Opa Jappy
Opa Jappy Orang Rote yang Bertutur Melalui Tulisan

Akun Resmi Jappy M Pellokila di Kompas.Com dengan motto Bebas Menyuarakan Kebebasan. Tulisan lain: https://artikel867913207.wordpress.com http://jappy.8m.net https://twitter.com/OpaJappy">https://twitter.com/OpaJappy Dan juga ada di Berbagai Media Nasional dan LN. Akun Lama http://www.kompasiana.com/jappy

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ti'i Langga dan Presiden Joko Widodo sebagai Manaleo Nusa Lote

12 Januari 2018   15:51 Diperbarui: 15 September 2018   19:58 1147 1 1
Ti'i Langga dan Presiden Joko Widodo sebagai Manaleo Nusa Lote
Dokumentasi Pribadi

Simak

"Saya mensyukuri negara ini adalah negara yang sangat besar, negara yang sangat beragam. Negara yang memiliki 714 suku, memiliki lebih dari 1.100 bahasa daerah yang berbeda-beda, yang tinggal di 17.000 pulau. Tiga tahun lalu saya ke Sabang, pulau paling barat, terluar di sebelah barat. Kemudian juga ke Merauke, sudah dua kali. Setelah itu yang ketiga ke Pulau Miangas, yang pulaunya hanya dihuni oleh 230 Kepala Keluarga, pulau yang sangat kecil. Di situ juga telah kita bangun bandara baru sehingga masyarakat bisa memanfaatkan.

Saya kira harus naik helikopter untuk sampai ke Pulau Rote dari Kupang; namun, ternyata naik pesawat bisa. Tiga tahun yang lalu, saya perintahkan Menteri Perhubungan untuk memperpanjang runway, memperbaiki terminalnya, memperbaiki pelabuhannya. Artinya, Pulau Rote ini sudah bisa turun pesawat-pesawat yang lumayan besar, seperti yang tadi sore saya bawa

Saya senang karena tadi dibilangin Pak Bupati, katanya saya ini adalah presiden pertama yang datang ke Pulau Rote; yang menyampaikan bukan saya loh ya, tapi Pak Bupati. Sehingga kalau ada yang bilang, Pak keliru, ah bilangnya ke bupati saja.

Dengan menginjakkan kaki saya di Pulau Rote, saya sudah lengkap melihat Indonesia dari ujung ke ujung, dari ujung ke ujung, ujung barat ke ujung timur, ujung utara ke ujung selatan. Saya betul-betul sangat berbahagia sekali bisa bertemu dengan semuanya di Pulau Rote Ndao.

Yang belum berarti, yang paling depan, di sebelah selatan yaitu di Pulau Rote, yang baru bisa saya dikunjunginya pada hari ini. Karena hari ini kita sedang berada di Rote, saya sampaikan salam Eta Esa, Kita adalah Satu, Satu dalam Persaudaraan, Satu dalam Kebinnekaan, Satu bangsa, dan Satu tanah air

Untuk menuju ke negara maju, kita harus membangun Indonesia dari sebelumnya Jawasentris menjadi Indonesiasentris. Bukan hanya membangun Jawa, bukan hanya Sumatera, tetapi dibangun seluruh pelosok tanah air dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Oleh sebab itu, tidak ada daerah yang dilupakan, tidak ada daerah yang dikesampingkan, tidak ada daerah yang dianaktirikan dan dianakemaskan. Semuanya adalah anak kandung ibu pertiwi.

Daerah-daerah 3T, Terdepan, Terluar, Tertinggal, tidak boleh dilupakan. Demikian juga daerah-daerah perbatasan tidak boleh ditelantarkan. Di NTT telah kita bangun tiga pos lintas batas yang dulunya kayak kantor kelurahan."

