Mohon tunggu...
Cerpen Pilihan

Pangsit Perkedel, Tiga Windu yang Lalu

6 April 2019   08:27 Diperbarui: 6 April 2019   08:48 0 0 0 Mohon Tunggu...

Bisakah kamu percaya ayah bahkan memboyongnya ketika pindah kota untuk kuliah? Bersamanya, berkuliah di jurusan informatika, bukan hanya menjadikan hari semakin berwarna. Seiring waktu, ayah merasa bahwa impiannya semakin jelas. Diantaranya karena ayah mulai mengenal Delphi, yang digunakan untuk membuat program yang dapat berjalan di lingkungan kerja dengan GUI. 

Menjadi seorang programmer komputer adalah impian ayah. Menghasilkan sesuatu seperti penulis buku atau pencipta lagu. Ketika ayah bercerita, sesekali aku menduga bahwa ini tentu karena ayah tidak bisa memainkan alat musik atau tidak cukup tekun untuk menulis buku.

Sudah sewindu berlalu ketika ayah pertama menemukannya dan hubungan mereka masih baik-baik saja ketika ayah lulus kuliah. Masih rasa yang sama walaupun jelas sekali bahwa ayah mengenal yang lain. Bahkan ketika ayah berubah minat ke bahasa program lain seperti Java dan Python. Sewindu memang rasanya terlalu cepat untuk berpindah hati.

Atau tidak juga? Ayah tidak banyak bercerita tentang masa-masa ketika mulai menjadi programmer. Barangkali ayah lupa. Ayah tidak bercerita tentang mengetik kode program dari buku atau tidak membaca sambil makan perkedel. 

Mungkin karena tidak lagi khawatir buku menjadi kotor karena buku elektronik sudah mulai tersedia. Mungkin karena tissue basah mulai gampang ditemukan.

Tahun demi tahun berlalu dan kesibukan ayah bertambah. Tentu saja, aku tidak pernah tahu seberapa sibuk sampai tidak lagi mungkin untuk menambahkan sesuatu yang berwarna ke dalam program yang ayah hasilkan. Barangkali memang sekedar memenuhi spesifikasi program yang harus ditulis. Yang jelas, hubungan ayah dengannya cukup renggang.

Apakah ini memang impian ayah? Ataukah waktu memang menjadikan seseorang berubah? Tidak terasa, sewindu lagi berlalu. Banyak kode program telah dihasilkan. Membuat program memang tidak lagi sesulit masa lalu. Dengan umur yang semakin bertambah, semua ini barangkali hanya sebatas rutinitas. Sebelum memasuki windu ketiga, ayah akhirnya kehilangan dia.

Di suatu perjalanan ke luar kota, ayah bertanya. Apakah memang harus selalu bersama? Tentu saja aku tidak bisa menjawab. Melirik, barangkali karena khawatir bosan atau karena tiada tanggapan, ayah kemudian menjawab sendiri. 

Barangkali memang iya. Tidak semua orang bisa menemukan apa yang ayah temukan, di sebuah sudut perpustakaan, dan telah menemaninya selama bertahun- tahun, bahkan ketika masa-masa yang tidak mudah. Ayah melirik lagi. Karena tidak mungkin diam terus, aku pun mengangguk saja. Barangkali karena puas, ayah pun berpindah topik pembicaraan. Bagaimana kalau kita makan pangsit rebus?

Perjalanan tersebut sudah beberapa tahun lamanya. Tapi, aku ingat, bahwa sejak itu, ayah sedikit berubah. Ayah mulai lagi memesan buku pemrograman dari sebuah toko besar, lewat Internet. Butuh berminggu-minggu untuk sampai. 

Buku dengan topik yang rasanya tidak berkaitan langsung dengan pekerjaan ayah. Buku yang kadang membuat ayah berkomentar: harusnya ini dipelajari sungguh-sungguh ketika kuliah dulu. Jadi, tidak kerepotan memahami buku ini sekarang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
KONTEN MENARIK LAINNYA
x