Opa Jappy
Opa Jappy Petutur dari Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Akun Resmi Jappy M Pellokila di Kompasiana.Com dengan motto Bebas Menyuarakan Kebebasan. Tulisan lain: https://artikel867913207.wordpress.com http://jappy.8m.net https://twitter.com/OpaJappy">https://twitter.com/OpaJappy Dan juga ada di Berbagai Media Nasional dan LN. Akun Lama http://www.kompasiana.com/jappy

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Pilkada Jatim, Khofifah dan Saifullah Memiliki Peluang yang Sama

13 Maret 2018   19:26 Diperbarui: 13 Maret 2018   20:52 865 3 2
Pilkada Jatim, Khofifah dan Saifullah Memiliki Peluang yang Sama
Dokumentasi Kompas Id

Selain DKI Jakarta, maka Sumatera Utara, Jabar, Jateng, dan Jatim adalah provinse-provinsi yang Pilkadanya menarik perhatian banyak orang, termasuk saya. Provinsi-provinsi yang disebut belakangan, menjadi perhatian publik karena faktor  pemilih tetap sangat besar, juga sejumlah tokoh terkenal berupaya merebut tempat sebagai  Gubernur dan Wakil Gubernur di daerah-daerah tersebut.

Kali ini, perhatian saya ke Jatim, provinsi yang pernah saya tinggal selama tiga tahun, bahkan anak pertamaku lahir di Surabaya. Uniknya pada Pilkada Jatim 2018, terjadi persaingan antara  dua nama besar yaitu Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf. Keduanya pernah menjadi pasanagn Kandidat pada Pilkada sebelumnya, Khofifah menjadi calon gubernur dan Saifullah menjadi calon wakil gubernur, 2018, keduanya berhadapan sebagai sama-sama calon gubernur.

Pada Pilkada Jatim 2013, Khofifah yang seharusnya menjadi Gubernur Jatim, justru dikalahkan oleh KPUD Jatim dan MK era Akil Muchtar (yang kemudian ditangkap karena kasus korupsi). Ketika itu, mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan Karsa. 

Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu bahkan sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. Tetapi, ketika amar putusan MK tersebut dibacakan, MK memperkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Khofifah kalah karena 'ada faktor lain.'

Kini, 2018 Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak dan Saifullah Yusuf berpasangan dengan Puti Guntur Soekarno (Generasi ketiga dari Trah Soekarno, yang terangkat ke permukaan area dan arena perpolitikan Indonesia). Emil Dardak adalah Bupati Trenggalek dan juga cucu dari KH Mochamad Dardak, ulama yang disegani di Trenggalek. Sementara Puti Guntur adalah anggota DPR dari PDI-P yang juga cucu dari Presiden Pertama RI Bung Karno. Kedua calon wakil gubernur tersebut, walau kurang dikenal, namun dinilai publik jawa Timur mampu memperkuat calon gubernur atau Gubernur Jatim (jika terpilih).

Khofifah-Emil yang diusung koalisi PPP, Golkar, Hanura, PAN, Nasdem, dan Demokrat; sedangkan Saifullah-Puti yang diusung koalisi PDI-P, PKB, Gerindra, dan PKS. Kedua pasangan tersebut, mempunyai wakil yang nyaris tidak terkenal, namun Khofifah dan Saifullah, bisa disebut sama-sama terkenal dan dikenal oleh masyarakat Jawa Timur; dan juga dua-duanya berbasis massa warga Nahdlatul Ulama.

Kesamaan basis masa, pendukung atau warga yang mendukung, populeritas, dan penerimaan publik, serta potensi (kemungkinan) terpilih tersebut, juga menjadi perhatian Litbang Kompas. Hasil Survey Kompas antara lain

  1. Pasangan Khofifah-Emil dan Saifullah-Putih sama-sama dikenal, populer, dikenal sebagai tokoh dalam bidangnya masing-masing; dan sama-sama mendapat dukungan dan respons publik atau pemilih Jawa Timur. Kedua pasangan mempunyai peluang yang sama untuk memenangkan Pilkada Jatim
  2. Elektabilitas Khofifah-Emil, 44,5 %.
  3. Elektabilitas Saifullah-Puti, 44,0 %.
  4. Tingkat popularitas Khofifah, 85 %
  5. Tingkat popularitas Saifullah, 77.6 %
  6. Tingkat populeritas Emil--Puti, < 40 %
  7. Warga NU yang (cenderung) memilih Khofifah-Emil, 45,5 %
  8. Warga NU yang (cenderung) memilih Saiffulah-Puti, 45,7 %
  9. Pemilih yang sudah mantab memilih Khofifah-Emil, 53,1 %
  10. Pemilih yang sudah mantab memilih Saifullah-Puti, 56,6 %
  11. Pemilih berlatar NU memilih Khofifah-Emil, 82 %
  12. Pemilih berlatar NU memilih Saifullah-Puti, 84 %

Siapa yang Berpeluang Menang

Membaca hasil survey Litbang Kompas di atas, maka hal utamanya adalah kedua pasangan, Khofifah-Emil dan Saifullah-Putih, sama-sama dikenal, populer, dikenal sebagai tokoh dalam bidangnya masing-masing; dan sama-sama mendapat dukungan dan respons publik atau pemilih Jawa Timur. Kedua pasangan mempunyai peluang yang sama untuk memenangkan Pilkada Jatim.

Jika seperti itu, sebagaimana Pilkada, maka harus ada yang menjadi pemenang, dan itu hanya muncul atau terjadi jika pada menit-menit terakhir menuju TPS, pemilih mengalihkan pilihannya. Karena itu, hingga pada Hari Pemilihan, kedua pasangan harus tetap melakukan sosialisasi diri, pengenalan dan memperkenalkan diri kepada publik, publikasikan program (dan visi, misi) unggulan, dan janji-janji politik.

Tanpa Kampanye Hitam

Di balik itu, setelah saya menelusuri sejumlah Media News Online (main stream dan non main stream) yang berbasis di Jawa Timur, ternyata kegiatan sosioaisasi Kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur, tidak menemukan 'apa-apa yang disebut Kampanye Negatif.' Ini menarik, padahal ketika Pilkada sebelumnya, Khofifah diserang oleh pasangan lain karena dia perempuan. Mungkin, kali ini, Pilkada 2018, ada dua perempuan yang ikut bertarung yaitu Khofifah dan Puti. Atau, itu karena Puti didukung oleh PKS, Parpol yang di banyak wilayah 'menolak' pemimpin perempuan.

Dengan demikian, kampanyenya 'adem ayem,' aman, tanpa kampanye hitam dan ujar kebencian, hanya menyampaikan program serta visi misi, maka para pemilih atau pun publik tak terbelah. Dampaknya, bisa dipastikan yaitu Pilkada Damai di Jawa Timur.

Semoga.

Opa Jappy

Artikel Terkait

Terbukti, Khofifah Kalah Bukan karena Ia Perempuan, tapi Dikalahkan Mahkamah Konstitusi