Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Konsultan - Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Peraih Pin Emas Pegiat Ketahanan Keluarga 2019" dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Konsultan Keluarga di Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Agar Nyaman Berinteraksi dengan Besan

24 Agustus 2021   16:35 Diperbarui: 24 Agustus 2021   16:42 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di pentas politik nasional, kita pernah mendapatkan berita tentang perseteruan antar besan karena perbedaan pandangan politik. Keduanya adalah tokoh politik nasional, yang saling menjadi besan karena pernikahan anak-anak mereka. 

Sayang, sang besan memiliki pandangan politik yang berbeda secara tajam, sehingga melahirkan konflik terbuka hingga di media.

Persoalan antar besan merupakan hal yang banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat kita. Tentu konflik antar besan bisa memengaruhi kebahagiaan keluarga anak dan menantu. 

Bahkan bisa jadi konflik bisa meluas, tidak hanya melanda besan, namun berkembang menjadi konflik antara anak dan menantu dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Tentu saja hal itu bisa dihindari. Berikut beberapa sikap yang selayaknya dimiliki oleh kedua belah pihak besan, untuk merajut hubungan yang nyaman.

  • Saling menyesuaikan diri

Semua manusia itu unik, pasti ada titik perbedaan. Tidak ada manusia yang sama persis dalam sifat dan karakter, meskipun mereka berdua kembar identik. Jangankan antara besan, sedangkan antara adik dan kakak juga pasti ada perbedaan.

Untuk itu, kedua belah pihak harus bersedia beradaptasi, saling menyesuaikan diri. Terlebih pada besan dengan latar budaya jauh berbeda. Misalnya pernikahan antar budaya, lelaki Amerika menikah dengan perempuan Indonesia, lelaki Indonesia menikah dengan perempuan Jepang, dan lain sebagainya.

Pasti ada sangat banyak hal yang harus diadaptasikan. Bukan saja faktor bahasa, tetapi juga cara berkomunikasi, cara berinteraksi, cara memberikan penghormatan, dan lain sebagainya.

  • Saling menerima perbedaan

Indonesia adalah negara yang tersusun atas perbedaan-perbedaan. Itulah sebabnya dikemukakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, untuk merajut semua yang berbeda menjadi potensi kekuatan bangsa.

Faktor perbedaan di Indonesia terlalu kompleks. Ada ribuan suku bangsa, ada ratusan bahasa daerah, ada perbedaan warna kulit, bahkan perbedaan afiliasi politik. Banyak hal yang bisa memicu pertikaian jika tidak memiliki kesadaran untuk menerima perbedaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun