Mohon tunggu...
Noprianto
Noprianto Mohon Tunggu... Programmer - Menyukai pemrograman dan bahasa pemrograman Singkong

Sayuran dan tepung kolaborasi menjadi bakwan. Singkong dan kentang dapat menjadi perkedel. Tepung saja bisa menjadi pangsit. Menyukai pemrograman dan bahasa Singkong menyebabkan kurang tidur. Menikmati pemandangan, diskusi, dan menulis akan menyeimbangkan. Website: https://nopri.github.io

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Kolaborasi] 1. Sarah, Tolong Jangan Pergi

8 Oktober 2021   06:21 Diperbarui: 10 Oktober 2021   15:32 105 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pembaca yang terhormat, ini adalah cerita bersambung seputar orang-orang yang berkarya di bidang pengembangan software, dengan sedikit kisah bisnis dan bumbu romantis. Terima kasih kepada teman dan rekan berikut, yang telah menjadikan cerita ini sedekat mungkin dengan dunia nyata: Leo S. (sisi pandang investor, pemegang saham, dan direktur grup perusahaan multinasional), Rifti Dwi Rizki Darsono (masukan, dialog, riset), Dinaka Tatsbita Sadariskar (passion, tapi harus seimbang), Michelle Aurelia (belanja online), Arthur (jatuh cinta), Aurel Gabriella Utama (sering tertawa), Michelle William Tanoto (memikirkan frontend), Daniel (memikirkan backend), Dewi Ismaneti (memikirkan weekend), Alvina Aulia (dipanggil Kak oleh mahasiswa), Dr. Sarwo (tokoh utama), Dr. Johan Tambotoh (general manager, agak genit), Dr. Karto Iskandar (cerewet, menyukai riset), Dr. Maria Seraphina Astriani (konsultan, sibuk), Dr. Wartika (dosen tamu, sabar), Davis Ray (Si Tampan), Wie Gunawan (Si Keren), Firmansyah (mineral baru), Hamka (cerita alternatif), Dr. Julbintor Kembaren (merasa ngeri), Adi Oetomo (gap antar generasi), Novia Nita (tersandung), Dr. Ford Lumban Gaol (jaringan luas), Yoga Prihastomo (HaKI), Benfano Soewito, Ph.D. (peduli). Terima kasih khusus kepada karakter Sarah untuk diskusi, semangat, dan kolaborasinya.

---

1

Ruang kantor itu tidak besar, namun cukup untuk menampung lima staf dengan leluasa. Masing-masing memiliki sebuah meja dengan lebar 1,8 meter, satu kursi kulit imitasi, dan setidaknya satu monitor di atas meja. Meja-meja tersebut disusun berseberangan, sehingga bicara cukup dilakukan dengan saling teriak. Tidak ada yang formal di ruangan itu. Di sudut ruangan, terdapat lemari yang digunakan untuk menyimpan suku cadang komputer, sejumlah DVD dan brosur produk, dan segala sesuatu yang tidak terpakai--namun tidak rela untuk dibuang. Di samping lemari beberapa kursi disusun secara sembarangan.

Di seberang ruangan, sebuah papan tulis besar dipasang begitu saja ke dinding. Pada masa-masa awalnya, papan tulis tersebut adalah tempat ide-ide ditulis. Masing-masing staf memiliki sedikit tempat di pojok papan untuk menulis apapun yang mereka inginkan. Sekarang, papan tulis tersebut hampir selalu kosong. Ide-ide lebih sering disampaikan lewat chatting. Sesekali, sinar dari proyektor menyinari bagian dari papan tersebut.

Sarwo duduk tidak jauh dari papan tulis tersebut. Sebagai pendiri perusahaan, ia kerja setidaknya 12 jam per hari, merangkap sana sini, sambil memberikan tugas ke siapapun yang cukup tidak beruntung ketika tugas tersebut muncul di kepalanya. Ia juga yang paling banyak menulis di papan tulis. Ketika sesekali proyektor digunakan, ia paling sibuk mondar mandir. Menghindari pancaran dari mesin proyektor, katanya. Padahal mesin tersebut tidak berpindah. Mondar mandir jelas tidak diperlukan.

Perusahaan tidak pernah berkembang pesat, namun pemasukannya cukup untuk membayar tagihan dan membagi rata di antara total empat staf tetap yang tersisa, ditambah bagian untuk kantor. Sarwo merancang sistem ini karena mustahil mempertahankan tim yang loyal dengan gaji standar. Bagian untuk kantor tidak selalu jelas, tapi Sarwo selalu punya alasan. "Untuk pengeluaran tambahan dan masa-masa sulit," katanya. Begitulah, masing-masing staf tetap mendapatkan jaminan gaji sesuai upah minimum, ditambah komisi per bulan yang kadang sebesar gaji, sedikit tunjangan, serta bonus tahunan yang kadang lumayan.

Perusahaan juga tidak pernah mengalami masalah berarti, sampai beberapa tahun yang lalu, Sarwo mengubah nama legal perusahaan menjadi Bakwan Pangsit Perkedel, dan menggunakan bakwan.dev sebagai nama domain perusahaan. Sebagai perusahaan pengembangan software bisnis, nama perusahaan tersebut jelas tidak mencerminkan unsur teknologi, kecuali tulisan 'it' di pangsit.

"Nama perusahaan ini memalukan, menyusahkan, dan tidak masuk akal," demikianlah selalu Johan berkicau ketika pulang dari presentasi di client. Johan--sang General Manager--adalah yang paling menguasai sisi bisnis, yang selalu merasa salah jalan berkarir di perusahaan teknologi, dan sudah berkali-kali mengancam untuk mundur setiap harus memulai presentasi dengan "Kami, dari Bakwan Pangsit Perkedel,..."

"Tidak ada yang salah dengan nama perusahaan. Semua adalah nama makanan enak. Kalau mau mundur, tolong tunggu, sampai kita dapat staf baru," demikianlah juga selalu jawaban dari Sarwo. Lama-lama, kicauan, ancaman, dan jawaban ini menjadi sekedar rutinitas. Ketika melihat software yang dibuat digunakan oleh client, untuk mendukung operasional bisnis mereka sehari-hari, kadang terselip rasa bangga.

---

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan