Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Konsultan - Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

http://jappy.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Serial Lansia: Suami Puber Kedua, Isteri Menopause, dan Menyikapinya

22 Desember 2020   12:18 Diperbarui: 30 Januari 2022   10:47 472
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Selalu Ada Teman | Dokumentasi Pribadi

Beberapa Perubahan pada Pasangan Suami-isteri Usia Dewasa Madya

Suami

  • Tidak puas dengan penyesuaian dalam hubungan seksual
  • Jikalau suami berhasil dalam karier. Ia merasa bahwa isterinya tidak mendukung keberhasilannya
  • Apabila ia tidak berhasil dalam karier. Ia merasa bahwa isterinya tidak membantu dalam mengembangkan karier suaminya, bahkan dianggap menghalanginya.
  • Perasaan bahwa ia dan isterinya mempunyai perbedaan sikap dan kesenangan yang besar, karena isterinya sering menolak untuk tertarik pada sesuatu yang dianggap penting baginya
  • Sikap mengkritik terhadap cara pengelolaan rumah dan keuangan oleh isterinya dan suatu kepercayaan bahwa metode latihan bagi anaknya telah dilakukan dengan cara yang serba membolehkan atau sangat longgar.
  • Tidak puas terhadap penampilan isteri
  • Perasaannya bahwa isterinya mendominasi dirinya dan memperlakukannya seperti anak kecil

Isteri

  • Tidak puas dengan penyesuaian seksual
  • Kehilangan ilusinasi dengan suaminya karena ia tidak berhasil dalam karier
  • Merasa dijadikan budak dirumah atau oleh saudaranya yang lebih tua.
  • Dugaan bahwa suami kikir dalam membelanjakan uang untuk pakaian dan rekreasi
  • Keyakinan bahwa suaminya tidak menghargai waktu dan usaha yang telah dilakukannya untuk tugas-tugas rumah tangga.
  • Perasaan bahwa suaminya lebih tertarik pada karier daripada dirinya
  • Perasaan bahwa suaminya menggunakan terlalu banyak waktu dan uang untuk saudara-saudaranya
  • Perasaan curiga bahwa suaminya terlibat dengan perempuan lain dalam hubungan cinta.

Selanjutnya Klik dan Baca Sumber

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
Hutan Hijau Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat | Mungkin saja anda, ya dirimu yang sementara baca, belum melewati usia 40-60 Tahun; usia yang menurut Psikologi Perkembangan dikategorikan sebagai Usia Dewasa Madia atau setengah baya. Pada durasi usia ini, (i) dipandang sebagai masa usia antara 40 sampai 60 tahun, (ii) dibagi menjadi usia madya dini yang dari usia 40-50 tahun,  dan usia madya lanjut dari usia 50-60 tahun, (ii) umumnya ditandai dengan perubahan-perubahan jasmani dan mental serta masuk masa untuk pensiun.

Dari semua perubahan psikologis pada Orang Dewasa Madia, ODM, tersebut, umumnya dilewati dan dinikmati oleh pasangan suami-isteri ODM dengan aman-aman saja, tanpa gejolah berarti, atau bahkan semua berlalu serta berlangsung seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi, seiring dengan perkembangan dan perubahan itu, jika ada atau terjadi, apa yang disebut sebagai, puber kedua, (Note: Bukan saja suami yang mengalami puber kedua, tapi juga isteri); PK inilah, yang kadang menjadi masalah krusial, bahkan malapetaka interaksi pada ODM, (Note: Anda yang belum mencapai ODM tak percaya? Sabarlah, nanti ketika kalian sebagai ODM, baru rasakan).

Ya; puber kedua, PK, merupakan sesuatu yang terjadi hampir semua ODM di mana pun, dari semua kelas sosial, golongan, etnis, sub-suku, suku, dan bangsa. Sehingga, kadang PK disebut sebagai 'hanya sekedar warna-warni hidup dan kehidupan,' namun ada juga yang menyebutnya sebagai 'malapetaka isteri.' Lho, kok hanya malapetaka pada isteri?

"Ada juga yang menyebutnya sebagai 'malapetaka isteri;' lho, kok hanya malapetaka pada isteri?" Ya, umumnya, banyak orang berpendapat seperti itu karena mereka menyoroti dan pahami PK sebagai 'penyakit sosial para lelaki atau atau suami;' sebab pada usia itu, lak-laki ada pada usia dewasa, mapan, dan kedewasaan psikologis, sehingga mereka bisa melihat hal-hal baru di luar rumah. Lebih dari itu, karena kebebasan bergerak di luar rumah, lelaki yang PK lebih mudah membangun interaksi sosial (yang baru) di luar rumah, termasuk dengan perempuan sebayanya (atau lebih muda) dengan berbagai daya tariknya (yang munkin saja tidak ada pada isterinya). Tetapi, "Apakah memang mutlak seperti itu?"

Tetapi, "Apakah memang mutlak seperti itu?" Jawabannya, "Tidak lah!" Sebab, PK bukan melulu merupakan sikon psikologis lak-laki namun juga perempuan atau isteri, tapi tanda atau ciri-cirinya (agak) berbeda.

Umumnya, pada saat durasi usia ODM, saat lak-laki atau suami pada masa keemasannya, tapi isteri justru (mulai) masuk atau sudah ada pada masa menopause. Dan jika masa itu, menopause (Noet: Menopause disebabkan oleh perubahan hormon seks dalam tubuh yang umumnya terjadi saat berusia tua; terjadi ketika ovarium berhenti untuk memproduksi hormon esterogen dan tidak menghasilkan sel telur setiap bulan) terjadi, maka salah satu dampak langsung (yang umum) adalah 'mereka, suami isteri dingin pada waktu kemesraan di ranjang.' Karena dampak 'dingin' itu, sering juga terjadi bahwa banyak orang 'menuduh' laki-laki yang PK sebagai suka 'main mata atau pun punya wanita idaman lain.' Nah ... !

Bagaimana Menyikapinya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun