Mohon tunggu...
Pahala Branles
Pahala Branles Mohon Tunggu... Belajar sepanjang hayat

Legalitasnya ada pada pikiran kita

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Perlukah PR Sekolah?

13 Agustus 2020   19:41 Diperbarui: 13 Agustus 2020   19:33 1 0 0 Mohon Tunggu...

Pekerjaan Rumah (PR) adalah tugas mandiri yang diberikan oleh guru kepada siswa untuk dikerjakan di rumah sebagai latihan tambahan untuk mencapai kompetensi yang sudah ditentukan. PR pertama kali dicetuskan oleh seorang guru di Venesia Italia pada tahun 1905 yang bernama Roberto Neveilis. PR pada saat itu dilakukan sebagai hukuman kepada siswa jika ada pelanggaran. Jika siswa salah maka diberikanlah PR sebagai hukuman pelanggaran tersebut.

Sekarang ini di Indonesia, PR adalah sebagai bagian pembelajaran yang sudah direncanakan, yaitu sudah tertuang pada Rencana Persiapan Pembelajaran (RPP). Dan jika ini dilaksanakan dengan tepat maka akan menjadi positif dalam pencapaian hasil belajar siswa.

Tetapi pada kenyataannya, PR ini menjadi sebuah "MOMOK" bagi kebanyakan para siswa, dan mungkin bukan hanya di Indonesia saja ini terjadi.
Haris Cooper, seorang peneliti dari Duke University menemukan dalam 60 penelitian sejak 1987 hingga 2003, bahwa PR yang bersifat akademis tak memiliki dampak positif pada prestasi belajar seorang siswa. PR dapat bermanfaat, namun jika jumlahnya banyak akan menjadi kontra produktif.

PR akan kontra produktif bahkan menjadi beban atau momok jika saat pemberian PR tidak terencana dengan baik oleh guru dan sekolah.

Banyak siswa yang tidur sampai dini hari gara-gara PR, tetapi tidak sedikit di antara mereka yang tidak paham yang dikerjakannya tersebut, yang penting selesai. Banyak anak yang stres karena banyaknya PR, apalagi di saat mereka tidak paham mengerjakan PR tersebut. Belum lagi kena marah orang tua karena gak tahu mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Sudah tidak tahu, dimarahi lagi. Orang tua juga banyak yang stres karena tidak mampu mendampingi anaknya untuk mengerjakan PR.

SARAN

Pertama, PR harus direncanakan oleh sekolah dan guru secara tim, atau minimal ada standar operasional baku atau pedoman yang harus diikuti guru dalam memberikan PR. Hal ini dilakukan untuk menghindari banyak PR yang tumpang tindih antara mata pelajaran sehingga siswa tidak terbebani. Kedua, jenis PR harus menjadi perhatian guru. perlakuan, dan tingkat kesulitannya harus menjadi pertimbangan guru. Ketiga, jumlah atau banyaknya PR harus disesuaikan. Contoh, jika pilihan berganda bukan berhitung mungkin bisa lebih banyak dari soal berhitung yang diharuskan memberikan penyelesaian.

Dengan demikian, tujuan PR itu sebagai salah satu cara mencapai kompetensi yang sudah ditentukan bisa berhasil.

Jadi, perlukah PR sekolah? Mari kita jawab sendiri...


VIDEO PILIHAN