Mohon tunggu...
Dwi Kurnia Wibowo
Dwi Kurnia Wibowo Mohon Tunggu... Freelancer - Laki-laki

Lahir di Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

DOC Baru Masuk Kandang

5 September 2020   07:15 Diperbarui: 5 September 2020   07:35 62
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Sekuat tenaga Selly memeras baju yang baru ia bilas itu. Tajam sekali pagi itu matahari melotot dari singgasananya. Menusuk panasnya ke pungung Selly yang sedang teliti menata baju di jemuran. Sebelum berangkat ke tempat kerja, Selly selalu menyempatkan mencuci pakaian milik sendiri dan adik laki-lakinya yang masih SD. Pagi yang mendukung untuk remaja perempuan yang sudah diberi kepercayaan penuh untuk urusan pakaiannya.

"Bu, Selly berangkat ya," pamit Selly sambil memakai sepatu, Selly langsung tancap gas sepeda motornya karena sebentar lagi sudah masuk shiftnya di tempat kerja. Selly baru lulus SMK, dia anak yang supel menjadikannya gampang akrab dengan orang. Tak heran setelah lulus langsung dapat kerja yang tempatnya tidak jauh dari rumahnya.

"Lihat tu Selly, sudah mandiri bisa kredit motor sendiri," Ibunya Heri agak kesal ngomong ke anaknya yang baru bangun pagi itu. Heri adalah teman sekolah Selly, satu jurusan di SMKnya. Heri dan Selly memang baru dinyatakan lulus beberapa minggu. Kertas yang berisi nilai yang sering disebut dengan ijazah saja belum bisa mereka boyong dari dari SMK. Sudah menjadi tradisi, kerja sistem automata penghasil hardcopy lamban beresnya karena kusir bukan dari ahlinya. Kusirnya saja banyak kusir tembak, tidak mengerti seluk beluk tentang kuda yang dikemudikan.

Heri yang memutuskan lanjut kuliah setelah lulus SMK itu mengisi hari-hari pasca pengumuman kelulusan dengan kegiatan seadanya. "Iya Bu iya, nanti saya ke ladang bantu Bapak," Heri dengan pelan menjawab Ibunya. Heri yang merupakan anak petani padi dengan lahan sawah terluas di kampungnya itu lebih suka menghabiskan waktu di depan komputer. Remaja lulusan SMK jurusan TKJ itu tidak suka banyak basa-basi orangnya.

"Gimana Jon ?" Tanya Heri sambil ngambil pakai helm. Heri sudah mengantongi kabar diterima di kampus kota hujan aliran pertanian. Heri melanjutkan studinya yang linear dengan jurusannya di SMK, dia mengambil jurusan Ilmu Komputer. "Wah saya mungkin mau kerja dulu aja," jawab Joni yang tidak diterima di kampus itu. Heri mengajak Joni makan siang, sebagai perayaan dirinya diterima. Joni adalah teman SMP Heri, mereka sama-sama melihat pengumuman itu di warnet.

"Sell, Ibu kemana?" Tanya Ibunya Heri. Ibunya Heri setelah bantu suaminya di ladang, sore itu merasa pinggangnya minta dimanjakan. Ibunya Selly memang jago urut, sering dikontrak tenaganya oleh para tetangga untuk urusan urut-mengurut. Kebanyakan orang kampung memang lebih percaya ramuan bawang merah dicampur minyak kepala daripada resep Dokter. Sudah pakai aturan minum, ditodong pula dengan list harga untuk spek obat yang sering tidak dijelaskan khasiatnya.

Tikar sudah digelar, Ibunya Selly sudah siap melakukan tugasnya. Dengan teliti ditotok badan Ibunya Heri untuk membuka cakranya. "Ini tadi banyak nunduk ya Mbak?" Tanya Ibunya Selly. Ibunya Heri memang habis bantu suaminya menali bibit padi siang harinya. Lahan yang sudah dibajak yang luasnya sering membuat warga kampung kagum itu sudah menganga minta di tanami padi. Musim tanam sudah tiba, Bulan Nopember adalah bulan ketika langit sudah sering mengguyur bumi.

"Hebat ya, anak kamu sudah bisa mandiri," Ibunya Heri mencoba lebih akrab. Selly direkomendasikan oleh gurunya untuk kerja di minimarket plat biru yang berival dengan minimarket plat merah. Padahal kedunya dibangun dengan konsep yang sama. Bahkan mungkin dibalik layarnya dengan pemain yang sama. "Heri gimana Mbak?" Tanya Ibunya Selly balik. Orang tua mana yang tidak bangga menceritakan anaknya berkuliah dikampus yang terkenal namanya. Walaupun baru diterima, seolah itu sudah tidak ada tandingannya. Memang sudah membudaya, investasi orang tua adalah anaknya. Kebanyakan orang tua menaruh harapan besar, nantinya bisa numpang hidup di hari tua.

Heri yang sudah hampir empat semester merasakan dunia perkuliahan, mulai merasa untuk apa kuliah itu. Berawal dari waktu dia mendaftar, deg-degan membuka pengumuman, mengikuti ospek senior rese, menyimak dosen presentasi materi hingga saat ini serasa flat-flat saja. Tidak seperti yang dibayangkan orang kampung, kuliah pasti jadi orang yang melek ilmu. Faktanya kuliah cuma kendaraan untuk sampai ke pembenahan mental pribadi. Tidak banyak yang bisa diambil dari kampus.

Akan tetapi semua jalannya sistem birokrasi yang ada di dalamnya bisa menjadi bahan. Kalau bisa mencernanya, semua itu bisa menjadi bahan untuk ditransformasikan ke otak dan diolah lagi. Keluarannya adalah pendewasaan diri, selain daripada itu merupakan bonus saja sebenarnya. Tanpa kuliah juga bisa punya skill, tanpa kuliah juga bisa kerja dan tanpa kuliah juga bisa hidup. Setiap kampus memang memiliki sistem birokrasinya masing-masing, tapi mungkin sama saja untuk pemain dari balik layarnya.

"Dit, kantin yuk!" Ajak Heri ke teman kuliahnya Adit. Siang itu selesai kelas, perut Heri sudah keroncongan menagih jatah matrial buat digiling lagi. Heri dan Adit berteman di kuliah dan berteman dalam organisasi di BEM Fakultanya. Keduanya aktif menjabat di BEM dan sama-sama tidak punya pengalaman organisasi sebelumnya. Waktu BEM Fakultasnya membuka lowongan jabatan untuk anggota, Adit dan Heri mencoba daftar. Kebetulan slot jabatan kepengurusan yang kosong ada dua, karena ada yang mengundurkan diri sebelum pelantikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun