Mohon tunggu...
Cerpen Pilihan

Pangsit Perkedel, Tiga Windu yang Lalu

6 April 2019   08:27 Diperbarui: 6 April 2019   08:48 0 0 0 Mohon Tunggu...

Namaku Pangsit Perkedel. Nama depan Pangsit, nama belakang Perkedel. Konon, aku diberi nama itu karena ayah suka memakan pangsit dan juga perkedel. Namun, barangkali dimakan secara terpisah. Karena rasanya pangsit kurang cocok apabila dimakan bersama perkedel.

Ini adalah cerita tentang ayah karena aku belum punya banyak untuk diceritakan. Dikumpulkan dari potongan cerita yang sesekali terlintas ketika kami sedang liburan atau makan. Walaupun suka dengan pangsit dan perkedel, makanan tersebut tidak selalu tersedia. 

Tapi rata-rata memang makanan berkalori tinggi yang hadir. Untung saja namaku bukan Trigliserida. Karena, rasanya agak sulit untuk menyebutkannya.

Tiga windu yang lalu, di sebuah sudut perpustakaan, ayah menemukannya. Sebagai seorang remaja yang tinggal di kota kecil, hari-harinya berubah, menjadi berwarna, dan penuh impian. Sepulang sekolah, seringkali waktu dihabiskan di sudut tersebut, sampai mendekati waktu perpustakaan tutup atau kalau sudah lapar. 

Tidaklah mungkin menyantap makanan di perpustakaan, walaupun berupa pangsit goreng ataupun perkedel. Karena tangan akan menjadi berminyak dan buku-buku akan menjadi kotor. Tissue basah belum semudah itu ditemukan pada waktu itu.

Hari yang berwarna -- ketika itu -- artinya adalah duduk di depan komputer. Komputer yang masih dilengkapi dengan disket berukuran besar dan belum dilengkapi harddisk. Tentu saja, tanpa akses internet. Masa-masa yang sederhana. 

Masa-masa ketika keseluruhan sistem operasi dan program yang dibutuhkan masih muat dalam disket 1,44 MB. Disket yang harus selalu dibawa, kadang perlu dicadangkan, karena bisa saja rusak atau hilang.

Program penting yang selalu ada di dalam disket tersebut adalah Turbo Pascal. Ketika mendapatkan komputer sewaan dengan layar berwarna, ayah bekerja dengan layar berwarna biru. Dan, menghabiskan waktu dengan mengetik kode program yang tertulis dalam buku yang dipinjam dari perpustakaan. Selesai mengetik, seringkali kompilasi kode program tersebut gagal, karena salah ketik. Ayah bukanlah pengetik yang handal. 

Ketika kesalahan tersebut telah diperbaiki, ayah akan cukup puas ketika program berjalan sesuai cerita dalam buku. Sesekali, ketika semakin mengerti apa yang diketik, perubahan-perubahan kecil dilakukan. Mengubah warna, menambahkan suara beep, dan lainnya.

Ayah selalu kembali ke sudut perpustakaan tersebut karena dia selalu ada di sana. Untung saja buku-buku yang dipinjam seringkali cukup tipis. Untung juga karena ada batas waktu meminjam buku. Dan selalu ada buku dengan judul yang cocok. Bahkan, ada buku yang berseri. 

Sehingga, alasan ke sudut perpustakaan tersebut cukup banyak. Yah, sesekali dia tidak di sana, dan ayah pun berkelana ke bagian novel. Tapi, ayah selalu bisa menemukannya kembali waktu itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x