Mohon tunggu...
Penyair Amatir
Penyair Amatir Mohon Tunggu... Profil

Pengasuh sekaligus budak di lapak www.penyair-amatir.id, mengisi waktu luang dengan mengajar di sekolah menengah dan bermain bola virtual, serta menyukai fiksi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Sebuah Pilihan

12 Juli 2019   16:37 Diperbarui: 12 Juli 2019   16:49 0 2 1 Mohon Tunggu...
Sebuah Pilihan
pixabay.com

Saya tiba di Kopi Paste lebih dulu. Kopi Paste dipilihnya sebagai tempat ketemuan bukan karena dia sering nongkrong di situ, tetapi karena Radif juga tahu tempat itu.

Saya duduk di sebelah pasangan yang ngobrol dengan intimnya. Eh, mungkin lebih tepatnya akrab kali ya. Sebenarnya banyak meja kosong. Tapi saya pilih yang menghadap ke jalan. Biar mudah menjangkau Radif.

Kehadiran saya di situ sepertinya tidak mengganggu pasangan itu. Tak sedikitpun mereka melirik atau sekadar menghentikan obrolan.

Saya tak perlu memesan apapun. Karena penjaganya sudah tahu. Saya cukup duduk saja. Tanpa berucap. Lalu datang kopi favorit saya.

Sembari menunggu saya baca bukunya Andrea yang baru. Orang-Orang Biasa. Tapi telinga saya sepertinya lebih aktif mendengarkan obrolan pasangan di sebelah saya.

"Kapan pun kamu siap, saya siap. Lagipula, anak-anak sudah tahu kamu seperti apa" ujar si perempuan.

"Mantan suami kamu gimana?" balas si pria

"Saya sudah bilang. Harus berapa kali lagi. Perceraian itu sudah mengakhiri semuanya. Sampai kapan kamu terus-terusan menanyakan hal itu" si perempuan nadanya kesal.

Saya lirik sekilas. Tangan si pria meremas tangan si perempuan. Suasana hening.

Mata saya kembali pada buku. Tapi kepala lebih fokus menyimak informasi dari telinga.

"Beri saya waktu sebulan lagi. Aku akan selesaikan beberapa hal mengganjal. Lalu  kita akan menikah" ujar si pria menenangkan.

Si perempuan tak menjawab.

"Yunita. Kamu harus percaya aku. Ini semua demi kebaikan kita. Aku tengah mengurus hal tercecer dari perceraianku.  Aku mohon." pria itu suaranya pelan. Memelas. Dan telinga saya dapat mendengarnya.

Tiba-tiba Radif sudah menepuk pundak saya. Seperti biasa, ia minta maaf atas keterlambatannya.

"Saya terima apapun alasanmu. Sebab kalau kamu sekali saja tepat waktu, mungkin akan kiamat." ujar saya jengkel.

Radif tertawa. Kedua pasangan di sebelah saya itu berkemas. Lalu meninggalkan tempat.

"Urusan kita harus dipending dulu. Ada berita kebakaran di Margorukun. Dekat kampung ilmu itu. Api berkobar dan menghabiskan dua puluh tiga rumah."

Saya terkejut. Bagaimanapun, musibah yang menimpa siapapun perlu mendapat atensi.

"Saya pernah ke sana. Rumah-rumahnya berjubel. Sangat padat. Mereka kaum pekerja dari kelas bawah. Yang tetap manusia sebagaimana kita." kata saya untuk menyambung obrolan.

Radif menuang kopi. Lalu meminumnya perlahan.

"Kemarin aku dari sana. Maksudnya mampir. Ngobrol sama Yudi. Orang situ. Ia bilang jika dirinya lagi apes. Ia dipecat dari pekerjaannya. Satpam di sebuah pabrik. Pabriknya bangkrut."

"Lalu.." ujar saya sambil menatap halaman novel.

"Saya lihat di TV. Ia diwawancarai. Rumahnya ludes. Tak ada yang bisa diselamatkan. Maksudnya, harta bendanya. Ia menangis ketika live di berita itu" kata Radif dengan suara parau.

Radif memang tipikal pribadi yang mudah tersentuh. Saya sudah lama mengenalnya.

"Sekarang aku mau ke sana. Yudi dan korban lainnya mengungsi di kampung ilmu." Radif berdiri. Menunggu.

Saya menggeleng.

"Aku tahu" ujar Radif sinis. Ia dengan cepat menuju motornya.

Tanpa menoleh pada saya, ia pergi dengan motor bututnya. Meninggalkan saya yang memilih nyaman dihadapan novel dan secangkir kopi. Yang tidak baik-baik saja.

Sukodono, Sda
12/7/2019