Mohon tunggu...
Ozy V.  Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Pengajar, Pembelajar, Pecinta Tilawah

Selalu menanam harapan walau kemarau panjang.

Selanjutnya

Tutup

Finansial Pilihan

Milenial, Tentang Ingin dan Menunggu

15 Juli 2019   20:29 Diperbarui: 15 Juli 2019   20:34 0 0 0 Mohon Tunggu...
Milenial, Tentang Ingin dan Menunggu
Ilustasi Ingin dan Menunggu. Pixabay

Milenial, Anda ingin apa? Rumah? Mobil? Apartemen? Atau Nikah? Rumah itu mahal, ada yang 300 Juta, 500 Juta, bahkan  ada yang 700 Juta. Bagaimana? Jika Anda punya gaji 1 bulan sebesar 3 juta berarti butuh 8,4 tahun untuk mengumpulkan uang 300 Juta. Itupun Anda tidak bisa makan, tidak bisa minum, tidak bisa beli kuota untuk main Game Online, dan tidak bisa meluapkan gengsi Anda. Matilah Anda! Haha.

Atau Anda ingin beli Mobil? Harga Mobil relatif lebih murah daripada rumah. 150 Juta sudah dapat mobil yang cukup bagus, tapi apa iya Anda punya mobil tapi tidak punya tempat tinggal? Berarti Anda salah perhitungan.

Apartemen? Sama saja. Harganya selangit. Bayangkan saja tinggi langit, kita sampai terpejam jika kelamaan menatapnya. Artinya, usaha Anda harus setinggi langit. Beda halnya jika Anda punya harta warisan, maka akan lebih cepat. Tapi lagi-lagi jika apartemen, rumah, bahkan mobil kita dapat dari usaha dan keringat sendiri tentu lebih bangga.

Biarpun hanya rumah sederhana dan tak begitu besar, jika setiap sudut semen, batu bata, besi, seng, jendela, bahkan isi rumah itu ada bekas keringat kita, tentu akan sangat nyaman untuk ditempati. Biarpun hanya punya mobil sederhana atau second, tapi jika itu hasil sendiri tentu kita akan sepenuh hati merawatnya. Tidak perduli orang menganggap itu jelek, kuno, atau tidak milenial, kita tetap bahagia dengan apa yang kita punya.

Lalu, bagaimana dengan Nikah? Milenial juga ingin segera menikah bukan? Termasuk saya. Hehe. Apalagi jika masuk pada bulan-bulan "kawin", dimana kita ditinggalkan oleh satu demi satu sahabat kita. Setiap minggu bahkan hampir tiap hari kita datang kepesta pernikahan orang lain. Menatap singgah sana pernikahan yang indah nan mewah, rasanya ingin cepat-cepat duduk sana. Tapi tunggu sejenak, kita mulai bahas kenyataan, bukan sekedar khayalan.

Menurut Anda berapa kira-kira biaya nikah zaman milenial ini? 100 Juta, 200 Juta, atau lebih? Atau kemahalan? Yang saya temukan di beberapa Quotes itu kisarannya mulai dari 300 Juta -- 600 Juta. Sungguh gila. Memangnya semua kaum milenial itu dukun apa! Yang bisa menggandakan uang kayak K-rewardnya kompasiana, Hehe.

Biaya menikah sejatinya tidaklah mahal. Malahan gratis jika menurut Peraturan Pemerintah No 48 Tahun 2014. Kita hanya perlu bayar Rp. 600.000 jika menikah pada hari sabtu atau minggu. Tapi kok kenapa berita yang akrab di masyarakat dan telinga kita sampai ratusan juta? Jawabannya karena gengsi dan adat. Idealnya, semakin tinggi "derajat" wanita yang ingin dilamar, semakin tinggi pula budgetnya.

Kebiasaan masyarakat, jika kita tidak menurut dengan adat, maka akan banyak obral celaan di sana-sini, yang membuat keluarga kita malu. "ahh, masa kerjanya direktur kok maharnya segitu doang", "masa calon mempelainya sarjana, kok pestanya sederhana". Padahal pesta dan kemewahan itu bukanlah rukun nikah. Cukup ke KUA ada mempelai, saksi, wali, penghulu, mahar yang tidak memberatkan, dan sah. Sungguh, banyak orang memilih menunda pernikahan karena gengsi dan berusaha agar lebih "mapan" dalam "materi".

Jadi bagaimana? Makin sakit kepala kita jika terus-terusan bahas rumah, mobil, apalagi nikah!

Solusinya adalah kita mulai dari sekarang, detik ini juga. Ya, investasi. Tapi investasinya harus punya target yang nyata dan konkret. Misalnya untuk modal nikah, beli rumah atau beli mobil. Tapi menurut saya, agar investasi itu tidak mandeg di tengah jalan, kita harus prioritaskan keinginan kita yang paling urgent. Apa yang paling kita butuhkan sekarang. Ingin cepat menikah misalnya. Anggaplah umur Anda sekarang 24 Tahun. Anda sudah bekerja dan ingin menikah 2 tahun lagi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2