Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pencinta Tilawah

Seorang pemuda sederhana yang sedang mengabdi sebagai guru SD di Kepahiang. Saat ini masih menetap di Kota Curup (Bengkulu). Asli Tun Jang (Suku Rejang). Selalu menanam harapan walau kemarau panjang. Singgah ke: www.ozyalandika.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Jangan Bebankan Guru SD dengan Administrasi Mengajar yang Ruwet

1 November 2019   17:28 Diperbarui: 26 November 2019   07:28 772 40 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jangan Bebankan Guru SD dengan Administrasi Mengajar yang Ruwet
Ilustrasi guru mengajar. (Sumber: Lyceum.id)

Kata orang-orang, jadi guru SD itu enak. Persepsi yang berkembang di sekeliling kita kebanyakan memandang bahwa anak SD itu penurut, materi ajarnya sederhana, serta pulangnya cepat. Padahal sesungguhnya tidak sesederhana itu.

Persepsi bahwa Anak SD penurut, mungkin dia masih kelas satu dan watak dasarnya adalah pendiam. Materi ajarnya dianggap sederhana karena berangkat dari judul-judul sederhana. Pulangnya cepat, bisa jadi didasarkan atas fakta bahwa banyak guru SD yang punya usaha sampingan.

Tapi itu kan hanya kelihatannya?

Modal Administrasi Pembelajaran yang "Wah"

Guru kelas maupun guru mapel SD sama sibuknya, sama keluhnya, terutama pada sisi administrasi pembelajaran. Contohnya seperti guru Agama dan Penjas. Kedua guru mapel ini diberi tugas mengajar SD kelas I-VI untuk mencukupi 24JP.

Dari sini dapat ditarik fakta bahwa kedua guru ini harus memiliki perangkat pembelajaran dari kelas I-VI dalam satu tahun. Kita coba ambil satu saja contoh administrasi pembelajaran, yaitu RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

Dalam satu tahun, biasanya anak SD wajib menuntaskan 11-12 bab materi ajar. Dari sini guru harus menyiapkan 11-12 RPP. Setiap RPP kurikulum 2013 biasanya terdiri dari 25-35 lembar. Bisa kita kalikan 12x35 lembar = 420 lembar. Wah, hampir 1 rim ya?

Upps, ini baru 1 tingkat kelas. Bagaimana jika 6 tingkat kelas?
Bisa kita kalikan 420x6 = 2.520 lembar. Oke, berarti kertas yang digunakan hampir 6 rim. Biayanya? 6 rim x Rp.45.000 = Rp. 270.000.

Hitungan ini hanya untuk guru SD yang punya printer sendiri. Itupun belum dihitung dengan berapa modal beli tinta hingga catridge printer yang hancur. Bisa kita bayangkan berapa besar modal guru SD jika mereka tidak punya printer sendiri.

Itu hanya RPP. Masih banyak administrasi lain seperti silabus, materi ajar, program semester dan tahunan, penilaian, hingga analisis ketercapaian siswa. Makin mabuklah guru SD.

Bagaimana jika guru SD masih berstatus kontrak atau bahkan honorer? Terang saja, dari mana mereka bisa mengumpulkan modal untuk menyiapkan perangkat pembelajaran. Mungkin, gaji mereka selama satu bulan belum cukup.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN