Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Penulis Buku Wonderful Family Series

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Hiburan Pilihan

Ketika "212" Menyatukan Kembali Ayah dengan Anaknya

15 Mei 2018   12:03 Diperbarui: 17 Mei 2018   12:35 1409 1 0
Ketika "212" Menyatukan Kembali Ayah dengan Anaknya
sumber: (dok. Warna Pictures)

Film 212 The Power of Love mulai tayang di bioskop sejak tanggal 9 Mei 2018 lalu. Hingga hari ini, berbagai bioskop selalu penuh padat penonton, karena tertarik untuk "reuni" dan mengenang kembali peristiwa aksi 212 yang sangat bersejarah bagi masyarakat muslim Indonesia. 

Saya sudah dua kali ikut nonton bareng, yang pertama di Bintaro, kedua di Yogyakarta. Bagi saya, ini adalah film keluarga, untuk perenungan dan edukasi bagi seluruh anggota keluarga. Film 212 lebih banyak bercerita tentang kehidupan satu keluarga.

Secara umum, film ini terasa kuat karena berpusat pada penampilan karakter Rahmat (Fauzi Baadila), jurnalis majalah Republik yang tidak percaya ajaran agama. Rahmat adalah lulusan terbaik Harvard University dan pengagum Karl Marx, yang berkarakter dingin dan idealis. Padahal Rahmat adalah anak dari seorang Kiai Zainal (Humaidi Abbas), seorang tokoh Islam berpengaruh di Ciamis. Konflik terbangun sangat deras, antara Kiai Zainal dengan Rahmat, sejak awal film.

Kiai Zainal adalah tokoh agama dan pejuang agama, Rahmat adalah orang yang meninggalkan keyakinan agama, padahal lulusan Pesantren. Kiai Zainal ikut memimpin dan menggerakkan massa Ciamis untuk mengikuti Aksi Damai 212 di Monas, Rahmat sangat sinis dan menentang aksi tersebut. Kiai Zainal sosok orang lugu dan 'kampungan', Rahmat adalah sosok manusia cyber dan global. Kiai Zainal bercorak ortodok, Rahmat bercorak liberal. 

Kiai Zainal menganggap aksi 212 adalah perjuangan membela agama, Rahmat menganggap 212 adalah aksi konyol yang ditunggangi kelompok politik praktis. Keduanya seakan-akan berbenturan secara vis a vis.

Sepuluh tahun Rahmat tidak bertemu sang ayah, ada sangat banyak alasan tersimpan di balik kisah keterpisahan ini. Alasan paling teknis adalah kesibukan kerja Rahmat di ibukota. Sebagai jurnalis, Rahmat tampak sangat menikmati pekerjaannya, sampai tidak sempat memperhatikan keluarga, juga tidak sempat berpikir untuk berumah tangga. Bahkan Adhin (Adhin Abdul Hakim), seorang fotografer teman kerja yang sekaligus teman karib Rahmat pun, tidak pernah tahu bahwa Rahmat masih punya bapak ibu di Ciamis.

Rahmat baru sempat pulang ke Ciamis saat mendapat kabar ibunya meninggal dunia. Pada momentum pulang itulah, konflik ayah dengan anak kembali mengemuka. Seakan mengorek semua luka-luka lama, Kiai Zainal dan Rahmat berwatak sama-sama kerasnya. 

Benar komentar Adhin saat menyaksikan pertengkaran keduanya, "Anak dan Bapak sama saja kelakuannya". Sama-sama berwatak keras, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama teguh memegangi keyakinan, sama-sama ketus dalam perkataan. Bahkan saling ledek dan saling ejek.

Namun ada beribu alasan lain atas menghilangnya Rahmat selama sepuluh tahun dari keluarga. Masa kecil Rahmat yang cenderung nakal dan tidak terkendali, membuat Kiai Zainal memutuskan mengirim Rahmat ke Pesantren untuk sekolah. Sebagai orang tua yang taat beragama, Kiai Zainal sangat ingin semua anaknya menjadi anak salih dan dekat dengan masjid. Namun rupanya Rahmat menjadi ujian tersendiri bagi sang ayah. 

Rahmat justru menjadi anak nakal dan ugal-ugalan. Saat berusia sebelas tahun Rahmat meledakkan mercon dan kembang api di dalam masjid yang menyebabkan kebakaran. Saat berusia enambelas tahun Rahmat mengendarai mobil dengan ngebut hingga menyebabkan kecelakaan yang menewaskan dua adik kandungnya.

