Mohon tunggu...
Ony Jamhari
Ony Jamhari Mohon Tunggu... profesional -

Ony Jamhari adalah Entrepreneur, Travel Writer, and Educator FB Page: Travel with Ony Jamhari Instagram and Twitter: @ojamhari or @alsjuice

Selanjutnya

Tutup

Foodie Artikel Utama

Gairah Wisata "Temple Stay" di Korea Selatan

22 April 2014   22:03 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:20 548
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_332750" align="aligncenter" width="594" caption="Paradise Bridge, Magoksa Temple, Gongju, Korea Selatan "][/caption]

Suasana damai begitu dapat saya rasakan ketika sampai di Youngpyungsa Temple . Perjalanan ke Youngpyungsa adalah untuk mengikuti Temple Stay tepatnya belajar mengenai Korean Temple Food. Lewat undangan dari Prof. Oh Suktae, seorang profesor dan juga chef yang mengajar di jurusan Culinary Arts Universitas Woosong, Daejeon, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini yang disponsori oleh the Cultural Corps of Korean Buddhism, Korea Selatan.

Bersama dengan dua belas orang (12), kebanyakan mereka adalah profesor atau chef di jurusan Culinary Arts, Universitas Woosong yang berasal dari berbagai negara seperti German, China, dan Amerika selama, selama dua hari kami belajar tentang Korean Temple Food. Perlu waktu kurang lebih empat puluh (40) menit perjalanan dengan naik bis untuk menuju ke Youngpyungsa yang berlokasi di kota Sejong dari Daejeon. Seorang biksu atau biasa dipanggil Sunim (bahasa Korea) yang bernama Hae An menyambut kedatangan kami. Beliau meminta kami semua untuk menganti baju  dengan baju seragam temple.

[caption id="attachment_332753" align="aligncenter" width="588" caption="Youngpyungsa Temple, Sejong City, Korea Selatan "]

13981498081344169765
13981498081344169765
[/caption]

Sesudah itu kami semua diajak makan siang. Sebelum program dilaksanakan kami dijelaskan bahwa selama program berlangsung kami hanya akan makan sayur-sayuran dan buah-buahan (vegetarian food). Beberapa menu yang tersedia selama makan siang adalah doenjang (seperti sayur lodeh tempe dan tahu), rumput laut, dll. Sesudah makan siang kami juga harus mencuci piring dan gelas kotor selain juga memastikan bahwa tidak ada makanan yang kami buang.

Hari Pertama: Memetik Sayur-Sayuran, Kuliah Korean Temple Food, Kunjungan ke Industri Bamboo Salt dan Makam Malam

Program pertama baru di mulai pada jam dua siang. Kami dibagi ke dalam dua kelompok untuk memetik beberapa sayuran yang berada di bukit di sekitar Youngpyungsa. Sayuran-sayuran ini akan dimasak dan menjadi bahan makan malam kami. Kami ditemani oleh seorang staf yang menjelaskan beberapa tanaman yang harus kami petik antara lain sedum, mugwort, dan lain-lain.  Petugas ini fasih berbahasa Inggris dan pernah tinggal di Singapura. Sekerang beliau sudah pensiun dan menjadi salah satu instruktur Zen di temple ini.

Menurut Yoo, Jeong Min Asisten Manager dari the Cultural Corps of Korean Buddhism yang mendampingi kami, saat ini di Korea Selatan ada kurang lebih dua ribu (2.000) temple. Tidak semua temple mempunyai program Temple Stay. Hanya ada seratus satu (101) temple yang mempunyai program ini dan dua puluh (20) yang terbuka untuk orang asing. Youngpyungsa sendiri merupakan salah satu temple yang terkenal dengan Korean Temple Food. Banyak orang datang ke sini untuk belajar temple food.

[caption id="attachment_332758" align="aligncenter" width="607" caption="Berkumpul bersama sesudah memetik sayur-sayuran"]

13981505861509884911
13981505861509884911
[/caption]

Menurut Jeong Min ada banyak tujuan orang ikut program ini seperti belajar tentang Buddha, meditasi, ataupun untuk rekreasi. Namun demikian tujuan utama mengapa orang mengikuti kegiatan seperti ini yaitu belajar mengenai budaya Korea khususnya kehidupan dan kegiatan umat Buddha Korea.

