Mohon tunggu...
o n e t  b u r t o n
o n e t b u r t o n Mohon Tunggu... Pedagang Kelontong. Penikmat musik \m/etal. Tinggal di Denpasar Bali.

Serta merta tandu diturunkan. "Lari Kanjeng Sunan, lari, lari dengan kaki sendiri." Dan larilah mereka, yang menandu dan yang ditandu. Dengan kaki sendiri masuk ke hutan.. [Arus Balik, PAT]

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Balada Samudji [4] Plastik Oh Plastik

4 November 2019   11:21 Diperbarui: 4 November 2019   15:23 90 14 3 Mohon Tunggu...
Balada Samudji [4] Plastik Oh Plastik
pixabay.com

Anas sedari tadi memperhatikan Samudji yang sedang memasang selembar kertas karton putih. Berisi tulisan. Sepertinya ditulis sendiri. Dia masih ingat gaya tulisan bekas kawan SD-nya itu.

Kertas karton berukuran folio. Dipajang dekat meja kasir. Mudah terlihat dan menarik pula. Tulisannya berwarna warni.
"Tidak Menyediakan Kantong Plastik. Kantong Plastik Dilarang.
Bawalah Kantong Sendiri."

Paling bawah tertera peraturan wali kota setempat. Lengkap beserta nomernya. 

"Waah..rupanya sudah tidak boleh pakai tas kresek ya..?" Anas memecah keseriusan Samudji. 

"Oh.. Kau bro.., iya bro..orang-orang sudah mulai kewalahan."

"Kewalahan bagaimana maksudmu?" Anas mencoba serius. 

"Plastik-plastik itu khan dibikin oleh manusia. Diolah oleh manusia. Awalnya bagus. Terasa manfaatnya. Lama kelamaan, saking banyaknya dan sialnya, akhirnya diketahui plastik tidak mudah terurai. Memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun agar terurai. Apa tidak parah tuh?" Samudji menjelaskan dengan bersemangat. Agar kawannya itu paham.

"Iya benar juga. Aku dengar juga seperti itu," Anas mengiyakan. Kalimatnya berlanjut, "Tapi kalau sudah seperti sekarang mau bagaimana lagi..?"

"Sebetulnya mudah. Hentikan saja produksi plastik. Beres!  Case closed! Tetapi apakah itu akan terjadi? Aku tidak yakin." Kali ini Samudji menerawang.

Pandangannya terlihat hampa namun padat berisi. Anas suka melihat kawannya itu menerawang. Dia sadar akan mendapat ilmu baru. Pengetahuan baru. Dia harus mendengarkan. Dia menunda pulang. Garam beryodium pesanan ibunya masih dalam genggaman. 

Samudji lanjut menumpahkan isi terawangannya. Mumpung Anas masih mau mendengar. Dia yakin tumpahannya akan ditelan tak bersisa oleh Anas.

"Kau ingat jaman dulu? Jaman sebelum ada peradaban? Saat itu manusia bumi hanya mengenal beberapa unsur yang terkandung di alam ini. Unsur yang diyakini saat itu pun masih global. Kau tahu unsur?" 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x