Olahraga

Dalam Konteks Olahraga, Bagaimana Peran Big Data?

10 Oktober 2018   16:43 Diperbarui: 12 Oktober 2018   10:09 529 0 0

Bayangkan seorang pesepakbola yang baru selesai bertanding. Timnya mengalami kekalahan. Ia bisa melihatnya sebagai kegagalan dan beristirahat -- atau ia dapat melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan kemampuan. Bagaimana? Di setiap jersey ditanamkan sensor-sensor yang melacak setiap pergerakan yang dilakukan si pemain, dan data yang terkandung di dalamnya akan membantu membuat pertandingan selanjutnya berbeda.

Data kini dikumpulkan dalam berbagai cabang olahraga di seluruh dunia untuk membantu tim-tim menuju kemenangan. Apakah anda seorang penggemar bola basket di Amerika Serikat, atau sepak bola di Eropa, anda bisa melihat pengaruh big data semakin meningkat di industri yang besar ini. Secara global, industri olahraga professional berharga lebih dari 90 miliar dollar; angka besar ini menawarkan kesempatan besar untuk big data. Sebagaimana industri-industri lain yang menggunakan data untuk menjangkau dan terhubung dengan penonton mereka, begitu pun dengan bidang olahraga yang mulai menggunakan big data untuk meningkatkan kemampuan pemain, pengalaman penggemar, hingga keuntungan organisasi.

Penggunaan big data di olahraga

Data dapat dibagi dan digunakan pada tingkat yang sangat rinci, meningkatkan pengalaman olahraga professional bagi semua pihak yang terlibat. Alih-alih mengandalkan intuisi, pengalaman dan anekdot, para peserta dan penggemar olahraga dapat memeriksa data yang menceritakan hal-hal yang bisa membantu setiap aspek permainan -- mulai dari rekrutmen pemain hingga keterlibatan penggemar.

Baseball merupakan salah satu olahraga pertama yang menggunakan big data. Kisah terkenal Oakland Athletics, yang dipopulerkan dalam buku Michael Lewis, Moneyball, menunjukkan kekuatan big data di keolahragaan karena menggambarkan kisah revitalisasi tim yang sedang dalam kondisi sulit menggunakan taktik rekrutmen berbasis bukti.

 Data membantu Billy Beane, GM dari tim tersebut untuk memilih para pemain berdasarkan angka, bukan sekedar menebak -- dan hal itu menghasilkan kesuksesan besar. Saat ini, rekrutmen berbasis big data terus berkembang, dengan adanya perusahaan Irlandia yang memperkenalkan platform yang bisa mengevaluasi faktor-faktor fisik, mental, dan sosial untuk membantu tim membuat keputusan rekrutmen yang cerdas.

Big data merupakan sebuah 'maraton' dalam beberapa konteks, mengatur tempat untuk masa depan dibanding masa kini. Dalam olimpiade yang sangat kompetiitif, di mana latihan merupakan pekerjaan tetap, para atlit mencari setiap keunggulan yang bisa mereka dapatkan. 

Para pelatih mulai mengumpulkan data-data latihan dari atlit-atlit muda, berharap untuk mendapatkan beberapa wawasan tentang apa yang membuat atlit top berhasil di olimpiade, dan faktor apa yang memiliki peran terbesar. Data ini juga dapat membantu kompetitor olimpiade belajar lebih banyak tentang tantangan-tantangan yang mereka hadapi saat berlatih, seperti dilema antara latihan kekuatan atau ketahanan untuk pedayung.

Peran media sosial

Pada sisi penggemar, tidak ada yang sumber data yang lebih besar dibanding media sosial. Penggemar dapat menggunakan platform ini untuk berinteraksi dan menemukan lebih banyak informasi tentang tim favorit mereka -- namun hal itu bukanlah peran terbesar media sosial di bidang olahraga. Banyak universitas dan tim olahraga professional bisa memanfaatkan data dari media sosial untuk menarik dan melibatkan penggemar, mendorong mereka untuk membeli tiket dan menghadiri pertandingan.

Program universitas paling banyak diuntungkan dari apa yang ada di media sosial, dikarenakan banyak pengguna dari platform media sosial merupakan dewasa muda. Saat ini, banyak dari program-program ini tidak memiliki sumber daya teknologi untuk memanfaatkan data dari semua platform yang ada.

Masa depan big data

Big data dalam olahraga telah menjadi hal yang paling menarik di masa kini dan masa depan, padahal kita baru membahas permukaannya saja. Setiap bit data yang dikumpulkan kini dapat berguna di masa depan, dengan banyak aplikasi sedang dalam tahap awal pengembangan.

Produk wearable, misalnya, bisa membantu memonitor pemain di lapangan dan menjadi semakin canggih seiring dengan waktu, bahkan terintegrasi dalam seragam pemain. Para pelatih sudah dapat memeriksa tingkat kelelahan dan dehidrasi pemainnya. Semakin alat ini 'pintar', keamanan dan performa pemain juga akan dilacak, dianalisa, dan ditingkatkan.

Data dari fans akan terus mempengaruhi usaha pemasaran dan keputusan untuk acara olahraga, seperti kapan harus menjadwalkan pertandingan dan bagaimana memenuhi preferensi penggemar. Kemajuan di bidang big data bahkan dapat menuju ke peluang karir untuk penggemar setia dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki. Kemungkinan-kemungkinan yang ada tidak terbatas untuk pelatih, pemain, dan penggemar -- dan kita akan terus melihat data memainkan peran besar dalam olahraga ke depannya.

Olahraga merupakan pasar yang belum dikelola maksimal di Indonesia. Padahal dengan 250 juta lebih penduduk dan antusiasme tinggi terhadap olahraga, terutama sepakbola dan bulutangkis, potensi mendapat keuntungan dari industri olahraga di Indonesia terbuka sangat lebar. Sayangnya, keterbatasan tools yang mumpuni dan piranti lunak analisa big data memadai seakan mencegah Indonesia untuk menjadi negara maju di bidang olahraga. Adalah Paques, piranti analitik big data asli kreasi Indonesia yang siap menjawab tantangan itu. Dengan mengadopsi solusi data lake, Paques memungkinkan segala jenis data untuk diolah dan diproses tanpa harus diubah suatu apapun. Adanya self-service analytic juga membantu para pelatih atau pemain yang ingin mengetahui performa tim di lapangan.

 Momentum Asian Games dan Para Games harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Antusiasme masyarakat yang ingin mendukung tim Indonesia untuk berjaya di pentas dunia tidak boleh dipandang sebelah mata. Kinerja keolahragaan harus terus digenjot, dan sebagai awalnya, mungkin Paques bisa menjadi solusinya.