Mohon tunggu...
OtnasusidE
OtnasusidE Mohon Tunggu... Petani - Petani

Menyenangi Politik, Kebijakan Publik dan Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya

Tutup

Healthy

No Love, No Sex, No Gaul

25 Juli 2016   20:59 Diperbarui: 25 Juli 2016   21:05 123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber http://jatim.bkkbn.go.id

Cinta walah kata itu selalu bergema di anak-anak remaja. Bahkan anak-anak SD kelas 4 atau 5 pun sudah ada yang tertarik satu sama lain. Entah ketertarikan macam apa. Paling tidak mereka sudah saling  ledek ketika jam istirahat, kalau si A  ngeliatin  kamu  tuh.  Atau,  ah  si B rambut kepang kudanya bagus sekali.

Tertarik dengan lawan jenis itu,  ya  normal. Yang  nggak  normal  ya yang tertarik dengan sesama jenis. Ketertarikan ini dalam konteks suka saja belum masuk ke dalam urusan seksual dan cinta yang rumit bin ribet.

Seorang teman beberapa tahun lalu, yang maju membawakan materi dalam sebuah pendidikan seks alias kesehatan reproduksi di sebuah sekolah malah membuat tegang anak-anak. Kenapa karena bahasanya sangat ilmiah dan tak dimengerti oleh anak-anak yang masih mengenakan celana pendek atau rok berwarna biru. Mereka bingung tiba-tiba disuguhi materi yang mereka sendiri tak mengenalinya secara demikian.

Pesan tak sampai. Demikianlah kesimpulan si teman. Masih punya waktu sekitar 18 jam sebelum kelas lainnya diberi materi mengenai pendidikan seks. Dari diskusi kecil lalu semuanya harus diubah. Diubah berdasarkan bahasa gaul mereka. Diubah dalam konteks orang dewasa menjadi anak berseragam biru.

Dibuatlah permainan kentang.  Wak  wak  wak.  Akupun yakin aku nggak sanggup untuk mengenali kentang milikku. Apalagi kalau kentang yang dikembalikan diaduk dan tak ada tanda spesifik yang aku buat. Anak-anak itupun sebagian dengan PD-nya mengakui kalau kentang yang kembali mereka pegang adalah miliknya. Sebagian lain malah  nggak  berani mengakuinya karena ciri-ciri spesifik yang mereka hafal bukan seperti yang pertama kali mereka mendapatkan kentang.

Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana. Bahwa mereka adalah pribadi yang unik. Mereka berbeda satu sama lain. Keunikan itu anugerah yang sudah diberikan pada manusia yang terlahir di dunia ini.  Nggak  mungkin  kan waktu mau lahir mau milih jadi anak konglomerat, atau waktu mau lahir mau milih jadi anak presiden, atau milih jadi anak profesor dibandingkan jadi anak pemulung.

Anak-anak pun jadi  ngeh. Suasana menjadi cair. Tertawa satu sama lain. Unsur kepercayaan satu sama lain terbangun demikian pula kepercayaan anak-anak pada pemateri. Tidak ada yang lebih pintar ataupun lebih bodoh. Kami waktu itu belajar satu sama lain. Anak-anak dengan bahasa mereka bertanya dan dijawab pun dengan bahasa mereka.

Pemateri memang harus berwawasan luas. Tak bisa aku bilang aku ahli. Anak akan menjadi manut-manut nggak ngerti. Pesan jelas tak sampai. Justru, pemateri harus belajar pada anak-anak dan mengarahkan mereka. Pemateri tak bisa menjadi hakim yang memutuskan salah dan benar.

Kebetulan pemateri yang pernah diberi kesempatan sewaktu kuliah magang di Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) Unsri dan pernah pula magang di PPK UGM mengetahui sedikit banyak mengenai kehamilan di luar nikah, kontrasepsi dan juga permasalahan remaja. PPK Unsri sendiri pada waktu itu banyak bekerjasama dengan BKKBN baik dalam penelitian maupun dalam penyuluhan mengenai KB yang berkaitan dengan seks remaja dan kehamilan beresiko tinggi.

Istilah kecelakaan, mimpi basah,  first  kiss,  french  kiss,  cinta pada pandangan pertama, nembak, deklarasi, kencan alias janjian pertama,  back  street,  cerita porno, video porno, makan bareng merupakan pertanyaan-pertanyaan yang masih teringat ditanyakan oleh anak-anak seragam biru. Pertanyaan membanjir karena sudah terjalin saling percaya antara pemateri dan anak-anak. Apalagi ada cenderamata lucu-lucu yang diberikan pada anak-anak yang dinilai oleh anak-anak sendiri apakah layak diberi cenderamata atau tidak.

Pesan yang ingin disampaikan adalah  one  way  ticket. Cinta remaja bisa berbahaya dan bisa menggagalkan cita-cita mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun