Mohon tunggu...
o n e t  b u r t o n
o n e t b u r t o n Mohon Tunggu... Pedagang Kelontong. Penikmat musik \m/etal. Tinggal di Denpasar Bali.

Serta merta tandu diturunkan. "Lari Kanjeng Sunan, lari, lari dengan kaki sendiri." Dan larilah mereka, yang menandu dan yang ditandu. Dengan kaki sendiri masuk ke hutan..

Selanjutnya

Tutup

Humor

Pak Sukardi dan Kulit Pisang

2 Desember 2019   20:52 Diperbarui: 2 Desember 2019   20:58 0 13 1 Mohon Tunggu...
Pak Sukardi dan Kulit Pisang
Sumber ilutrasi:pixabay.com

Sebuah keluarga adalah bentuk terkecil dari sebuah negara. Berarti dinamika sebuah keluarga bolehlah menjadi cerminan dinamika dari sebuah negara. Sampai di sini sepertinya baik-baik saja. Bisa diterima.

Keluarga Bapak Sukardi dikenal luas di kampung pesisir itu. Di sebuah kota kabupaten yang dikelilingi laut. Bapak Sukardi sendiri adalah seorang pegawai rendahan di kantor kelurahan setempat. Isterinya membuka usaha kecil-kecilan. Warung kelontong yang juga menyediakan kebutuhan dapur. 

Mereka juga memiliki tempat yang disewakan. Ada empat tempat dengan bangunan semi permanen. Beralaskan pasir semen rabatan dan beratapkan asbes. Pak Sukardi membangunnya saat si sulung masih SMA. "Untuk menyokong anak-anak kuliah," katanya saat itu.

Hebatnya lagi Pak Sukardi memiliki lima gerobak sampah. Mempekerjakan lima orang. Setiap hari mengambil sampah rumah tangga di seputaran kampung. Setiap bulan setiap rumah tangga membayar sejumlah rupiah. Hasil tambahan lain juga berupa penjualan sampah non organik dan organik ke pengepul barang bekas. Hasil dari itu semualah yang dipergunakan untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga.

Pendidikan empat orang anak-anaknya terbilang bagus. Paling sulung sebentar lagi akan menyelesaikan kuliahnya di ibukota. Putra keduanya baru memasuki tahun kedua masa kuliah. Yang nomer tiga sedang duduk di kelas tiga SMA. Sementara si bungsu sudah kelas satu SMA di sekolah yang sama. Sekolah favorit di kota itu.

Ucapan rasa syukur selalu terpanjatkan oleh Pak Sukardi dan Isterinya. Bagaimana tidak, mengasuh dan membiayai empat orang sekaligus adalah sebuah tantangan. 

Mereka menikmati tantangan itu dengan baik. Di saat berat mereka nikmati dan lalui dengan baik. Di saat ringan mereka juga menikmati dengan awas. Karena mereka selalu waspada, masa ringan akan cepat berlalu. Masa berat selalu mengintai. 

Beruntung anak-anaknya juga turut memahami situasi dan kondisi keluarga. Tidak pernah sekalipun keluarga itu terlihat berfoya-foya. Makanan keseharian pun sudah cukup dari apa yang disiapkan oleh sang ibu di meja makan. Nongkrong di gerai makanan impor di simpang jalan besar adalah hal yang tabu bagi keluarga itu.

Itulah sepenggal potret kisah hidup keluarga Pak Sukardi. Kesan yang tertangkap, bahwa Pak Sukardi berusaha sekuat kemampuannya untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Hasil dari gaji sebagai pegawai kelurahan, hasil dari warung kelontong, hasil dari pengelolaan sampah juga hasil dari penyewaan tempat usaha. Sejauh ini sanggup memenuhinya. 

Juga dalam kehidupan bermasyarakat Pak Sukardi terkenal dermawan. Seorang yang sosial, ramah dan berhati baik. Tak ayal dengan kemampuan pengelolaan keluarga tersebut, Pak Sukardi dikenal luas di kampung itu. 

Nah Lantas Negara Bagaimana? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x