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo

Senin, 8 Januari 2018 | Ba'a, Ibukota Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Tentang Rote

Ya. Joko Widodo, adalah Presiden RI yang pertama kali menginjak kakinya di Rote, pulau dan Kabupaten terselatan di Nusantara; ya, ia merajut ulang rangkaian pulau yang sekian lama terlupakan dan tertinggal.

Nusa(k) atau Pulau Rote, sudah berpenghuni, jauh sebelum Abad Masehi, ditandai dengan adanya dan tanda-tanda atau sisa hidup dan kehidupan Zaman Batu; orang-orang kuno itu dari Micronesia, Papua, Flores, dan Seram. Bahkan, menurut tuturan, yang terpelihara hingga kini, turunan mereka lah yang kemudian berinteraksi dengan para 'pendatang modern' atau yang belakangan datang yaitu Orang-orang Yahudi dari Suku Gad dan Benyamin (sekitar tahun 700 dan 500 Seb Masehi dan 70-80 Masehi). 

Sejarah mencatat bahwa pada tahun-tahun itu, Kerajaan Israel dan Yehuda, mengalami penghancuran dan orang-orang Yahudi ditawan serta dibuang atau disebar ke berbagai penjuru dunia. Dan pada tahun 70, ketika penghancuran Yerusalem oleh Titus dari Roma(wi), menjadikan bangsa Yahudi semakin menjauh dari Timur Tengah. Tidak menutup kemungkinan, jika mereka sampai ke Rote, Oikos (daerah yang berpenghuni) yang terjauh pada masa itu, sebelum bangsa-bangsa Eropa menemukan Amerika dan Australia.

Mernurut catatan pada Land Taal & Volkenkunde Van Netherlands Indie (1854), pada pada Abad 3 (sumber lain menyatakan abad 1) muncul kapal-kapal layar besar di pantai Rote, para pelaut membutuhkan air minum. Di pantai mereka bertemu seorang nelayan dan bertanya, "Pulau ini bentuknya bagaimana?" Nelayan ini menyangka bahwa mereka menanyakan namanya, sehingga ia menjawab, "Rote" (Rote is Mijn Naam). 

Orang dari Kapal mengira pulau itu Rote, segera ia menamakan pulau itu Rote. Demikian seterusnya pulau ini disebut Rote. Pada arsip pemerintah Hindia Belanda, Rote ditulis 'Rotti atau Rottij.' Orang Rote menyebut Nusak mereka adalah 'Lote', khusus bagi mereka yang tidak bisa menyebut huruf  'R.' 

Padahal sebutan yang sebenarnya adalah 'Lolo Neo Do Tenu hatu' atau pun 'Nes Do Male' dan juga 'Lino Do Nes,' (pulau yang sunyi dan terlupakan karena tidak berpenghuni, suatu ungkapan sarkasme terhadap Negara yang melupakan Rote dan Orang Rote).

Menurut catatan Negarakertagama, 1365, Timor dan pulau-pulau sekitar terkenal dengan hasil cendananya merupakan wilayah Majapahit, namum mempunyai raja-raja yang otonom dan mandiri. Ini juga berarti bahwa Timor dan pulau-pulau sekitarnya tidak pernah menjadi taklukan atau sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Majapahit. 

Ketika tahun 1510, Goa-India dikuasai Portogis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta penguasaan wilayah Nusantara. Portogis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores). Tahun 1511 armada Ferdinand Magellan (dua kapal) singgah di Alor dan Timor (Kupang). Dalam penyebrangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga kini masih ada di pantai Rote. Satu lainnya berhasil lolos dari amukan ombak melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke Spanyol.

Sebelum kedatangan Belanda, tahun 1700an di Rote, Kerajaan Termanu,  (Masa raja-raja dari Klan Pellokila) yang paling berpengaruh, besar, dan luas di Rote. Kekuasaan Raja Pellokila dari Termanu hampir 2/3 wilayah Pulau Rote. Belanda pun tak sanggup mengusai atau menjajah Rote dan Raja-raja Rote lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2