Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Regional

Menantu Versus Mertua, Siapa yang Lebih Kuasa?

5 Desember 2013   13:28 Diperbarui: 24 Juni 2015   04:17 20881 4 4
Menantu Versus Mertua, Siapa yang Lebih Kuasa?
13862248661530429525

[caption id="attachment_306574" align="aligncenter" width="400" caption="ilustrasi : www.ispeak.us "][/caption]

Otong dan Obleh, dua lelaki paruh baya, tengah berbincang soal kebahagiaan dalam rumah tangga.

Otong : "Menurutku, Nabi Adam itu lelaki paling bahagia..."

Obleh : "Mengapa kamu bisa bilang begitu Tong?"

Otong : "Karena beliau tidak memiliki mertua. Jadi tidak perlu pusing karena berurusan dengan mertua..."

Obleh : "Astaghfirullahal 'azhim.... Istighfar Tong ! Tidak boleh kamu punya pikiran seperti itu...."

Rupanya Otong sedang kesal dengan mertuanya yang dianggap bawel dan sering melakukan tindakan yang tidak menyenangkan dirinya. Otong merasa sangat tersiksa gara-gara sikap mertua yang tidak sesuai keinginan dirinya.

Realitasnya, dalam kehidupan sehari-hari, memang banyak kita temukan kasus konflik antara menantu versus mertua, sebagaimana yang dialami Otong.

Mertua adalah Orang Tua Kedua

Yang dimaksud dengan mertua adalah orang tua dari isteri atau orang tua dari suami. Namun dalam ajaran agama, status dari mertua itu sama seperti orang tua kandung. Mertua bukanlah orang lain, dia dengan sendirinya menjadi “orang tua kedua” bagi suami atau isteri setelah mereka menikah. Segala aspek hukum agama serta hak dan kewajiban dari anak maupun menantu menjadi sama, baik kepada orang tua sendiri maupun kepada mertua.

Oleh karena itu, tidak layak seorang suami membeda-bedakan perlakuan antara kepada orang tua dengan kepada mertua. Demikian pula tidak layak bagi seorang isteri untuk membedakan perlakuan kepada orang tua sendiri dengan kepada mertua. Suami dan isteri harus sama-sama memahami posisi ini dan berperilaku yang tepat dalam menghadapi orang tua dan mertua. Dalam penghormatan, dalam bakti, dalam sikap, dan dalam hal-hal yang bercorak teknis, harus memperlakukan mertua secara tepat dan adil, tanpa membedakan dengan orang tua.

Kalau urusan bantuan materi, tentu tidak harus sama persis jumlah dan frekuensinya. Karena kalau anak maupun membantu orang tua dan mertua, tentu bisa memperhatikan banyak faktor, di antaranya adalah kondisi riil orang tua dan mertua. Yang paling penting, suami dan isteri harus berada dalam kekompakan sikap, sehingga aspek bantuan materi tidak menjadi faktor kecemburuan baik pada orang tua dan mertua, maupun pada suami dan isteri itu sendiri.

Dipicu Kecemburuan

Konflik menantu versus mertua, rupanya bukan hanya berimbas dalam hubungan antara menantu dengan mertua, namun bisa berimbas dalam kehidupan keluarga menantu dengan suami atau isterinya. Di antara sumber dan pemicu konflik ini adalah kecemburuan.

Kadang dijumpai konflik suami dan isteri yang dipicu oleh faktor kecemburuan dalam mensikapi orang tua dan mertua. Isteri merasa suaminya berlaku tidak adil. Ketika memberi bantuan materi kepada orang tua suami dianggap berbeda dengan apa yang diberikan kepada mertua. Isteri menjadi bersikap emosional dan marah-marah karena menganggap suami hanya peduli dengan orang tuanya sendiri. Ia menuduh suaminya lebih mengutamakan orang tua daripada mertua, dengan “bukti” bantuan materi yang diberikan ke orang tua lebih banyak daripada yang diberikan kepada mertua. Selain itu, kunjungan suami ke rumah orang tua lebih sering dibanding dengan kunjungan ke rumah mertua.

Ada pula suami yang merasa istrinya berlaku tidak adil. Ketika menghadapi orang tuanya sendiri, istri tampak sedemikian hormat dan mau mengalah. Namun saat menghadapi mertua, istri sering tegang dan emosional. Suami menganggap istri tidak mau mengalah ketika berhadapan dengan mertua, padahal ketika berhadapan dengan orang tuanya sendiri tampak mudah sekali mengalah. Sementara istri menganggap mertuanya sangat tidak menyenangkan, berbeda dengan orang tuanya sendiri.

Rasa cemburu ini juga biasa muncul pada mertua perempuan kepada menantu perempuan. Sejak anak lelakinya menikah, maka ia merasa kehilangan perhatian dari anak lelaki tersebut, karena harus berbagi dengan isteri. Sementara istri juga tidak senang apabila melihat suaminya masih sangat dekat dan lengket dengan ibunya, seperti kata orang : “anak Mama”. Istri merasa cemburu kepada ibu mertuanya yang membuat perhatian suami terpecah, tidak utuh kepada dirinya. Maka banyak konflik terjadi antara mertua perempuan dengan menantu perempuan.

Perbedaan Karakter

Faktor lain pemicu konflik antara menantu dengan mertua adalah perbedaan karakter. Mertua memiliki karakter yang sudah mapan karena usianya yang sudah tua, dan sering kali tidak bisa berubah menyesuaikan dengan harapan menantu. Jika memiliki mertua yang pemarah, maka menantu harus sangat sabar karena sangat sulit bagi menantu untuk mengubah karakter mertua yang memang sudah tua itu. Jika memiliki mertua yang suka berkata kasar, menantu harus lebih banyak sabar, karena sulit bagi menantu untuk mengubah watak kasar tersebut.

Berbeda dengan menghadapi anak. Jika kita punya anak, maka masih sangat mudah membentuk karakter mereka apabila dilakukan sejak kecil. Namun menghadapi mertua, kita ketemunya setelah dewasa, dan dia sudah tua. Kita tidak mengerti karakternya dari awal, maka ketika menjadi menantu menjadi mudah terkejut dan terkaget-kaget oleh sikap dan perangai mertua yang tidak sesuai harapan.

Menantu Harus Lebih Sabar

Jangan menuntut kekuasaan atas mertua. Menantu harus kuat dan sabar dalam menghadapi mertua. Sikap yang paling utama adalah kesamaan sikap antara suami dan isteri dalam berinteraksi dengan orang tua dan mertua. Harus ada kesamaan persepsi, kesamaan sikap, kesamaan posisi dari suami dan isteri, sehingga akan mudah menyelesaikan persoalan apabila muncul masalah dengan mertua.

Menuntut mertua untuk menyesuaikan sikap dengan menantu adalah hal sulit, karena mertua berada di posisi orang tua. Mereka sudah tertelan usia, sehingga memiliki karakter yang cenderung sudah mapan. Maka yang bisa dilakukan oleh menantu adalah bersabar menghadapi sikap mertua, dan menghadapi bersama suami pada kesamaan posisi.

Jika masih ada yang suka konflik dengan mertua, segera perbaiki diri. Ingat, mertua itu statusnya sama dengan orang tua sendiri. Harus dihormati, harus dirawat, harus diperhatikan. Tidak boleh dikasari, tidak boleh ditelantarkan, tidak boleh disakiti hati dan perasaannya. Walaupun mungkin saja perbuatan dan ucapan mereka ada yang tidak kita sukai, namun kita wajib berbakti dan menghormati.