Kurang lebih dua jam kami habiskan untuk memetik sayur-sayuran sebelum berkumpul kembali untuk menikmati jamuan teh sore di sebuah ruangan yang disajikan oleh Sunim An di salah satu temple tersebut. Sambil menikmati jamuan minum teh, kami semua juga mengamati arsitektur bangunan temple di sini. Bangunan ini tidak saja indah tetapi juga mengandung unsur seni yang sangat tinggi. Saya sendiri senang dengan model pintu bangunan ini karena bisa di tarik ke samping kanan dan kiri.

Sesudah itu kami semua mengikuti kelas yang diberikan oleh Sunim Seon Jae. Beliau merupakan salah satu ahli Korean Temple Food di Korea Selatan. Adalah kehormatan bagi kami semua dapat mengikuti kelas yang diberikan olehnya. Menurutnya pada prinsipnya Korean Temple Food mempunyai karakteristik yaitu tidak mengandung daging, tidak mengandung lima (5) makanan panas seperti (leek, berambang, rocambole, scallion, dan bawang), mengandung alkohol dan beberapa bahan makanan yang membuat kita tergantung.

Selesai kegiatan ini kami semua diajak untuk melihat industri makanan tradisional yang berlokasi di Youngpyungsa yaitu Bamboo Salt atau perusahaan garam yang dibuat secara khusus dengan bambu yang dibakar. Kunjungan ini sangat menarik dan Bamboo Salt sangat terkenal di Korea karena dipercaya sangat baik untuk kesehatan. Selain itu garam ini dianggap dapat mencegah beberapa penyakit seperti kanker. Banyak orang Korea menggunakan garam ini untuk memasak.

[caption id="attachment_332759" align="aligncenter" width="600" caption="Kunjungan ke industri "]

13981507941103871670
13981507941103871670
[/caption]

Sesudah itu kami semua bersiap melanjutkan untuk makan malam. Kami semua sangat terkejut ternyata makan malam dilakukan dengan model BBQ di depan Youngpyungsa. Layaknya pesta pernikahan di luar gedung jika di Indonesia, kami semua disambut dengan berbagai jenis Korean Temple Food seperti Cilantro Salad, Rice Cake, Piperitum Leaf Pancakes, Kimchi, dan lain-lain. Semuanya disajikan dalam kemasan yang sangat menarik.

Suasana sore tersebut begitu indah. Tidak hanya karena makanannya tetapi juga karena lokasinya. Jeong Min mengatakan bahwa kegiatan seperti ini hanya dilakukan pada akhir minggu atau jika kita punya acara khusus seperti dengan rombongan kali ini. Saya sangat bersyukur dapat ikut dalam kegiatan ini karena selama lima tahun tinggal di Korea saya baru pertama kali dapat pengalaman ini. Terlebih lagi saya banyak belajar mengenai hal baru yang tidak pernah saya pernah pelajari sebelumnya.

Sesudah selesai makan malam, kami semua bersiap untuk melanjutkan diskusi malam yang dipandu oleh Sunim An. Di sini kami semua diminta untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang kami rasakan selama mengikuti kegiatan ini. Selain itu kami semua diminta untuk lebih mengenal satu sama lain dengan memberikan penilaian positip mengenai individu. Kegiatan ini seperti kegiatan retret.

[caption id="attachment_332760" align="aligncenter" width="566" caption="Suasana makan malam di depan Youngpyungsa"]

13981511842021411739
13981511842021411739
[/caption]

Baru setengah hari saya mengikuti kegiatan ini saya begitu terkesan khususnya bagaimana mereka merawat semua temple ini. Jeong Min mengatakan bahwa banyak temple di Korea menjadi national treasure dan pemerintah Korea mengelontorkan uang yang sangat banyak untuk biaya perawatan. Jika Anda perhatikan setiap Anda pergi ke temple di Korea tempatnya pasti sangat terawat, bersih, dan indah.

Kegiatan seperti ini tidak semata-semata untuk mengenalkan ajaran Buddha tetapi bagaimana kita ikut serta melestarikan budaya. Saya sangat sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Jeong Min karena tidak hanya umat Buddha yang datang ke temple tetapi banyak juga umat beragama lain yang berkunjung baik sekedar untuk pengalaman maupun untuk berwisata. Andaikan masjid atau tempat ibadah lain di Indonesia membuat kegiatan seperti ini maka akan tercipta toleransi yang lebih baik.

Tepat jam sepuluh (10) malam acara selesai dilaksanakan dan kami diminta untuk tidur. Kami semua harus tidur di lantai beralaskan tikar atau karpet. Jika kami berkenan mereka meminta kami untuk bangun pada jam empat (4) pagi untuk mengikuti Buddhist Chanting, sebuah kegiatan ibadah dengan cara meditasi. Prof. Kim dari Korea yang juga baru pertama mengikuti kegiatan ini mengajak saya untuk ikut melihat proses acara ini, sedangkan peserta lain memilih tidak ikut dan langsung bergabung makan pagi.

Hari Kedua: Buddhist Chanting, Monastery Temple Breakfast, Upacara Minum Teh dan Magoksa Temple

Sebelum jam empat (4) pagi Prof Kim dan saya sudah masuk ke Youngpyungsa temple. Suasana di dalam masih sangat sepi. Kami terlalu bersemangat sepertinya untuk mengetahui kegiatan di sini. Tepat jam empat (4) pagi seorang Sunim datang dan membunyikan kentongan untuk membangunkan orang yang masih tidur untuk pergi ke Youngpyungsa. Kegiatan seperti ini ternyata hampir sama dengan kegiatan umat beragama lain seperti Islam, Kristen, dan Katolik.

[caption id="attachment_332761" align="aligncenter" width="439" caption="Suasana makan pagi "]

1398151468517712249
1398151468517712249
[/caption]

Sesudah itu beberapa orang mulai masuk dan beribadah. Saya perhatian ketika beribadah mereka membungkukkan badan ke patung Buddha. Sebelumnya saya diinformasikan bahwa biasanya mereka bisa membungkukkan badan sampai 108 kali di temple ini. Tidak lama saya berada di dalam temple dan kemudian kembali ke kamar. Sebelum jam enam pagi saya membangunkan rombongan lain untuk melakukan makan pagi.

Makan pagi ini sangat spesial karena kami diajarkan  tata cara dan filosofi mengenai makanan yang biasa di makan Sunim dengan tata cara Monastery Temple Breakfast atau dalam bahasa Korea disebut Barugongyang. Semua peserta diberikan empat mangkok yang digunakan untuk makan nasi, sup, dan juga lauk pauk. Beberapa aturan ketat seperti tidak boleh berisik, berpikir dari mana makanan berasal, dan selalu ingat akan orang lain menjadi filosofi dalam acara makan pagi ini.

Kemudian acara dilanjutkan dengan upacara minum teh. Saya sendiri sudah beberapa kali ikut dalam upacara minum teh ini tetapi kali ini sangat menarik karena mereka membuat upacara Lotus Tea Ceremony”. Sunim WhanSung sudah menyiapkan satu mangkok besar yang di dalamnya berisi air dan bunga lotus yang sangat besar. Kemudian beliau menjelaskan mengenai filosofi lotus dan Buddha. Kami semua sangat menikmati acara tersebut. Minum teh di pagi hari tersebut membuat badan menjadi lebih segar.

1398151770938162161
1398151770938162161

Akhirnya acara selesai. Kami semua pamit karena harus melanjutkan perjalanan ke Magoksa Temple yang berlokasi di kota Gongju empat puluh menit perjalanan dari kota Sejong. Sunim WhangSung dan An mengucapkan terima kasih atas kunjungan kami semua dan berharap bahwa kami semua belajar banyak dari kegiatan Temple Stay ini. Sunim An kemudian mengantar kami semua menuju bis yang sudah siap membawa kami ke Magoksa Temple. Matahari bersinar dengan cerah ketika kami keluar dari Youngpyungsa.

Perjalanan ke Magoksa Temple sangat cepat. Sesudah sampai di sana kami disambut oleh petugas temple. Kemudian kami diajak berkeliling temple. Beliau menjelaskan mengenai sejarah temple ini yang ada sejak 1,000 tahun yang lalu. Sudah banyak  pengunjung lain yang kami temui di sini. Ternyata tempat ini juga menjadi salah satu tempat untuk Temple Stay di Korea Selatan. Yang menarik di sini adalah sudah dipasangnya lampion-lampion di hampir semua tempat. Mereka sedang bersiap menyambut acara kelahiran Buddha yang jatuh pada tanggal 5 Mei 2014.

Di depan temple ini tepatnya di paradise bridge lampion-lampion ini dipasang memanjang sejauh 30 meter. Warna-warna lampion seperti warna pelangi. Lokasi ini menjadi tempat yang paling banyak dijadikan tempat untuk berfoto oleh semua pengunjung. Selain itu pohon-pohon juga dipasang lampion. Indah sekali suasana di temple ini. Kalau boleh jujur, Magoksa adalah salah satu temple yang paling indah yang pernah saya kunjungi di Korea Selatan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun