Mohon tunggu...
Harun Anwar
Harun Anwar Mohon Tunggu... Menulis sampai selesai

Lelaki sederhana yang masih ingin tetap tampan sampai seribu tahun lagi

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Tak Ada Manusia yang Kaya

15 Oktober 2020   09:41 Diperbarui: 15 Oktober 2020   09:58 65 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tak Ada Manusia yang Kaya
seruni.id

Sudah kuduga sejak jauh-jauh hari hujan akan turun lebih cepat dari estimasi orang-orang. Perasaanku tak mengatakannya secara jelas, tapi firasat-firasat merasakan itu. Hujan itu lebih keras dari musim sebelumnya. Ia mematikan aktifitas, menjegal mobilitas, di rumah produksi ia menghambat kuantitas, nyaris semua dilibas bak api binasakan kertas.

Hujan itu seperti biasanya akan berlalu juga. Layaknya badai, kemarau, dan anak-anak semesta lainnya. Setelah itu kita perlu kembali melihat yang sudah-sudah, mencatat sejumlah kekeliruan, mengubek titik-titik salah, lipat satu demi satu jadi pengalaman, lalu simpan dalam lemari ingatan. Itu bekal untuk memasuki musim yang baru. Babak kehidupan yang rasanya tak akan kalah sengit dengan yang telah usai itu.

Sejenak saya coba meluangkan sedikit waktu untuk berpikir. Melihat lautan yang luas, merasakan embus angin yang menyapu kulit, mengamati gunung-gunung dan bukit, melihat matahari yang panasnya kadang terik, kadang redup. 

Di situ saya menyadari betapa manusia ini, seorang pun, tak ada yang kaya. Apalagi kaya raya. Semua orang sama. Punya nyawa dan hidup disebut manusia. Lain sisa adalah almarhum dan almarhumah. Syukur-syukur punya catatan baik selama jadi manusia, namanya umur panjang disebut-sebut dalam doa kebaikan. Entah yang semasa hidupnya jelek. Hanya Tuhan maha kaya yang tahu.

Hidup seorang manusia sungguh singkat. Kadang usia sebuah gedung bahkan bisa lebih tua. Serius. Apa yang bisa dibanggakan? Uang yang banyak tak bisa menghentikan hujan, emas permata tak bisa membuat lautan, berlembar-lembar sertifikat kepemilikan properti tak ada apa-apanya dibanding udara segar yang saban waktu kita konsumsi ini. Singkatnya saya ingin bilang tak ada yang kaya. Bukan bermaksud membela diri yang miskin ini, tapi begitulah.

Mati dan kiamat itu sungguh ada. Tidak perlu tunggu mencapainya dulu lalu percaya. Toh bukankah kemanusiaan telah lama mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu yang diadakan kelak akan tiada juga. Dan hanya Tuhan yang maha kaya. Tiada selain itu. 

Bukan menakut-nakuti. Hanya mengingatkan. Kadang kala kita menjadi terlalu pelupa untuk hal-hal kecil. Kita jadi acap kali abai untuk hal-hal penting. Menyiapkan banyak perlengkapan padahal hanya untuk perjalanan sehari. Sedang untuk perjalanan panjang kita malas untuk sekadar bersiap-siap.

Hidup yang singkat ini alangkah ruginya kalau tak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kita yang menonton sepak bola mungkin harus belajar dari waktu 90 menit pertandingan. Saat satu tim tertinggal, dan waktu telah masuk menit 90 maka tambahan waktu yang diberikan wasit akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Tak peduli itu semenit, atau lima menit. Segala upaya dikerahkan untuk meraih hasil terbaik. Karena akhir itu ada. Karena akhir itu sifatnya dekat.

Hidup lah dengan baik dan penuh manfaat. Kebahagiaan itu bukan perihal berapa uang simpanan di rekening bank. Bukan tentang seberapa luas dan mewah tempat tinggal. Hidup bahagia itu sederhana, dicintai banyak orang. Bukankah begitu? Segalanya menjadi lebih mudah, nyaman dan menyenangkan saat dunia luar mencintaimu.

Satu lagi: carilah uang sebanyak-banyaknya kalau itu tak memberatkanmu, dengan cara yang baik tentu saja, tapi tidak usah memaksakan menjadi yang paling kaya.

Bukan berniat menceramahi. Ini hanyalah usaha menasihati diri sendiri. Tak lebih.


Tabik.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x