Mohon tunggu...
Id.Djoen
Id.Djoen Mohon Tunggu... Wiraswasta - ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”

Anak Bangsa Yang Ikut Peduli Pada Ibu Pertiwi

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

Golput Jangan Diancam, tapi Beri Solusi

28 Maret 2019   09:46 Diperbarui: 28 Maret 2019   10:03 186
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Golput kata-kata ini mulai marak seiring semakin dekatnya moment pemilu 2019. Golput Jangan diancam tapi diberi Solusi adalah judul artikel saya kali ini, bukan maksud saya mengajak untuk golput namun saya coba mengajak berfikir jernih tentang fenomena Golput. Hingar bingar Golput hingga menyentuh MUI untuk keluarkan Fatwa Golput Haram yang menuai prokontra yang akhirnya dibantah fihak MUI. 

Sebab memang "memilih" itu hak politik warga negara yang tidak bisa dipaksakan karena ada alasan-alasan tertentu menyebabkan warga negara tidak melaksanakan hak politiknya.

Sedikit kita tengok sejarah Golput di Indonesia : Golput atau golongan putih pada mulanya adalah gerakan protes yang dipelopori oleh para mahasiswa dan pemuda. Gerakan ini pertama kali dicetuskan pada 3 Juni 1971, sebulan sebelum pemilihan umum pertama di era Orde Baru. Salah satu tokoh yang memimpin gerakan ini adalah Arief Budiman. Protes tersebut lahir karena praktik politik kala itu dinilai tidak demokratis.

Dari kutipan asal muasal Golput di Indonesia adalah wujud protes karena ketidak adilan politik ordebaru yang tidak demokrasi. Tentu saja berbeda alasan alm Gusdur yang pernah juga Golput pilpres pada tahun-tahun yang lalu atau alasan juga berbeda dengan beberapa Suku Badui yang juga Golput pada saat itu.

Ada banyak lain yang menyebabkan Golput tetap ada dan senantiasa meningkat setiap moment pemilu. Ada sebuah info menarik : Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU), tingkat partisipasi pemilih pilpres pada 2004 yakni sebesar 79,76 persen pada putaran pertama dan 74,44 persen di putaran kedua, 2009 (72,09 persen), dan 2014 (70 persen)

Dari data diatas pada pilpres tahun 20004 dan 2009 prosentase partisipasi pemilih pilpres berkurang atau golput meningkat saat pilpres putaran kedua berlangsung, ini disebabkan capres yang ada tidak ada yang mengena dihati mereka sebab sudah tersingkir putaran pertama.

Tanpa disadari ambang batas pencapresan pilpres 2019 yang tingggi berdampak pada partai-partai besar saja yang bisa mengajukan capres sehingga hanya memunculkan 2 kandidat capres-cawapres ini juga penyebab Golput sebab diantara kedua pasangan tersebut tidak ada yang berkena dihati pemilih.

Itu alasan atau faktor yang memunculkan Golput yang tanpa disadari dibuat oleh partai politik itu sendiri. Ada faktor lain yang luput dari pandangan politikus yang menyebabkan pemilih Golput, diantaranya :

  • Kecewa pada pilihannya pada pemilu yang lalu
  • Kecewa pada perilaku aleg yang dipilhnya
  • Tidak tersalurkan aspirasinya pada calon yang dipilihnya
  • Kondisi mereka tidak berubah walau telah dijanjikan oleh pilihannya
  • Dan lain-lain

Perilaku politikus yang telah terpilih korupsi, suap, memperkaya diri adalah faktor kenapa Golput cenderung ada. Sikap apatis pada caleg-caleg tersebut bukan salah pemilih namun karena salah politikus itu sendiri. KPU ditahun 2019 berusaha meningkatkan partisipasi pemilih dengan membuat aturan mantan koruptor dilarang mencalegkan diri. Namun disayangkan justeru banyak partai politik mencalonkan kembali politikus yang terlibat korupsi tersebut. Perilaku semacam inilah yang tanpa disadari menimbulkan meningkatnya golput disetiap ajang pemilu.

Jadi tidak perlu harus mengancam Golput dengan UU Teroris, UU IT, dan Fatwa sebab peningkatan Golput karena disebabkan ulah politikus itu sendiri yang telah membuat pemilih kecewa sehingga mereka memutuskan untuk tidak memilih. Berikan solusi riil dengan memenuhi janji-janji selama kampanye dan mencegah diri berbuat korupsi sehingga pemilih tetap percaya pada proses demokrasi ini.

Berikan wawasan tentang pentingnya partisipasi dalam pemilu bagi pemilih pemula dengan contoh dan wawasan yang benar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun