Mohon tunggu...
Id.Djoen
Id.Djoen Mohon Tunggu... ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”

Anak Bangsa Yang Ikut Peduli Pada Ibu Pertiwi

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana Pilihan

Ramadan Pemersatu untuk Bangkit

20 Mei 2020   16:15 Diperbarui: 20 Mei 2020   16:25 16 5 0 Mohon Tunggu...

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei bertepatan dengan 10 hari terakhir bulan ramadhan. Seperti diketahui dalam 10 hari pertama ramadhan adalah hari penuh rahmat, 10 hari kedua hari penuh magfirah dan 10 hari terakhir ramadhan adalah hari terbebas dari api neraka. Sedangkan esensi hari kebangkitan nasional dilatarbelakangi sejarah Indonesia membutuhkan pemersatu untuk melawan penjajahan. Muncullah beberapa tokoh-tokoh nasional saat itu mendirikan Budi Utomo sebagai perwujudan kebangkitan nasional.

Situasi saat ini tak beda jauh dengan masa penjajahan kala itu dimana saat ini bangsa Indonesia sedang terjajah oleh pandemi wabah virus Covid 19 yang bagaikan neraka bagi warga negara hampir diseluruh penjuru dunia.

Kalau mau belajar dari sejarah latar belakang hari kebangkitan nasional, mustinya sesama anak bangsa bersatu melawan wabah Covid 19 ini. Namun kenyataannya dari pengamatan saya setelah membaca berita diberbagai media satu sama saling mencari celah kelemahan masing-masing sehingga dalam penanganan wabah ini tidak singkron. Ketidak singkronan ini malah dimanfaatkan oleh buzzer baik buzzer prabayar atau buzzer pasca bayar yang cenderung dari kalangan inteleks untuk menyerang dan memojokkan tokoh tertentu, amatlah disayangkan wabah global pandemi virus Covid 19 dibawa keranah politik.

Ini dapat kita lihat pro kontra antara seorang menteri dengan pemimpin nomor satu DKI Jakarta saat berlakukan pelarangan sarana transportasi. Saat pro kontra pelarangan mudik hingga muncul pembedaan istilah antara mudik dan pulang kampung padahal esensi dua istilah tersebut adalah sama saat pandemi ini yaitu sama-sama menyebarkan virus Covid 19. Kebijakan yang bikin iri umat, saat umat dilarang atau diberi warning ketika jalankan ibadah digereja, masjid dan lain-lain, disisi lain tempat berkumpulnya banyak orang seperti bandara, dan sarana perhubungan lain dibiarkan.

Ketidak singkronan tersebut bukan isu atau hoaks namun sebuah kenyataan karena tidak adanya sinergi antara pejabat satu dengan lainnya dalam memperlakukan kebijakan masing-masing. Padahal  hari kebangkitan nasional mengingatkan kembali tentang perlunya persatuan dan pemersatu dalam menghadapi permasalahan bangsa saat ini yaitu penjajahan berbnentuk virus Covid 19 yang menjadikan kehidupan semua rakyat seperti neraka.

10 hari terakhir ramadhan hari terbebas dari siksa api neraka adalah saat yang tepat untuk merenung diri dan muhasabah ( I'tikaf) tentang semua perilaku kita sebagai umat baik dalam keshidpan sehari-hari atau saat menghadapi wabah covid 19 ini. Dengan muhasabah tersebut kita semua elemen bangsa akan bersatu bangkit untuk melawan dan keluar dari neraka yang bernama pandemi wabah covid 19 ini.

Diharapkan setelah 10 hari terkahir ramadhan ini timbul persatuan dan menjadikan ramadhan sebagai simbol pemersatu semua elemen bangsa untuk bangkit melawan wabah virus covid 19. Tak ada lagi pro kontra elite negeri ini dalam mengeluarkan kebijakan untuk penanganan wabah virus 19, tak ada lagi serangan-serangan buzzer prabayar buzzer pascabayar demi kepentingan politik praktis semata.

Lebaran Sebentar lagi  nanti  nyata-nyata kembali fitri dari hati umat dinegeri ini sehingga dalam membuka lembaran baru kehidupan diisi dengan hati bersih dari iri , dengki dan sama-sama bersatu untuk bangkit berjuang melawan wabah covid 19.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x