Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Seorang pemuda sederhana yang sedang mengabdi sebagai guru SD di Kepahiang. Saat ini masih menetap di Kota Curup (Bengkulu). Asli Tun Jang (Suku Rejang). Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Asesmen Nasional 2021, Mungkinkah Soal AKM akan Lebih Sulit Dibandingkan UN?

14 Oktober 2020   20:53 Diperbarui: 15 Oktober 2020   13:11 683 61 19 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Asesmen Nasional 2021, Mungkinkah Soal AKM akan Lebih Sulit Dibandingkan UN?
Ilustrasi UN diganti dengan Asesmen Nasional 2021. (Gambar: ANTARA/MOHAMAD HAMZAH via kompas.com)

Asesmen Nasional, barangkali sudah banyak dari kita terutama para pelaku pendidikan yang mendengar kisah tentang instrumen evaluasi pengganti Ujian Nasional ini. Terang saja, semenjak UN dihapus pada bulan Mei 2020 kemarin, pelaksanaan Asesmen Nasional semakin digencarkan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, Asesmen Nasional pada tahun 2021 akan mengulik lebih jauh tentang Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, hingga Survei Lingkungan Belajar.

Pelaksanaan Asesmen Nasional ini ternyata bukan hanya diikuti oleh siswa saja, melainkan juga melibatkan kepala sekolah dan guru sebagai responden.

Mengingat tujuan evaluasi yang dimaksud adalah untuk mengetahui mutu satuan pendidikan dalam proses pembelajaran, maka wajar saja bila kemudian Asesmen Nasional melibatkan para pelaku pendidikan tanpa terkecuali.

Hanya saja, karena yang diukur adalah mutu dan kualitas pembelajaran secara komprehensif (tidak individu), maka nilai dan hasil yang terpampang setelah evaluasi tidak lagi menjadi patokan.

Secara, fokus penilaian yang terlalu mengarah kepada aspek kognitif hanya akan menuntun siswa untuk cenderung menghafal materi daripada mendalami maupun mensintesa materi tersebut.

Alhasil, ekspektasi Asesmen Nasional agaknya ditujukan untuk mengajak para siswa berpikir tingkat tinggi, kritis, beriorientasi kepada pemecahan masalah, hingga mewujudkan karakter alias siswa berprofil Pancasila.

Tampaknya target ini begitu berat, ya?

Saya kira, target ini tidak berat. Malahan, kualitas pendidikan kita yang cenderung stagnasi, bahkan mengalami penurunan mutu. Gara-gara apa? Rasanya ada banyak faktor yang mempengaruhi eksistensi pendidikan Indonesia secara sistem.

Mulai dari kurikulum yang suka berganti, kesenjangan fasilitas pendidikan di pusat dan daerah, otonomi daerah, kompetensi guru, proses pembelajaran, hingga mindset para pelaku pendidikan masing-masing darinya ikut berkontribusi untuk menentukan maju-mundur sebuah kualitas.

Lagi-lagi, kalau kembali kita lihat dan tatap negeri Indonesia tercinta, agaknya tantangan Bumi Pertiwi untuk menggenjot kualitas pendidikan juga cukup kompleks. Selain karena komponen-komponen penentu yang telah disebutkan di atas, faktor geografis juga ikut memengaruhi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x