Mohon tunggu...
Ozy V. Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Guru - Guru, Blogger

Seorang Guru. Ingin menebar kebaikan kepada seluruh alam. Singgah ke: Gurupenyemangat.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Mas Nadiem Sudah Jujur dan Mengakui, Pasti Ada Gebrakan Lagi!

6 Mei 2020   23:30 Diperbarui: 11 Mei 2020   05:17 1940
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Mas Nadiem dalam konferensi pers kerja sama antara Netflix dan Kemendikbud, Jakarta, Kamis (9/1/2020). (KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma P)

Karena pandemi dan kebijakan belajar dari rumah berasa seperti efek kejut, guru yang selama ini biasa mengajar dengan tatap muka juga ikut terkejut. Sebagian dari mereka berusaha untuk mengingat lagi hasil dari pelatihan kompetensi guru berbasis digital yang pernah diikuti.

Gambar oleh kalhh dari Pixabay 
Gambar oleh kalhh dari Pixabay 

Sebagian guru yang lain? Tentu saja sibuk melawan keterbatasan fasilitas pembelajaran dan berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan apa yang daerah miliki. Ada sinyal, pakai aplikasi. Tak ada sinyal, gunakan televisi. Tak ada televisi, tugas dan kunjungan akan jadi opsi.

Jadi, cukup adil bila kemudian ada pengakuan secara jujur bahwa adaptasi ke proses belajar via daring begitu menyulitkan.

Tambah lagi, berdasarkan survei dari Forum Anak Nasional pada akhir Maret 2020 yang diutarakan oleh Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Nahar, dirangkumlah data bahwa 60% anak tidak terlalu senang dengan proses belajar dari rumah.

Andai sandaran kesimpulan terhadap kesuksesan pembelajaran online adalah kesenangan siswa, maka sudah pasti keberhasilannya belum mencapai standar. Jika 60% anak tidak senang, berarti yang senang hanyalah 40% dari jumlah sampel ratusan anak di Indonesia.

Masalahnya, untuk mewujudkan pendidikan untuk semua anak-anak di penjuru negeri kita tidak bisa melulu bersandar pada data yang 60% ini saja. Kita butuh pemerataan serta jarak kualitas pendidikan yang tidak terlalu senjang, dan kebutuhan ini berawal dari kejujuran.

Ketiga, Mas Nadiem menambah pengakuannya dengan berpendapat bahwa pemerataan pendidikan sulit tercapai tanpa ketersediaan listrik dan internet.

"Tapi yang sudah pasti tanpa konektivitas, artinya internet dan listrik. Proses pemerataan pendidikan kita tidak mungkin tercapai. Itu minimum, konektivitas internet dan listrik dua hal fondasinya," ujarnya melalui konferensi video dikutip dari akun Youtube Kemendikbud RI, Rabu (6/5/2020).

Mas Nadiem menganggap bahwa internet dan listrik merupakan dua fondasi yang saling berhubungan. Berarti, ini adalah kode gebrakan, kan?

Secara, untuk menguatkan pendidikan, negeri ini butuh aliran internet dan listrik yang merata. Keduanya adalah kunci dasar untuk menerapkan pembelajaran online. Jika jeblok salah satu fondasi, maka harapan pendidikan jadi timpang dan daerah yang terkendala jadi mati suri.

Dok. Ajeng Dinar Ulfiana dari Katadata.co.id
Dok. Ajeng Dinar Ulfiana dari Katadata.co.id

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun