Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Menjemput Surga Sebelum Surga

26 Mei 2019   07:18 Diperbarui: 26 Mei 2019   12:47 0 6 1 Mohon Tunggu...
Menjemput Surga Sebelum Surga
Photo by Irina Iriser from Pexels

Kita sering mendengar ungkapan indah dalam bahasa Arab, baiti jannati. Rumahku, surgaku. Kendatipun ungkapan ini bukan hadits Nabi, namun memberikan dorongan motivasi yang kuat agar kita berusaha mewujudkan surga sebelum surga. 

Yaitu kenikmatan dan kesenangan surga di dunia, dalam bentuk kehidupan berumah tangga, sebelum merasakan kenikmatan dan kesenangan surga di akhirat kelak.

Bahagianya hidup menjadi orang beriman, selalu bisa merasakan surga sejak di dunia hingga akhirat kelak. Namun tentu saja, untuk mendapatkan suasana surga di dalam rumah tangga, tidaklah terjadi begitu saja. Harus ada usaha semua pihak untuk mewujudkannya, sejak dari meletakkan pondasi, hingga menciptakan bangunan surga dalam rumah tangga.

Untuk mewujudkan rumah tangga bersuasana surga, diperlukan beberapa usaha yang harus dilakukan secara bersungguh-sungguh oleh semua anggotanya.

Pertama, Suami yang Menghadirkan Surga

Unsur yang pertama kali harus dibentuk adalah suami ---dan sekaligus ayah--- yang mampu menghadirkan surga dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala rumah tangga sangat besar pengaruhnya dalam membentuk suasana rumah tangga. Siapakah lelaki yang bisa menghadirkan surga dalam rumah tangganya? Ialah lelaki yang berakhlaq mulia.

Nabi Saw bersabda:

"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku" (HR. At-Tirmidzi no 3895, Ibnu Majah no 1977. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Sahihah no 285).

Asy Syaukani menjelaskan makna hadits tersebut dengan menyatakan : "Dalam hadits ini tersimpan catatan penting. Bahwa orang yang paling tinggi derajatnya dalam kebaikan dan paling berhak meraih sifat tersebut ialah, orang-orang yang paling baik perilakunya kepada keluarganya".

"Sebab", ungkap Asy Syaukani, "keluarga, mereka itu merupakan orang-orang yang paling berhak dengan wajah manis dan cara bergaul yang baik, curahan kebaikan, diusahakan mendapatkan manfaat, dilindungi dari bahaya. 

Jika ada lelaki yang demikian, niscaya ia berpredikat sebagai manusia yang terbaik. Jika ia bersikap sebaliknya, maka ia berada dalam keburukan. Banyak orang yang terjerumus dalam keteledoran ini".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5