Maka Pesantren adalah pilihan yang tepat untuk mendidik Rahmat, demikian keyakinan sang Ayah. Namun tidak bagi Rahmat. Ia merasa seperti dimasukkan ke dalam penjara. Ya, benar-benar seperti di penjara. DItambah lagi, selama Rahmat belajar di Pesantren, tidak sekalipun ditengok sang Ayah dan Ibu. Sakit rasanya, benar-benar merasa menjadi anak yang dibuang dari keluarga. Pada saat wisuda sajalah sang ibu hadir.

Rahmat merasa sebagai anak yang tidak diharapkan orang tua. Mungkin sebenarnya memang seperti itu kejadiannya. Akan tetapi sepertinya Rahmat terlalu berlebihan dalam kekecewaan terhadap ayahnya yang dianggap telah membuang dirinya ke "penjara". 

Rahmat mengira sudah tidak ada tempat bagi dirinya di hati sang Ayah yang kecewa dengan kelakuannya. Maka dengan jerih payah dan usaha sendiri, ia berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di Harvard University, bahkan berhasil menjadi lulusan terbaik. Di titik ini, Rahmat ingin orang tuanya bisa bangga dengan prestasi yang diraihnya. Namun ia tidak mendapatkan itu. Menurut Rahmat, sang Ayah tidak berbangga.

(dok. Warna Pictures)
(dok. Warna Pictures)
Kekecewaan Rahmat semakin menumpuk saat mengetahui ayahnya memimpin aksi longmarch ke Monas. Dalam situasi sudah tua dan sakit-sakitan, Kiai Zainal bertekad ikut jalan kaki dari Ciamis sampai Monas. Ini bukan saja membuat kesal Rahmat lantaran kenekatan sang ayah, namun juga karena bertentangan dengan ideologi yang diyakini Rahmat. 

Dengan segala cara Rahmat berusaha menggagalkan keberangkatan sang ayah, namun Kiai Zainal tidak bergeming. Ia tetap ikut dalam barisan longmarch lebih dari 300 km dari Ciamis menuju Monas.

Saat rombongan longmarch tiba di Tasik, sudah disambut dengan sangat baik oleh warga masyarakat yang menyiapkan tempat istirahat serta makan dan minum bagi rombongan yang dipimpin oleh Abrar (Hamas Syahid). 

Ada dialog sangat menarik dari tokoh agama di Tasik yang menyambut kedatangan rombongan longmarch tersebut, dengan Kiai Zainal. Digambarkan anak sang tokoh yang belajar agama dari Timur Tengah dan menjadi kebanggaan sang ayah. Di depan Rahmat, Kiai Zainal memuji-muji anak tersebut yang telah menjadi anak salih. Rahmat merasa semakin tidak diterima oleh sang Ayah.

Konflik ayah dan anak mewarnai sepanjang durasi film ini. Hingga titik puncak konflik saat Rahmat memaksa ayahnya pulang karena tampak kelelahan saat sudah berada di tengah kerumunan massa aksi 212. "Sekaligus ayah lebih mementingkan ummat, memberi pencerahan untuk ummat, sekaligus gila penghormatan dari ummat. Namun apa yang ayah lakukan untuk anaknya sendiri, nol besar", ujar Rahmat. Dialog ini sangat menusuk perasaan sang ayah.

Peran Yasna (Meyda Sefira) sangat besar dalam ikut melunakkan hati Rahmat yang demikian keras. Dalam beberapa kali kejadian, Rahmat mendapatkan sikap kekerasan dari pihak yang mendukung aksi 212. Mereka menuduh Rahmat sebagai pengkhianat bahkan munafik. Bukan hanya orang luar, bahkan Abrar yang masih saudara Rahmat pun ikut menghadapi Rahmat dengan kekerasan fisik. Namun itu semua dilerai oleh Yasna yang berhasil menyadarkan mereka.

Apalagi saat di tengah gemuruh aksi 212, Rara (Echi Yiexcel), seorang jurnalis non muslim dari majalah Republik, teman kerja Rahmat, memberikan kesaksian yang sangat berbeda dengan pemikiran Rahmat. Selama ini Rahmat meyakini bahwa aksi 212 adalah perbuatan konyol yang dirunggangi kelompok politik untuk tujuan-tujuan penggulingan kekuasaan atau makar. Aksi tersebut merupakan bentuk radikalisme beragama, dimana agama dijadikan sebagai topeng dan alat untuk mencapai tujuan politik, sehingga berpotensi besar untuk menimbulkan kerusahan dan konflik dengan aparat. Terbayang akan ada banyak korban. Demikian yang dipikirkan Rahmat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2