Mohon tunggu...
Ony Edyawaty
Ony Edyawaty Mohon Tunggu... Guru - pembaca apa saja

hanya seorang yang telah pergi jauh dari rumah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pembelajaran "Self Dignity" ala Orangtua Saya

3 Mei 2021   20:00 Diperbarui: 6 Mei 2021   13:16 997
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pembelajaran self dignity ala orangtua saya (Sumber: pexels.com)

Saya masih ingat ibu saya memarahi saya habis-habisan karena ketahuan ikut makan siang di meja makan bersama keluarga tetangga.

"Kenapa kamu tidak buru-buru pulang dan bilang, saya sudah dipanggil juga oleh ibu untuk makan siang?", kata ibu dengan galak saat itu. 

Karena kejadian itu, saya jadi tidak terbiasa nikmat makan pemberian orang lain. Saya lebih suka membeli atau memasak sendiri.

Dalam berbagai acara makan bersama pun, saya tidak mengambil banyak. Rasanya kurang enak, seolah saat saya makan banyak, puluhan mata mengawasi dan menandai sikap rakus saya.

Belakangan setelah menjelang dewasa dan menua, saya baru merasakan manfaatnya. Di kantor tempat saya bekerja, ada sekelompok pegawai yang suka membawa bekal makanan yang cukup banyak dan berbasa-basi menawarkannya ke kanan dan ke kiri. Namun begitu kita mengambil tawaran itu dan memakannya, dia akan menceritakan kelakuan kita di belakang dan memberikan label si culamitan. Kalau sudah begini, saya jadi ingat pelajaran dari orangtua saya, dan tentunya sangat bersyukur.

"Berjalan kaki itu lebih baik, dibanding mengharapkan tumpangan dari siapapun. Bayar angkot atau ojek kalau punya uang, jangan mau menumpang teman. Satu lagi, jangan pinjam kendaraan orang (mobil/motor) dengan alasan apapun. Risikonya besar dan lebih baik kamu tidak bisa naik motor sampai kamu beli motor dan belajar pakai motor kamu sendiri."

Pelajaran ini begitu melekat dalam ingatan saya. Mungkin sudah tidak banyak orangtua yang mengajarkannya di zaman sekarang.

Namun setelah saya merantau dan menjadi tua, saya merasakan betapa menyebalkannya seseorang yang selalu menyindir-nyindir kita untuk memberi tumpangan, baik itu motor ataupun mobil. 

"Saat kamu memberi tumpangan pada seseorang dan ternyata terjadi kecelakaan, maka kamu juga harus bertanggung jawab pada kerugian nyawa atau cacat yang terjadi pada orang itu," begitu hal yang pernah diucapkan suami saya. Selaras dengan ajaran orangtua saya, orang yang selalu mencari tumpangan memang tidak menyenangkan. 

Saya pernah dahulu menjadi orang yang sok ramah menawarkan jok motor atau mobil saya pada teman-teman yang tidak mau berusaha belajar berkendara. Alhasil, seorang teman pernah membonceng dengan posisi kurang tepat dan terjungkal bersama saya.

Kaki saya robek dan berdarah, tentu saja enam jahitan lumayan nyeri. Motor saya rusak, sedangkan dia tidak tergores, hanya sedikit sedikit terkilir di bagian jempolnya karena tertimpa badannya sendiri. Namun apa yang terjadi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun