Gaya Hidup Artikel Utama

Mau Menangkarkan Burung, Jangan Tunggu Dapat Bibit yang Ideal!

11 Januari 2017   16:24 Diperbarui: 11 Januari 2017   17:57 189 1 1
Mau Menangkarkan Burung, Jangan Tunggu Dapat Bibit yang Ideal!
Jalak Bali dalam kandang pra-pelepasan. (Kompas.com/Eka Juni Artawan)

Setelah mengetahui ternyata penangkaran burung itu memiliki prospek yang bagus, akhirnya Budi mengambil keputusan dengan bulat untuk segera menangkarkan burung. Dalam dunia penangkaran burung, jenis burung apa yang sedang ramai di pasaran, biasanya dijadikan acuan dalam menentukan burung apa yang bakal ditangkarkan. Ada burung cucak rawa, jalak suren, murai batu, kenari, jalak bali dan lain-lain. Karena tidak ada yang terlalu menonjol, Budi masih agak bimbang spesies burung yang mana yang bakal dia pilih.

Untuk menyukseskan rencananya, si Budi membeli buku-buku panduan tentang cara menangkarkan burung dengan efektif dan efesien. Berbagai judul buku panduan menangkar burung dari beberapa penulis, dia beli. Judul-judulnya menarik, misalnya Panduan Menangkarkan Burung Perkutut, Cara Mudah Menangkar Burung Kenari, Menangkarkan Burung Love Bird dengan Sistem Koloni, dan Cara Mudah Meraup Untung Dengan Budi Daya Jalak Suren.

Hanya dalam tiga hari, semua buku panduan menangkarkan burung dia lahap sampai habis tak tersisa. Kini dia telah menguasai teori penangkaran dengan baik bahkan nyaris menyentuh level dewa. Dia mengetahui dengan baik tentang seperti apa bentuk kandang yang bagus, berapa ukurannya, lokasi yang bagus ada di mana, cara perawatannya bagaimana, ciri indukan yang bagus kayak apa, suasana kandang yang paling disukai burung seperti apa, dan lain-lain. Pendek kata, ilmu semua penulis tersebut sudah dia serap dengan baik. Dan sekarang dia tinggal action saja.

Sederhana ternyata, bisik si Budi kepada dirinya. Karena ternyata secara teori menangkarkan burung itu cukup sederhana. Pertama bikin kandang, terus beli burung. Setelah itu burung dimasukin kandang. Terus dilakukan perawatan. Caranya dengan memberi pakan, minum dan air mandi. Siangnya ditengok, jika pakannya habis, tinggal kasih tambahan lagi. Sudah deh. Cuma gitu saja. Habis itu tinggal menunggu beberapa bulan untuk memanen hasilnya. Enak to? Gampang to? Begitu pikiran yang berkecamuk di kepala Budi.

Begitu selesai melahap buku-bukunya, Budi semakin mantap berkesimpulan bahwa menangkarkan burung itu memang enak, gampang sekaligus sederhana. Memang benar, menangkar burung adalah jalan lempeng menuju pabrik uang, katanya dalam hati.

cantiknya burung jalak bali, dok pribadi
cantiknya burung jalak bali, dok pribadi

Sepekan... dua pekan... sebulan... tiga bulan sudah berlalu.

Hari ini adalah bulan keempat sejak dia memutuskan untuk menangkarkan burung. Tapi meski sudah memasuki bulan keempat, jangankan membeli burung, membuat kandang pun belum. Lo kok lambat begitu si Budi ini, bukannya dia kemarin bersemangat patlima?

Usut-punya usut ternyata si Budi ini tipe lelaki perfeksionis. Dia pingin segala rencananya berjalan sesuai standar kualitas yang dia tetapkan, terutama dalam hal menentukan bibit burung calon indukannya. Baginya, apa pun spesies burung yang kelak akan menjadi pilihannya, dia harus memilih calon indukan kelas satu. Sebab dia tidak ingin gagal. Dia hanya akan memilih calon indukan yang benar-benar sempurna. Biar produktivitasnya tinggi. Dia tidak mau mengambil risiko dengan mengambil calon indukan asal-asalan alias seadanya. Saya tidak mau menciderai planning saya, begitu kata si Budi.

