Mohon tunggu...
Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan Mohon Tunggu... Penulis Buku, Konsultan Pernikahan dan Keluarga, Trainer

Penulis Buku Serial "Wonderful Family", Peraih Penghargaan "Kompasianer Favorit 2014"; Konsultan di "Rumah Keluarga Indonesia" (RKI) dan "Jogja Family Center" (JFC). Instagram @cahyadi_takariawan. Fanspage : https://www.facebook.com/cahyadi.takariawan/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Cantik, Terdidik, Sayang Tidak Sopan

10 Juli 2016   08:52 Diperbarui: 10 Juli 2016   09:29 0 22 21 Mohon Tunggu...
Cantik, Terdidik, Sayang Tidak Sopan
www.republika.co.id

Lebaran H + 3 lalu saya mengunjungi beberapa sanak saudara di sebuah kota kecil di wilayah Jawa Tengah. Setelah menempuh perjalanan panjang dengan suasana jalan yang padat merayap, sampai juga saya sekeluarga di penginapan. Begitulah suasana mudik lebaran, selalu diwarnai dengan keramaian dan kepadatan di semua tempat. Baik di jalan raya, di pusat perbelanjaan maupun di tempat hiburan masyarakat. Semua padat dan ramai oleh para pemudik. Termasuk saya sekeluarga, ikut memadatkan dan meramaikan lebaran.

Malam hari bakda Maghrib, saya menyempatkan diri mengunjungi sebuah toko karena ada keperluan membeli beberapa barang. Sebenarnya saya enggan keluar penginapan karena terbayang macetnya jalanan dan ramainya suasana kota kecil tersebut. Namun karena ada keperluan mendesak, akhirnya saya tetap pergi juga. Saya memilih pergi sendiri tidak mengajak anak-anak agar lebih cepat dan segera bisa kembali ke penginapan.

Seperti sudah saya duga, toko itu sangat ramai. Toko yang tidak terlalu luas namun isinya sangat komplit. Dari dulu saya suka berbelanja ke toko itu jika tengah melintas di wilayah sekitar. Menemukan beberapa barang yang saya perlukan tidak susah, karena saya sudah hafal tempatnya. Dari dulu penataan tempatnya tidak berubah, maka mudah untuk diingat dan dihafal. Dalam waktu cepat semua barang yang saya perlukan sudah masuk dalam keranjang belanjaan. Segera saya bawa ke kasir satu-satunya, yang tengah dikerubuti oleh para pelanggan.

Di depan kasir inilah saya mulai merasakan ketidaknyamanan. Mungkin mbak penjaga konter kasir juga sudah lelah melayani pelanggan seharian, jadinya ia melayani dengan sangat lambat. Menghitung belanjaan seorang customer saja terasa begitu lama padahal barang belanjaannya tidak banyak. Mungkin juga banyak penjaga toko yang masih libur lebaran, sehingga semakin membuat banyak hal tidak terlayani dengan normal.

Suasana mudik lebaran membuat semua orang ingin berkegiatan cepat, dan merasa tergesa-gesa. Semua orang ingin didahulukan dan dilayani dengan cepat. Maka antrian di konter kasir itu terasa sangat panjang dan menjemukan. Namun karena memang memerlukan membeli sejumlah barang maka saya pun rela antri di kasir yang sangat lambat melayani pelanggan.

Tinggal satu orang pelanggan di depan saya. Seorang ibu dengan putri kecilnya. Barang belanjaannya saya perhatikan satu keranjang tidak penuh. Semoga tidak terlalu lama dilayani mbak penjaga konter kasir. Waktu berjalan serasa sangat lambat. Mbak kasir memang tampak kelelahan sehingga sering salah salah dalam memasukkan barcode barang. Akhirnya ibu di depan saya pun membayar barang belanjaannya. Saya lega, berarti tiba giliran saya.

Belum lagi ibu di depan saya selesai transaksi, tiba-tiba muncul seorang wanita muda menyerobot antrian. Ia langsung berdiri di bagian paling depan, paling dekat dengan kasir, tanpa peduli pada antrian panjang yang tengah terjadi. Saya perkirakan usia wanita itu sekitar tigapuluhan tahun, cantik dan tampak terdidik. Penampilannya rapi, tampak sebagai orang berperadaban kota. Namun saat berbelanja di kota kecil ini, ia tampak seperti orang yang tidak berperadaban.  Seakan-akan ia tidak melihat orang antri, dengan cuek dan tanpa peduli ia langsung berdiri di urutan paling depan. Barang-barang belanjaannya langsung ditaruh di depan kasir. Semula saya belum mengerti maksudnya.

Saya baru sadar tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika melihat mbak penjaga loket kasir langsung melayani wanita muda tersebut. Saya tersentak kaget. Ternyata wanita cantik itu benar-benar menyerobot antrian. Saya menduga dia hanya menitip barang di depan. Kekagetan saya bertambah besar ketika wanita itu tidak mengatakan sepatah katapun kepada para pengantri, tentang tindakan yang baru saja dilakukan. Saya masih berbaik sangka padanya, mungkin ia sangat tergesa-gesa.

Namun bukankah ia bisa meminta maaf atau meminta izin kepada para pengantri kasir. Misalnya mengatakan, "Maaf ya Pak, saya sangat tergesa-gesa..." Atau ia bisa mengatakan, "Mohon ijin, saya mendahului antrian karena ada keperluan mendesak...." Atau dengan menggunakan bahasa isyarat ---andai ia tidak bisa bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, siapa tahu ia lama di Amerika--- untuk memberi tanda bahwa ia meminta izin untuk dilayani kasir terlebih dahulu.

Ah, mungkin saja ia akan mengucapkannya nanti usai transaksi, pikir saya. Eh, ternyata juga tidak. Usai transaksi di kasir ia langsung pergi begitu saja tanpa permisi dan tanpa basa-basi. Bahkan dengan isyarat pun tidak. Di sisi yang lain, kasir juga tidak peduli. Ia tahu ada antrian di depannya, namun membiarkan saja ada penyerobot yang mendahului antrian. Saya pun diam saja karena masih belum pulih dari kekagetan dan keheranan atas sikap wanita cantik tersebut.

Seakan-akan karena cantik maka pantas diprioritaskan dan tidak perlu ikut antri. Seakan-akan wanita cantik harus selalu dimaklumi. Jika di beberapa kejadian ada idiom "siapa kuat dia menang", maka dalam kejadian ini seakan berlaku prinsip "siapa cantik dia yang menang". Sayangnya ini bukan lomba kecantikan dan saya juga tidak akan ikut lomba semacam itu. Ini adalah bab tata krama, sopan santun, etika, budi pekerti dan ketertiban.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x