Novel

Kuala Lumpur Love Story (5)

5 Desember 2018   01:00 Diperbarui: 5 Desember 2018   01:35 198 0 0
Kuala Lumpur Love Story (5)
Dokpri

ABIMANYU menghela napas sejenak mendengar apa yang dikatakan Martino tadi. Diambilnya cangkir kopinya dan dia berjalan ke arah jendela, melihat Kota Shah Alam di malam hari dari ketinggian lantai 8 flatnya. Terlihat bagunan-bangunan tinggi dengan lampu warna-warni. Jalanan juga terlihat ramai. Di beberapa titik, terlihat kemacetan.

Ini kondisi biasa. Yang tak biasa adalah ketika Selangor FA bermain di kandangnya, Stadion Shah Alam, baik dalam pertandingan Liga Super maupun pertandingan lainnya,  maka dipastikan seharian kemacetan panjang akan mengular. Mulai para penonton berdatangan maupun saat pulang hingga tengah malam. Bersama beberapa kawannya, dia sering ikut nonton. Kebetulan Selangor sering diperkuat oleh beberapa pemain Indonesia yang dikenal luas di sini. Dulu pernah ada Elly Aiboy dan Bambang Pamungkas. Mereka berdua dianggap sebagai pemain asing asal Indonesia yang paling berhasil di Selangor FA. Bertahun-tahun klub bergelimpang prestasi, dan dua pemain itu termasuk bintang dan motor klub yang identik dengan warna merah-kuning menyala ini. Warna yang mengingatkan kita pada klub besar asal Turki, Galatasaray.

Kemudian setelah mereka kembali ke tanah air, Andik Vermansyah didatangkan dari Persebaya. Ini adalah strategi pemasaran yang jitu bagi Selangor FA. The Reds Giants memanfaatkan banyaknya pendukung dari Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah, baik yang tinggal di Kota Shah Alam, Petaling Jaya, Kuala Lumpur dan daerah-daerah lainnya tak jauh dari Selangor. Mereka kebanyakan para pekerja Indonesia di berbagai sektor. Baik di sektor perkebunan, industri, dan sektor lainnya.

Penonton akan sangat ramai kalau pertandingan dimainkan di akhir pekan atau hari libur. Para pekerja sektor jasa biasanya sudah libur pada Sabtu dan Ahad. Sedang pekerja perkebunan biasanya libur pada Ahad. Mereka akan berbondong-bondong ke stadion di hari libur. Maka jangan heran kalau mayoritas yang masuk stadion kebanyakan adalah orang Indonesia. Lebih spesifik lagi, kebanyakan mereka berbahasa Jawa. Mereka bukan pendukung tetap Selangor FA, tetapi pendukung para pemain Indonesia di klub tersebut. Setelah Elly dan Bambang, mereka menjadi pendukung setia Andik Vermansyah selama bertahun-tahun. Dia belum datang ketika Elly dan Bambang memberi kejayaan kepada Selangor FA. Dia hampir tak absen ketika Andik bermain. Ikut larut dalam suasana meriah berasama para suporter lainnya.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Martino yang sejak tadi masih tiduran di kasurnya.

Abi menoleh sejenak ke Martino. "Apa yang kamu pahami tentang Dewi Utari, Martin?"

Suara Martino akhirnya pecah. Dia tertawa keras. Lalu, katanya, "Kukira kamu cuek dengan apa yang kukatakan tentang Dewi tadi? Ternyata terpikirkan juga ya?"

"Bukan itu maksudku. Selama ini hubungan kami baik-baik aja. Sejak dulu. Tak berubah..."

"Ya kalau semua baik-baik, apa yang harus dipikirkan?"

"Kampret kau!" katanya sambil berusaha memukul badan Martino. "Tadi kamu bilang ada masalah dengan Dewi, sekarang kamu bilang nggak ada masalah..."

Martino masih tertawa melihat tingkat temannya yang serba salah itu. "Kamu harus bertanggung jawab kalau sampai malam ini dia tak pulang ke flatnya..." katanya masih berusaha menggoda.

"Memangnya kenapa?" tanya Abi.

"Siapa tahu dia ingin menghilang biar kamu cari..."

"Nggak mungkinlah. Dewi bukan tipe perempuan seperti itu. Dia tak pernah memperlihatkan gejolak dalam dirinya. Dia selalu tenang menghadapi semua masalah. Dia sangat dewasa..."

"Termasuk bagaimana dia mengalami kegalauan ketika memilih ke Leicester atau mengikutimu ke sini?"

"Mengikuti aku? Tidak. Dia sendiri yang memilih kok. Sudah kujelaskan, kan?"

"Iya. Dan sekali lagi kujawab. Alasan utama dia memilih kuliah di sini bukan karena jarak Jakarta-KL yang dekat seperti ke Medan atau Surabaya. Tapi karena dia ingin selalu berada di dekatmu..."

"Besok kamu pindah ke Fakultas Sastra ya..." kata Abi sambil tertawa.

"Kenapa?"

"Untuk belajar teori fiksi. Dan kamu akan mudah menulis fiksi. Ngarang... Tau?" (bersambung)