Memasuki bulan keenam, ternyata belum satu kandang pun dia bikin dan belum satu ekor pun burung yang dia beli. Yang ada kini malah keraguan untuk melanjutkan rencananya dalam menangkarkan burung. Dia takut gagal. Lho kok gitu? Belum melangkah sudah takut gagal.

Maka sore itu si Budi pergi ke rumah guru penangkar burung cucak rawa paling berpengalaman di Klaten. Namanya Om Mudzakir. Orangnya masih muda, namun dalam hal pengalaman menangkarkan burung cucak rawa beliau masuk kategori senior. Itu pun pakai banget alias senior banget. Berbagai jenis asam garam, suka-duka, sedih loro lopo sudah beliau alami. Pengalaman paling mengharukan yang pernah beliau alami adalah memberi makan tikus dengan daging burung cucak rawa. Nah, pengalaman apa lagi yang bisa menandingi kejadian ini. Senior banget kan?

Begitu sampai di kediaman beliau, ”Ngopo kowe... arep konsultasi babagan manuk?” tanya si Om menyelidik.

“Iya om... sekarang saya sedang berencana menangkarkan burung jalak suren dan jalak bali,” kata Budi. “We la dalah... aku ini ahlinya cucak rawa kok ditanyain burung jalak,” sela Om Mudzakir.

“Kan pengalaman Om banyak. Saya ingin mengetahui pengalaman Om tentang bagaimana caranya mendapatkan bibit burung jalak suren dan jalak bali yang super. Burung jalak suren dan jalak bali terbaik, yang kelak produktivitasnya tinggi. Dan seratus prosen antigagal,” kata Budi dengan sangat yakin.

“O... gampang itu. Besok Ahad wage kamu pergi ke Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY) di Jogjakarta atau ke pasar burung Depok Solo. Telusuri semua kios burung yang ada di sana. Berjalanlah dari satu kios ke kios burung berikutnya. Masuki kios-kios tersebut. Cari dan seleksi burung-burung yang ada di sana. Pilih yang terbaik. Biar kamu yakin bahwa itu yang terbaik, kamu jangan sekali-kali pingin balik ke kios yang pernah kamu masuki. Ngerti kamu?” begitu saran Om Mudzakir.

Hari ini, Hari Ahad Wage. Pagi-pagi sekali si Budi segera berangkat menuju pasar burung Depok di Solo. Tepat pukul tujuh pagi, Budi sudah berada di tempat parkiran pasar burung Depok Solo. Suasana masih sepi. Kios-kios burung belum pada buka, hanya beberapa beberapa pemilik kios pakan yang sudah mulai sibuk menyiapkan dagangannya.

Budi melihat-lihat lingkungan pasar. Letak kios dan gang-gang pasar dia petakan. Hal ini dia lakukan dengan tujuan agar nanti ketika dia menelusuri kios-kiosnya tidak ada satu kios pun yang terlewati. Agar efisien waktu dan tenaga. Prinsipnya adalah bagaimana dengan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan tenaga yang sesedikit mungkin, semua kios sudah bisa dirambah, dimasuki dan dicari bibit indukan terbaiknya. Dengan demikian, nanti tengah hari sudah mendapatkan beberapa pasang bibit indukan burung jalak suren dengan kualitas terbaik. Budi tidak mau main-main, pokoknya harus mendapatkan bibit yang terbaik, jangan sampai mendapatkan bibit indukan kelas dua, bisa rugi nanti. Begitu prinsip yang dipegang Budi dalam membeli bibit burung jalak suren dan jalak bali untuk ditangkarkan.

Matahari sudah mulai meninggi. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Semua kios sudah dibuka. Mulailah Budi menelusuri kios demi kios sesuai dengan peta telusur yang sudah dia persiapkan tadi pagi.

Lima belas kios sudah dia jelajahi dalam satu jam pertama. Namun, dia belum mendapatkan bibit burung jalak yang dia inginkan. Dia masih melanjutkan pencariannya. Di jam kedua dia menyelesaikan seluruh kios yang tersisa di blok pertama. Namun sayangnya dia belum juga mendapatkan burung yang memuaskan untuk dibeli. Tadi sih sudah ketemu ada beberapa ekor burung jalak suren yang bagus, tapi si Budi masih kurang sreg. Ini buat indukan maka harus yang terbaik, katanya dalam hati. Budi belum memutuskan untuk membelinya, dan melanjutkan ke kios berikutnya. Namun, di kios-kios selanjutnya ternyata tidak ditemukan burung yang lebih bagus. Pantangan baginya untuk balik ke kios yang tadi.

