Mohon tunggu...
Opa Jappy
Opa Jappy Mohon Tunggu... Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan. Akun Resmi Jappy M Pellokila di Kompas.Com dengan motto Bebas Menyuarakan Kebebasan. Tulisan lain: https://artikel867913207.wordpress.com http://jappy.8m.net https://twitter.com/OpaJappy">https://twitter.com/OpaJappy Dan juga ada di Berbagai Media Nasional dan LN. Akun Lama http://www.kompasiana.com/jappy

Selanjutnya

Tutup

Kandidat

Prabowo Mencoba Melawan Kehendak Rakyat

23 Mei 2019   12:26 Diperbarui: 23 Mei 2019   12:54 0 7 11 Mohon Tunggu...
Prabowo Mencoba Melawan Kehendak Rakyat
Dokumentasi Pribadi

Lintasan

Ketika itu, sekian tahun yang lalu, akumulasi dari semua ketidakpuasan rakyat terhadap tata kelola Negara yang terpusat pada Soeharto, setiap hari terjadi puluhan aksi mahasiswa.

Aksi-aksi tersebut diiringi juga sejumlah penangkapan, penculikan, dan penghilangan sejumlah aktivis yang bukan mahasiswa, (Note: Mereka hingga Hari ini, mereka tetap sebagai orang hilang). Secara TSM, aksi mahasiswa merata di seluruh Indonesia. Puncaknya, mereka berhasil mencapai 'Gedung Keong' dan 'menduduki' atapnya.

Sementara itu, juga pada masa yang telah lewat, Presiden Soeharto yang berusaha memperbaiki keadaan dengan membentuk Komite Reformasi, gagal total. Sejumlah tokoh menolak bergabung; bahkan 14 orang menteri andalannya, mengundurkan diri.

Akhirnya, semuanya berakhir pada Kamis 21 Mei 1998. Ketika itu, pas perayaan dan Ibadah Hari Kenaikan Yesus, saya masih di Konsistori Gereja, mendapat pesan melalui pager, bahwa Soeharto menyatakan diri mundur; dan Prof BJ Habibie sebagai Presiden RI.

Berita yang getar membahana ke pelbagai penjuru; saya pun bergegas ke area kumpul mahsiswa (yang saya bina); mereka masih berkumpul. Ada yang sujud syukur, yang lain menaikkan pujian dan doa. Di area yang sama, dipisah oleh batasan kosong, terjadi Sholat Lohor dan Kelomopok Pujian Serta Doa. Kenangan tak  terlupakan.

Setelah itu, semuanya seakan berproses dari nol atau hamparan kosong; hampir segala sesuatu di Negeri Tercinta, dirubah atas nama semangat Reformasi. Dan, yang paling tragis, adalah MPR (i) mencabut Pancasila sebagai asas tunggal Berbangsa dan Bernegara, dah (ii) membiarkan tata kelola Negara tanpa Garis-garis Besar Haluan Negara; suatu produk politik Orba yang terbaik untuk kelangsungan dan stabilitas Bangsa dan Negara pada segala bidang.

#

Proses itulah, dan masih terus menerus berproses, yang menghantar pada rakyat RI memilih Presiden secara langsung. Sehingga muncul Presiden SBY, kemudian Presiden Jokowi. Mereka tampil sebagai Presiden setelah melewati salah satu arena pertarungan politik yaitu Pilpres.

Pada pertarungan itu, Prabowo selalu ada di dalamnya atau ikut, (sebagai Capres atau pun Cawapres) dan ia tidak pernah menang.

##

Kini, 2019, sekali lagi Prabowo kembali berupaya mencapai level kedudukan politik eksekutif di RI melalui Pilpres. Ternyata, Prabowo, sekali lagi tidak beruntung; ia gagal menggapai cita-cita serta tidak mampu mewujudnyatakan obsesinya. Rakyat RI berkehendak lain, dan tidak memberi kesempatan pada Prabowo.

Namun, Prabowo (dan bersama sedikit Kelompok Pendukungnya), mencoba melawan kehendak rakyat yang tidak memilihnya sebagai Presiden. Perlawanan yang dilakukan oleh Prabowo melalui berbagai cara, antara lain (i) menyatakan diri sebagai Presiden RI, (ii) menyampaikan narasi menang, curang, perang, (iii) menolak hasil akhir perhitungan suara di KPU, (iv) pengerahan massa secara bergelombang ke Bawaslu dan KPU, (v) mungkin melalui Mahkamah Konstitusi.

Faktanya, perlawanan Prabowo terhadap kehendak rakyat tersebut, semakin nyata dengan adanya orang-orang yang melakukan demo di Bawaslu RI, yang juga kadang diiringi dengan sedikit anarkhis. Dan, aksi tersebut ditunggangi oleh kelompok lain, kemudia mereka melakukan aksi pengrusakan, pembakaran, mencaci maki, bahkan melempari aparat.

Aksi-aksi tersebut, diakui atau tidak, merupakan pesan dan undangan kepada masyarakat (utamanya, mereka yang wawasan sempit dan mudah percaya hoaks serta ujar kebencian) agar ikut bergabung; atau pun melakukan aksi yang sama.

Tetapi, pesan dan undangan tersebut gagal total dan tidak mendapat apresiasi publik. Sebaliknya, publik menilai sebagai upaya yang melawan kehendak dan pilihan mereka pada Pilpres RI 2019. Dengan itu, rencana Prabowo cs, agar terulangnya sikon seperti pra-21 Mei 1998, juga gagal total.

Aksi-aksi yang mereka sebut sebagai People Power, kemudian beganti nama menjadi Gerakan Kedaulatan Rakyat, sehingga jadi bahan lucu-lucuan di Medsos. Apalagi, lebih dari 200 oran pelaku rusuh dan aksi anarkis yang ditangkap Polisi.

Kini, saat ini, Jakarta kembali gembira; semuanya berangsur normal; sementara para perusuh meratapi nasib di tahanan dan ranjang Rumah Sakit. Tapi, para aktor yang membiayai perusuh, duduk manis di Dunia Lain, mungkin sambil menanti Surat Panggilan dari Polri. Tragis.

Cukuplah

Opa Jappy | Indonesia Today