang lumayan susah. Percakapan kami lancar seperti air mengalir, hingga tiba pada sebuah saluran yang tersumbat karena terhalang batu besar.

 “Aku rindu pada puisi – puisimu Sher,” datar tanpa ada tekenan pertanyaan. Jujur saja sebenarnya aku ragu untuk menanyakan hal itu.

“Sudahlah, aku sudah lelah melihat kata – kata yang tidak ada artinya itu. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan hal yang tidak berguna.” sepertinya pertanyaanku salah. Aku melihat ada kekecewaan dalam dirinya ketika mengatakan hal itu.

Nomor terakhir pun selesai, Sherya masuk ke dapur. Sedangkan aku tetap menunggu di sini. Aku berjalan ke sekitar rumah mereka, “mondar – mandir.” Lalu kulihat ada tingkah yang aneh dari Teri. Tapi aku berusaha untuk menghilangkan rasa curigaku. Aku mendekati dia, berniat mengajaknya bermain bersamaku. Namun tiba – tiba, “Teri jangan! Jangan dimakan daun itu!” Dari tadi aku melihat dia mengambil daun kering yang ada di bawah pohon itu. Namun tidak kuhiraukan dia. Lama - lama tingkahnya semakin aneh. Setelah kularang, dia masih saja menggigit daun itu. Bahkan ia marah padaku, mencubitku dan rasanya sangat sakit. Giginya menggertak dan matanya memandangku lurus seperti diukur dengan penggaris, tapi bibir mungilnya itu senyum begitu manis. Aku berteriak, aku merasa seluruh tubuhku bergetar, mungkin karena hati yang sangat bergoncang takut ketika melihat kelakuannya yang mengerikan. Lantas saja Sherya panik langsung keluar menghampiri kami. Wajahnya tiba – tiba berubah menjadi sangar. Matanya tidak berbohong kalau ia tahu siapa yang melakukan kekacauan.  Disitu aku melihat kemarahannya yang begitu menggejolak, sedangkan di kelas yang aku kenal Sherya adalah siswa yang lemah lembut.

 “Teri kenapa kamu seperti itu! Kak Sani itu lebih tua dari kamu! Kamu tahu sopan tidak! Memang anak tidak waras!” berbicara sambil menunjuk Teri dengan jarinya.

“Teri kamu sudah puas membuat aku lelah! Setiap hari meliahat hidup kamu yang tidak tentu seperti ini!” Aku tidak pernah melihat Sherya marah seperti ini.

Sedangkan adiknya hanya tertawa, tidak jelas. Memang sudah jelas ada sesuatu yang terjadi dengan Teri. Sherya berjalan meninggalkan kami. Ia berjalan menuju halaman belakang lalu duduk pada kursi kayu yang ada di bawah pohon. Aku berjalan mendekat padanya. Setelah ia mendengar langkah kaikiku cepat – cepat ia mengusap pipinya. Aku hanya bisa diam membisu di sampingnya, menatap kearah depan dengan tatapan yang kosong. Sungguh aku tidak paham dengan hidup keluarga mereka.

“Kamu tahukan sekarang! Dulu kepala Teri pernah terbentur. Ketika aku dan ayah sedang bertengkar, hingga tangan ayah melayang ke arah teri dan mendorong tubuhnya, membuat kepalanya terbentur di lantai itu.” Menunjukkan bahwa lantai itu adalah lantai yang ada di belakangku.

" Aku tidak tahu dengan masa depan Teri nantinya,’’ tambah Sherya.Tidak mau bertanya, aku takut pertanyaanku akan mengumban isi hati Sherya yang pahit. Aku takut menyakiti hatinya

Kudekati lantai itu, lalu kupijakan kakiku di situ. Aku tidak tahu harus berbuat  apa. “ Krek,” tiba – tiba ubin itu berbunyi. Sepertinya ada keanehan di dalamnya. Ternyata lantai itu menjadi ambruk ketika tidak kuhiraukan dan tidak mengubah posisiku dari lantai itu. Kira – kira kedalamannya hingga satu meter. Aku jatuh dan tertelengkup karena pijakanku yang tidak ada lagi. Aku langsung berdiri karena tidak terjadi apa – apa denganku. Sedangkan ia langsung memegang tanganku untuk berdiri. Dia memerhatikan lantai itu.

“ Mengapa ini bisa terjadi, padahal tidak mungkin ambruk bisa sedalam dan selebar ini.”

Memang seharusnya setiap rumah dibangun dengan pondasi pada tanah yang padat. Hal itu bisa terjadi jika memang terjadi gempa bumi. Sungguh itu membuat kami penasaran. Jarang hal ini terjadi jika ada penyebabnya.

 “Sher itu apa?” di bawah itu, kulihat sesuatu yang berwarna putih tetapi itu bukanlah serpihan ubin.

Tidak  menunggu waktu lama aku langsung menyentuhnya. Awalnya kami tidak tahu itu apa, merasa benda itu sudah tertancap cukup dalam pada pada tanah, dia pun membantuku untuk menggalinya. Sementara pecahan ubin tadi sudah kami sisihkan. Tidak lama kemudian bentuk dari benda tersebut mulai terlihat. Kami terkejut ternyata itu adalah sebuah tengkorak manusia. Timbul dalam benakku sebenarnya siapa yang melakukan hal tersebut. Sepertinya mayat orang itu memang sengaja ditimbun. Mungkin karena peti yang digunakan dengan kayu yang tidak baik, maka dalam jangka waktu yang tidak lama kayu tersebut membusuk. Rongga yang ada di bawah lantai tersebut yang membuatnya menjadi ambruk.

Karya : Aprila Paratih