Tengah hari seluruh kios di pasar burung Depok Solo sudah habis dia masuki. Dengan sisa-sisa tenaga dia duduk di warung. Segelas es teh manis, menamani kecapekannya siang ini. Semua pikiran berkecamuk di kepalanya, “Tak ada sepasang burung jalak suren pun yang memenuhi kriteria untuk menjadi indukan yang produktif. Ada yang bagus, sehat dan lincah tapi kelaminnya kurang jelas dia jantan apa betina. Ada yang jelas jantan tapi napsu makannya tidak kuat. Ada yang badannya bongsor tapi bulunya rusak. Tadi ada juga sih yang masuk kriteria, burungnya sehat lincah, makannya lahap, tapi usianya terlalu kecil.”

Akhirnya selepas sholat Dzuhur si Budi pulang ke Klaten. Tangannya hampa, tak seekor burung pun yang dia bawa pulang. Semuanya tidak memenuhi kriteria. Ada beberapa burung yang cukup bagus sebenarnya, namun kiosnya sudah terlanjur dia tinggal dan berharap di kios berikutnya ada yang lebih bagus. Tapi ternyata sampai kios terakhir dia tidak menemukan.

Sore hari ketika Budi leyeh-leyeh di rumah, HP-nya berbunyi... telolet... telolet.... Oh, rupanya ada pesan dari Om Mudzakir. “Gimana, dapat jalak suren dan jalak bali berapa pasang, Mas Budi?" begitu tulis beliau di WA. “Gak dapat. Gak ada yang bagus,” jawab Budi singkat.

“Sebenarnya tadi saya sudah mau menemukan, tapi saya tidak jadi membelinya. Karena akau pikir mungkin yang di kios berikutnya ada yang lebih bagus bahkan sempurna sesuai kriteria saya. Tapi tanpa sadar ternyata di depan tinggal beberapa kios. Dan setelah sampai di kios yang terakhir, saya baru sadar ternyata yang saya temukan tadi adalah bibit jalak suren terbaik, dan saya sudah capek untuk mencari tadi adanya di kios mana.”

“Wkwkwk...," si Om malah tertawa meledek. "Jangan ngeledek dong, Om,” pinta Budi sambil memelas.

“He he he...,“ akhirnya si Om tersenyum. Dengan suaranya yang tenang, beliau berucap. “Ya itulah dunia penangkaran burung. Semakin kita terobsesi dan mencari bibit yang sempurna, kita semakin jauh dari kesempurnaan burung yang kita cari. Sebagaimana hidup kita, dalam hidup ini tidak ada sesuatu pun yang bisa memuaskan keinginan kita secara sempurna. Yang ada hanyalah hati yang semeleh, yaitu jiwa yang ikhlas untuk menerima apa yang secara maksimal sudah kita usahakan.

“Fisosofi menangkarkan burung sama persis dengan filosofi hidup ini. Bila kita tak mampu memberi, jangan mengambil. Bila untuk mengasihi pihak lain kita merasa kesulitan, maka usahakan jangan sampai timbul rasa benci sedikit pun di hatimu. Dan bila kita tak mampu untuk mengurangi beban penderitaan orang lain, jangan pernah ada niat untuk mempersulit orang lain. Bila kita tak mampu menghibur orang lain, minimal jangan membuatnya sedih. Usahakan untuk memuji orang lain, biasakan untuk menghargai pihak lain. Jangan mencari kesempurnaan, tapi sempurnakan apa yang ada di hadapanmu,” kata si om panjang lebar.

“Mulai deh... mulai deh... baca-baca mantra si Om ini,” ledek si Budi. “Terus ini solusinya apa, Om?” tanya si Budi.

“Gampang... nangkar burung ya nangkar saja. Gak usah cari-cari yang ideal, nanti malah gak jadi melangkah,” jawab si Om sambil menutup teleponnya.

“Bener juga ya kata si Om ini,” kata Budi kepada dirinya sendiri.