Mohon tunggu...
o n e t  b u r t o n
o n e t b u r t o n Mohon Tunggu... Pedagang Kelontong. Penikmat musik \m/etal. Tinggal di Denpasar Bali.

Serta merta tandu diturunkan. "Lari Kanjeng Sunan, lari, lari dengan kaki sendiri." Dan larilah mereka, yang menandu dan yang ditandu. Dengan kaki sendiri masuk ke hutan.. [Arus Balik, PAT]

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Tusuk Sate dan Lakon Hidup

15 Februari 2020   00:55 Diperbarui: 15 Februari 2020   01:15 141 12 3 Mohon Tunggu...
Tusuk Sate dan Lakon Hidup
Sumber ilustrasi : pixabay.com

Samudji setengah tak percaya. Seorang ibu yang mengunjungi warungnya, adalah karib mendiang ibunya. Namanya Ibu Kapur. Mereka berdua pernah berjualan di pasar tradisional. Berdagang jenis barang yang sama namun berbeda tempat. 

"Saam.. Sam..melihat kau, ibu jadi teringat ibumu. Bagaimana kabarmu? Anak istrimu? Sehat-sehat ya?" ujar Ibu Kapur antusias. Tangannya menepuk-nepuk pundak Samudji. Seakan berusaha merasakan getaran sang mendiang kawan karib. 

"Iya Bu..kami sehat-sehat saja.. Semoga ibu juga sehat..." sahut Samudji dengan antusias pula sembari mencium hormat tangan sang ibu. 

Samudji memahami kalau Ibu Kapur adalah seorang ibu yang suka bercerita. Suka menumpahkan cerita masa lalu. Mungkin maksudnya agar orang yang mendengar memperoleh hikmah dari pengalaman hidupnya.

Namun kali ini rupanya Ibu Kapur lebih banyak menceritakan kawan karibnya. Mendiang ibunya Samudji yang sudah mendahului dua tahun silam. 

Sambil menyurungkan kursi, Samudji tetap mendengarkan Ibu Kapur. Sudah cukup lama dia tidak bertemu. Dia begitu menaruh hormat padanya. Seperti halnya menghormati ibu sendiri. Dari mendiang ibunya, dia tahu kalau hanya Ibu Kapurlah teman karibnya sedari remaja.

"Kau tahu Sam? Seluruh pedagang di pasar tradisional itu, mungkin cuma ibumu saja yang berhati emas. Budinya luhur dan sungguh mulia. Bicaranya halus. Tak pernah sekalipun ribut dengan pedagang lain," lancar lugas Ibu Kapur memulai.

"Ah..ibu bisa saja membuat saya senang. Ibu saya itu memang kalem bu. Bicaranya sedikit. Mungkin itu sebabnya mendiang ibu dulu malas ribut..hehe.." sahut Samudji meyakinkan.

"Begini Sam, apa adanya ibumu itu adalah berkah dari Yang Maha Kuasa. Kau percaya itu? Maksud ibu adalah bahwa selama ibumu berjualan di pasar itu, seperti lancar dan tidak ada masalah khan? Sanggup menyekolahkan empat orang anak hingga kuliah bukanlah hal yang mudah. Apalagi saat itu ayahmu bekerja pas-pasan," Ibu Kapur menarik nafas panjang. Melirik Samudji yang sedang menerawang ke luar warung seperti sedang memikirkan sesuatu.

Samudji merasakan ada sesuatu yang belum dia ketahui. Entah apa itu. Dari tutur kata Ibu Kapur menyiratkan itu. Apalagi sampai menyebut Yang Maha Kuasa. Ah dia merasakan rinding yang kuat. Rupanya dia perlu melebarkan daun telinga lagi. 

Ibu Kapur menyeruput teh hangat yang tersaji. Penganan nogosari nan lembut belum disentuh. Tuturnya bergulir lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x