Mohon tunggu...
Wahyu TriPrasetyo
Wahyu TriPrasetyo Mohon Tunggu... Memberikan pandangan dari sisi wong setengah mateng

Pengamat dunia fana

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Bujuk Tipu Rayu di Facebook

3 Desember 2019   22:51 Diperbarui: 7 Desember 2019   09:00 0 0 0 Mohon Tunggu...
Bujuk Tipu Rayu di Facebook
Photo by bruce mars from Pexels 

Ternyata kaum jomblowati bisa lebih memprihatinkan dari pada para jomblowan. Berdasarkan cerita pengalaman kawan saya yang bekerja di Bea Cukai, dia cukup sering menerima aduan dari para jomblowati baik yang statusnya perawan, rondo(janda) maupun yang hanya merasa single(udah punya suami tapi ya u know lah..hehehehe).Pengaduan itu isinya tentang barang kiriman dari luar negeri yang ditujukan buat mereka tapi ditahan Bea Cukai trus mereka ngaku kalau disuruh Nebus barang itu dengan membayar sejumlah biaya yang katanya itu buat Bea Masuk.
Awalnya mereka nanya, "pak apa bener barang (kiriman) saya ditahan Bea Cukai? Saya dihubungi orang Bea Cukai disuruh bayar 15 juta biar barangnya bisa keluar."

Nah kawan saya ini kemudian menanyakan nomor resi pengiriman, barang apa yang dikirim trus dikirim dari mana. Dicek di sistem, nomor resinya ga ada, dicek daftar barangnya, barang yang dikirim macem Sultan lagi ngirimin jatah bulanan anaknya. Barangnya Ipong X, jam tangan rolek, duit 20.000 dollar, laptop dan sederet barang mewah yang kalau dinalar ga mungkin dikirim lewat perusahaan jasa titipan. Dan setelah ditanya lebih jauh perihal pengirimnya, si mbak2 atau ibu2 ini mulai berdalih dengan 12 alasan absurd yang merujuk pada jalinan asmara online tidak satu atap dengan bule luar negeri yang dikenal lewat Fesbuk, bahkan ketemu aja belum pernah.

Singkatnya tu mbak2 kenalan sama bule di fesbuk, tergadaikan hatinya trus pacaran LDR (Lo Doang Relationship) trus si bule ini critanya mau kirim hadiah buat si mbak yang dikirim dari luar negeri trus pas barangnya nyampe di Indonesia katanya ketahan Bea Cukai. Dan setelah dicek perihal orang yang mengaku dari Bea Cukai, ketahuan kalau disuruh transfer ke rekening atas nama pribadi dan nomor yang menghubungi adalah nomor pribadi.

Dari cerita ini tercermin bahwa masih banyak warga masyarakat yang mudah terjerumus dalam lembah kelam modus-modus penipuan karena kurangnya informasi penting yang dibutuhkan perihal dunia kirim mengirim barang baik luar maupun dalam negeri. Mirisnya, di era revolusi industri 4.0 ini dimana akses informasi terbuka lebar berkat bantuan medsos dan embah gogel, banyak masyarakat yang justru salah memanfaatkan kemudahan yang ada hanya untuk mencari informasi2 yang sebenarnya ga penting untuk urusan duniawi di bumi ini. Bukannya belajar untuk meningkatkan pengetahuan malah belajar jadi Intel, ngepoin artis kimpoi, cari info skandal oppa2 Korea di media sosial, berlomba-lomba jadi yang paling update padahal informasi yang penting dan bukan hoax malah ga tau dan dilepehkan mentah-mentah.

Sebenarnya perihal pengiriman barang dari dalam dan luar negeri itu perkara yang gampang-gampang sedap. Gampang kalau paham aturannya, sedap karena jadi ga gampang ketipu. Jadi gini, misalnya ente-ente dikirimi barang dari luar negeri (baik beli ataupun dikasih gratis sama aja) kalau ente bener-bener awam bisa tanya-tanya dulu ke kantor Bea Cukai terdekat, atau kalau kejauhan bisa lewat websitenya mereka. Tanyakan, barang yang bakalan ente terima dari luar negeri itu boleh ga masuk ke Indonesia, syaratnya apa aja, karena ada aturan dari pemerintah buat melarang barang-barang tertentu masuk ke Indonesia contohnya barang bekas (ya iyalah emangnya ente mau Indonesia jadi tempat penampungan barang bekas?). Trus tanyakan juga kalau ada pungutan (kalau ga salah disebutnya Bea Masuk sama PDRI) besarnya berapa sekalian tanya cara ngitungnya biar tambah pinter dan cara bayarnya gimana. Kalau ane dulu bayarnya lewat mobile banking. Trus setelah barangnya dikirim, pastikan resi pengiriman dan perusahaan pengirimannya jelas jadi resi tersebut bisa ditracking utawa bahasa jawanya dilacak.

Dari pengalaman ane pribadi yang paling gampang itu pakai jasa PT. Pos Indonesia, perusahaannya jelas punya negeri kita sendiri dan kalau misal mau komplain di tiap kota/kabupaten udah ada kantor pos. Nah barang yang dikirim dari luar negeri itu ga langsung nyampe ke kantor pos terdekat sama rumah kita. Tapi masuk dulu ke kantor pos besar yang tugasnya khusus melayani barang kiriman dari luar negeri.

Di kantor pos tadi barangnya diperiksa sama pegawai dari Bea Cukai (jadi memang ada pegawai Bea Cukai yang bertugas di kantor pos khusus buat menangani barang-barang dari luar negeri). Yang diperiksa biasanya jenis barangnya apa, termasuk barang yang dilarang di Indonesia apa nggak, harga di pasaran sesuai ga sama faktur harga yang tercantum trus ada ga NPWP penerima barangnya. Nah NPWP itu penting, karena kalo ga nyantumin NPWP ntar bisa kena denda. Setelah diperiksa, apabila barangnya menurut aturan pemerintah harus dikenai pungutan maka pihak Bea Cukai akan menerbitkan billing atas pungutan negara yang harus kita bayar. Kita akan dihubungi lewat surat sama kantor pos nya atau lewat kontak resmi. Billing tadi bisa kita bayar melalui bank, ATM, internet banking atau kantor pos. Jadi bukan dihubungi lewat nomer pribadi terus disuruh transfer ke rekening pribadi. Kalau kita bayar pakai kode billing resmi tadi duit kita langsung masuk ke kas negara. Setelah dibayar kita kirim tuh bukti bayarnya ke pihak Bea Cukai, bisa lewat kantor pos jadi ga usah khawatir. Setelah kita bayar pungutan negara, barangnya tadi dari kantor pos besar akan dikirim ke kantor pos terdekat dengan rumah kita baru dari sana akan dikirim ke kita. Nah udah gitu thok. Jadi kalau ente-ente mau ngirim barang dari luar negeri lebih baik cari informasi dulu mengenai aturan dan persyaratannya jadi ga gampang kena tipu. Masak jaman udah canggih masih bisa kena tipu sama urusan yang aturannya udah jelas. Jadi ayo budayakan bertanya untuk informasi yang berkualitas.


VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x