Mohon tunggu...
o n e t  b u r t o n
o n e t b u r t o n Mohon Tunggu... - p e l a r i t a k b e r s e p a t u -

Pedagang Kelontong. Tinggal di Denpasar Bali.

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Kayu Bicara

2 Maret 2020   15:12 Diperbarui: 2 Maret 2020   16:29 78 17 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kayu Bicara
Sumber ilustrasi: pixabay.com

Mahoniawan adalah manusia kayu yang sudah berumur lanjut. Lambaiannya paling tinggi di antara kawanannya. Mumpuni dalam segala hal. Disegani kawanannya.

Bagaimana tidak, setiap pagi dialah yang pertama kali menyambut sinar mentari. Apalagi kala hujan turun. Dia juga yang terlebih dahulu menikmati rintiknya. Menyerap air hujan paling banyak. Tentu dengan akarnya yang tangguh-tangguh. Kalau ada yang datang bertamu, dia juga yang pertama melihatnya.

Disebut manusia kayu oleh karena dia membentuk dirinya sebagai pohon kayu. Dia juga memiliki rasa. Dia bertumbuh. Memiliki keinginan-keinginan sebagaimana halnya manusia.

Dia dan kawanannya begitu setia mendampingi Pak Monas, sang manusia beton selama bertahun-tahun. Pak Monas selalu saja ramai. Selalu saja ada manusia yang mengunjunginya.

Pernah terlintas rasa iri dalam pikiran Mahoniawan. Namun segera dibuangnya jauh-jauh. Tak ada gunanya iri pada beton. Apalah beton itu. Demikian pikirannya melintas. 

"Alangkah senangnya Pak Monas. Sedemikian banyak yang menyukainya. Mungkin karena dia hanya seorang diri. Coba saja dulu Bung Karno membuat seribu Monas..dan aku cuma sendiri saja.. hehe..bisa-bisa mereka semua melirikku..." gumam Mahoniawan suatu ketika. 

Kawanan pak Mahoniawan lumayan banyak. Ada ratusan. Berkumpul berjajar membentuk sebuah taman teduh. Taman teduh yang sering dikunjungi manusia yang belum pernah menjadi kayu.

Pernah suatu ketika Pak Mahoniawan dan kawanan mempunyai tamu yang banyak. Sangat banyak. Ribuan. Bahkan manusia-manusia itu ada yang menyebut dirinya jutaan. Mahoniawan kala itu merasa geli, "Menghitung diri saja manusia-manusia itu tidak becus."

Ada kejadian lucu kala itu. "Hahaha..iih..hangat kakiku.. Wooey.. Sudah.. Sudah... Aku sudah cukup dapat aiir...," seru Mahonisari dari kejauhan. Kakinya dikencingi seorang manusia.

Menyaksikan itu, Mahoniawan hanya tersenyum kecut. Sembari meneriaki Mahonisari dari jarak tiga pohon, "Heeyy..Mahonisari..sudahlah terima saja..manusia-manusia itu lebih pintar dari kau. Kencingnya itu banyak mengandung unsur hara yang bagus buat kau. Lapisan kulit kau agar bagus dan badanmu lekas besar."

"Iya..aku paham itu. Aku mengerti itu Sinuhun Mahoniawan. Tapi aku tidak tahan melihat alat kencingnya itu..kecil namun semburannya begitu kuat..membuat geli saja..hahaha..." terkekeh-kekeh Mahonisari sambil sesekali milirik alat kencing sang manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x