Mohon tunggu...
Yosep mau
Yosep mau Mohon Tunggu... Mahasiswa Filsafat Widya Sasana Malang

Hic et Nunc

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Di Balik Kesederhanaan Ibu

25 November 2020   21:21 Diperbarui: 25 November 2020   21:37 65 8 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Di Balik Kesederhanaan Ibu
gambar: via theconversation.com

Tak ada kasih yang lebih dalam dari pemberian jiwa dan raga seorang perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, membimbing dan mendidik sampai pada kesudahannya. Dia adalah ibu. Berbicara tentang sosok ibu, saya yakin dan mengamini bahwa tak akan habis-habisnya untuk diceritakan. Setiap kata dan tindakannya selalu menghadirkan cerita dari cinta yang diberi. Itulah yang saya rasakan dalam hidup.

Sebagai seorang anak bungsu dari enam bersaudara, saya melihat bahwa cara ibu memperhatikan kami berenam adalah "sama." Sama dalam artian tidak ada satu dari keenam anak yang diistimewakan. 

Jika dalam masyarakat umumnya, dikenal bahwa anak bungsu selalu dimanja-manjakan, hal itu tidak berlaku dalam keluarga kami. Sejak kecil kami sudah diajar ibu untuk mandiri dan berani bertanggungjawab dalam setiap kata dan tindakan sebagaimana dia (ibu) dahulu dididik oleh orangtuanya.

Sungguh.. Ibu Sekolah Pertamaku adalah fondasi, karena ada sebuah peristiwa  yang pernah terjadi di pelosok Negeri Indonesia Timur tempat dimana saya dilahirkan. Saya merasakan satu proses belajar sama seperti yang kita alami sekarang, Belajar di Rumah (BDR). Hal ini terjadi bukan karena ada pandemi, atau tidak ada sekolah pada masa itu, tetapi ada beberapa alasan.

Pertama, jarak sekolah dari rumah kurang lebih tiga kilo meter (3 KM). Jarak tempuh yang cukup jauh ditambah lagi situasi dan kondisi yang masih sepi karena belum ada arus lalulintas dan perkembangan pembangunan pada masa itu. Kedua, masa usia sekolah untuk seorang anak, sebagaimana minimal 6 atau tujuh tahun dan ketiga, kebiasaan budaya setempat untuk masuk sekolah.

Pada alasan pertama, tidak bisa diterima karena sekalipun jalannya jauh dan sepi, toh masih ada banyak teman dan saudara-saudara  yang bisa menjaga saya. 

Pada alasan kedua bisa diterima, mungkin faktor usia sehingga belum dapat masuk sekolah, dan bagian ketiga adalah bagian yang mematikan alasan pertama dan kedua. Mengapa, karena cara orangtua memasukan anaknya ke sekolah tidak melihat pada jarak yang ditempuh atau faktor usia, tetapi melalui bagaimana "seorang anak dapat menjulurkan tangan kiri melewati kepala dan menyentuh telinga kanan atau sebaliknya." 

Jika, seorang anak ketika melakukan cara ini dan belum mampu menyentuh telinganya maka, janganlah bermimpi untuk duduk di ruang kelas karena belum layak untuk masuk sekolah hhhh... Itulah yang terjadi pada diri saya. Kesa..? Sudah pasti..karena setiap hari baru, saya akan terus menangis untuk pergi ke sekolah bersama teman-teman dan saudara-saudara saya.

Air mata terus mengalir setiap pagi, menjadi usaha untuk diizinkan pergi ke sekolah tetapi apa daya semuanya sia-sia karena ada alasan nomor tiga (3) yang belum dipenuhi. Namun, tidak menjadi penghalang untuk saya belajar. 

Pada saat-saat seperti itu, ibu mengambil peran sebagai seorang guru di rumah. Ia mengatakan "Anak, belajar tidak mengenal tempat, di manapun kau bisa belajar, asalkan kau punya niat untuk belajar." Maka, situasi menjadi berubah. Ibu mengajarkan saya membaca, menulis, berhitung, bernyanyi layaknya teman-teman yang ada di sekolah. 

Bahkan yang lebih spesialnya lagi Ibu mengajarkan saya notasi-notasi. Dimana dari setiap lirik lagu yang dinyanyikan, saya diajak untuk menentukan notasinya dan itu berlangsung setiap hari sampai saya mendapat kesempatan belajar di sekolah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x