Mohon tunggu...
Noprianto
Noprianto Mohon Tunggu... Programmer - Menyukai pemrograman dan bahasa pemrograman Singkong

Sayuran dan tepung kolaborasi menjadi bakwan. Singkong dan kentang dapat menjadi perkedel. Tepung saja bisa menjadi pangsit. Menyukai pemrograman dan bahasa Singkong menyebabkan kurang tidur. Menikmati pemandangan, diskusi, dan menulis akan menyeimbangkan. Website: https://nopri.github.io

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[Kolaborasi] 2. Antara Waktu, Potensi, dan Ketampanan

8 Oktober 2021   10:56 Diperbarui: 10 Oktober 2021   15:42 91 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pembaca yang terhormat, ini adalah cerita bersambung seputar orang-orang yang berkarya di bidang pengembangan software, dengan sedikit kisah bisnis dan bumbu romantis. Terima kasih kepada teman dan rekan berikut, yang telah menjadikan cerita ini sedekat mungkin dengan dunia nyata: Leo S. (sisi pandang investor, pemegang saham, dan direktur grup perusahaan multinasional), Rifti Dwi Rizki Darsono (masukan, dialog, riset), Dinaka Tatsbita Sadariskar (passion, tapi harus seimbang), Michelle Aurelia (belanja online), Arthur (jatuh cinta), Aurel Gabriella Utama (sering tertawa), Michelle William Tanoto (memikirkan frontend), Daniel (memikirkan backend), Dewi Ismaneti (memikirkan weekend), Alvina Aulia (dipanggil Kak oleh mahasiswa), Dr. Sarwo (tokoh utama), Dr. Johan Tambotoh (general manager, agak genit), Dr. Karto Iskandar (cerewet, menyukai riset), Dr. Maria Seraphina Astriani (konsultan, sibuk), Dr. Wartika (dosen tamu, sabar), Davis Ray (Si Tampan), Wie Gunawan (Si Keren), Firmansyah (mineral baru), Hamka (cerita alternatif), Dr. Julbintor Kembaren (merasa ngeri), Adi Oetomo (gap antar generasi), Novia Nita (tersandung), Dr. Ford Lumban Gaol (jaringan luas), Yoga Prihastomo (HaKI), Benfano Soewito, Ph.D. (peduli). Terima kasih khusus kepada karakter Sarah untuk diskusi, semangat, dan kolaborasinya.

---

3

Perusahaan tersebut didirikan pada akhir tahun 1990-an, ketika mulai banyak kebutuhan akan penggunaan program komputer untuk menggantikan pekerjaan manual. Pada waktu itu, bahkan di kota besar seperti Jakarta, komputer adalah produk mewah. Tidak semua orang atau perusahaan mampu memiliki--dan lebih penting lagi, memanfaatkan--komputer. Namun, Davis Ray, yang lebih dikenal sebagai Ray Tampan, memiliki banyak visi.

Sebagian visinya terinspirasi dari kisah-kisah sukses perusahaan teknologi di luar negeri. Sebagian lagi dari mulai hadirnya Internet. Serta keinginan untuk memiliki produk sendiri. Oleh karena itu, ketika sebagian mahasiswa ilmu komputer belum memiliki komputer sendiri, Ray sudah memiliki dua komputer yang dirakit sendiri. Ketika sebagian masih kesulitan memahami pemrograman, Ray sudah melahap beberapa buku pemrograman yang dipinjam dari perpustakaan kampus.

Lalu, ketika masa bubble dot com di luar mulai terasa efeknya di sini, Ray membeli beberapa nama domain .com dengan susah payah. "Siapa tahu bisa dijual kembali dengan mahal," demikianlah kadang ia berharap. Pada masa itu, sejumlah perusahaan di luar negeri, dengan sejumlah ide yang hebat dan waktu yang tepat, berkembang sedemikian besar. Investor lebih mudah menggelontorkan dana ketika perusahaan datang dengan embel-embel dot com. Sayangnya, banyak juga yang tidak bertahan.

Ray tidak mendapat kesempatan untuk masuk ke bisnis internet. Sebagai gantinya, ia merayu, setengah memaksa, dan memastikan temannya, Wie Gunawan, untuk bergabung sebagai rekan pendiri perusahaan. Melihat Ray memiliki nama panggilan Ray Tampan, Wie memanggil dirinya Wigu keren. Demikianlah cerita mereka dimulai. Tampan dan keren, kurang apa lagi?

Pada masa itu, pengguna komputer umum bekerja dengan command line interface, dimana program dijalankan dengan perintah yang diketik, seperti dir, ls, dan lain sebagainya. Tapi, tentu saja, sudah dilengkapi dengan layar monitor, walaupun masih sederhana. Program yang lebih modern datang bersama user interface teks, yang dilengkapi kotak-kotak yang menyerupai tombol yang umum ditemukan sekarang. Dan, itulah yang kedua programmer muda tersebut hadirkan di program yang mereka hasilkan. Mereka membuatnya secara manual, dengan bahasa Pascal yang mereka pelajari di kampus.

"Kita harus masuk ke program yang digunakan oleh bisnis. Mereka yang akan menggunakan terus," ujar Ray, si tampan, ketika mereka sedang makan bubur kacang hijau. Si keren, mengangguk dengan mulut penuh, barangkali karena tidak punya pilihan lain. Ray selalu punya visi. Demikianlah, tak lama kemudian, mereka rutin menaiki bis kota, mencari kenalan dan senior yang membutuhkan penulisan program komputer. Pada sekitar tahun 2000, mereka menagihkan dua sampai tiga juta sebagai uang jasa, untuk program yang dikerjakan sekitar satu minggu. Tidak selalu cukup untuk hidup, tapi beberapa warung memang cukup pengertian untuk mengijinkan pelanggan setia membayar beberapa hari kemudian.

Kesuksesan mereka dimulai ketika mereka mampu menawarkan program yang datang dengan user interface grafikal dan sangat mudah digunakan. Alih-alih tombol dari karakter-karakter teks, tombol mereka adalah tombol yang umum digunakan saat ini. Mereka membaca sekian seri buku komputer, menerapkan penggunaan sistem database relasional, memimpikan apapun bahasa pemrograman dan teknologi yang diperlukan dalam tidur. Ketika aplikasi web mulai dikenal, mereka belajar lebih keras, berjualan lebih serius, memastikan reputasi tetap terjaga, dan mulai mempertimbangkan pengembangan usaha.

---

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan